Skip to main content

Posts

HEADLINE

Mojok dengan Para Santri Penulis di #MadrasahLiterasi MA Darut Taqwa Pasuruan

Hal yang paling saya rindukan adalah santri-santri yang gemar menulis. Sebab, kebanyakan berpotensi. Mulai dari novel-novel cetar membahana melanglang buana ala Kang Abik dengan Ayat-Ayat Cinta yang pernah booming di awal tahun 2000-an lalu, hingga penceritaan detil dan runtut khas jurnalis oleh A. Fuadi dalam Tiga Menara. Novel-novel tersebut adalah sedikit dari karya-karya fiksi yang mampu mendobrak sastra yang cenderung monoton dengan karya-karya sebelumnya. Fiksi ini biasa disebut sebagai fiksi islami. Dikemas dengan penceritaan indah khas nilai-nilai keislaman. Ternyata, fiksi islami mampu menjadi salah satu pilihan penulisan untuk para penulis fiksi. Apalagi jika santri yang menulis. Tentu saja lebih baik, karena pengetahuan agama jelas berbeda dengan penulis fiksi lainnya. Belum lagi pengalaman sebagai santri, berkutat dengan lingkungan pondok, kitab-kitab kuning, wejangan-wejangan kyai, ragam aturan dan disiplin yang harus dipatuhi. Dan banyak hal lainnya, yang tentu saja hany…
Recent posts

Lelaki Penakluk

Lelaki itu kembali menyembunyikan senyumnya.Ini sudah kali ke sekian dia disambut secara berlebihan di rumah seseorang yang baru saja dia kenal. Bahkan kali ini mungkin terlalu.Di hadapannya terhidang secangkir mint tea dengan brownies kukus yang lezat. Kemudian semangkuk buah-buahan segar yang ditata demikian unik. Ada juga kudapan lain yang tak kalah nikmat.Dia menyandarkan punggungnya. Siapa yang tidak terpikat dengannya? Gumamnya dalam hati. Dia nyaris sempurna.

Istanbul Love Story

Novel ini sudah terbit di Google Playbook, search saja dengan mengetik keyword Puspita RM 

"Dahaçok şükredersen, daha çok mutlu olursun. Daha çok sabredersen, daha çok şanslı olursun (semakin kamu bersyukur, maka keuntungan akan menghampirimu)," Ulusoy Catagay memacu kapal ferinya di tepian Laut Marmara. Menyenandungkan pepatah kuno sembari menghibur diri. Ia harus berpatroli di sekitar Selat Bosphorus, dan Laut Marmara dalam cuaca buruk. Jika tidak bisa menyemangati diri, bagaimana jadinya?Hawa dingin mulai menghempas buritan, mengantarkan aroma kematian. Ya, kematian untuk mereka yang tidak siap menyambut musim dingin. Catagay tersenyum penuh ironi. Lautan selalu berbau amis, bergelombang, dan tampak terlalu luas.Siang ini ia melihat beberapa kapal lalu lalang di Laut Marmara. Semua tampak normal terkendali. Tidak ada yang aneh. Kapal-kapal berlayar sesuai dengan jalur resminya, feri-feri kecil berlalu dengan kecepatan terkendali, beberapa turis yang terkadang melakukan per…

Malam Pertama Lara

Lara Lembayung berjingkat pelan turun dari tempat tidur. Kakinya yang jenjang menapak dengan hati-hati di atas lantai parket. Suara derit kayu pelan terdengar. Lara meringis. 

Ia menoleh ke samping. Lelaki itu masih terlelap. Matanya masih rapat terpejam. Dadanya yang telanjang naik turun dengan napas teratur. 

Lara berhenti sejenak. Ia menatap lelaki itu dengan cermat. Seolah tak ingin kehilangan pesonanya. Lagi pula, siapa yang tidak terpikat? Cahaya samar kekuningan dari lampu tidur di sisi ranjang memperjelas setiap detil wajahnya. Rahang tegas, dengan hidung kukuh serta bibir tipis yang menggoda.


Tujuh Kisah Horror Edgar Allan Poe Ini Bakal Sukses Bikin Jantungan!

Entah apa yang merasuki saya.

Seminggu yang lalu, saya dan si kecil—yg baru 3 tahun, memutuskan menghabiskan siang yang panas di sebuah perpustakaan daerah.
Perpustakaan ini terletak di dalam area kantor kecamatan. Tentu, bangunannya tak sebesar perpustakaan di kampus saya dulu. Jauh lebih mungil dengan buku terbatas.
Namun, buku terbatas ini rupanya sangat layak dibaca, karena buku-bukunya selalu ada yang baru. Hehe, kayak motto surat kabar itu.

Karena Mendoakan adalah Cara Paling Rahasia untuk Mencintai

Tapi, jendela kecilnya yang dihiasi kelambu tipis terkuak. Sepasang mata sebening berlian menusuk jantung Syamsidar. Itu adalah tatapan mata terindah yang pernah dirasakannya. 

Etalase Perempuan

Sebuah gaun tipis berwarna hijau menyala dengan tali-tali kecil telah diletakkan ibunya di atas dipan.

Hari belum senja benar.  Matahari masih tampak menyilaukan. Tapi, rumah-rumah susun yang berjajar padat di gang-gang sempit itu sudah mulai membuka pintu dan jendela, mencoba menawarkan sesuatu. 
Sesuatu yang menurutnya adalah sejenis perpaduan monoksida dan karbondioksida yang menyeruak busuk di tengah-tengah metropolis Surabaya. 
Ia tahu hanya dia satu-satunya penghuni Aster yang berpendapat  demikian. Tidak dengan yang lainnya. Apalagi ibunya, kakaknya, ataupun bibinya. Mereka semua sama. Seperti kebanyakan perempuan di tempat ini.
Jika hari sudah mulai gelap, perempuan-perempuan itu bangkit dari tempat tidur, menyisir rambut yang kusut,  mengukir alis, memakai foundation, menepuk bedak di pipi, menyapukan eye shadow, mascara,blush on, dan mengakhiri ritual itu dengan memoles lipstick merah darah yang selalu saja tampak mencolok. 
“Agar terlihat seksi,” itu rata-rata alasan mereka, jika…