Courtesy @fatihseferagic (Facebook FansPage)

 Secara menakjubkan dalam tempo yang singkat yaitu 3 tahun, Fatih kecil telah menuntaskan hafalannya. Hal yang luar biasa untuk bocah seusianya. Apalagi Fatih hidup di Houston, Texas.


Dari Jerman ke Amerika

            Udara masih saja menggigil saat keluarga Seferagic memutuskan untuk membawa anak mereka yang masih berusia 4 tahun ke bandara. Sebenarnya, sang ibu—seorang muslimah berkebangsaan Bosnia, berkerudung, namun berkulit putih dan bermata biru—masih betah tinggal di Jerman. Namun, suaminya meminta dia dan anaknya untuk mengikutinya ke Amerika Serikat.

            “Kamu yakin bisa hidup di negeri itu, Sayang?” Tanya sang istri cemas.

            “Insya Allah, ini lebih baik dari di Sturtgartt.”
       
       “Bukankah Amerika terkenal sebagai nerara yang sangat bebas? Di sana tidak ada aturan tertentu mengenai kehidupan. Bebas sebebas-bebasnya.”

            Suaminya memandang dengan lembut, “Walaupun di sana tidak ada adzan, jarang terdapat masjid seperti di Bosnia, ataupun masyarakatnya sangat bebas. Kita akan berjuang agar anak kita mendapatkan pendidikan terbaik di sana.”

            “Pendidikan terbaik bagaimana?” Sang istri masih saja ragu.

            “Kita akan mencarikannya sekolah Islam terbaik. Aku sudah mencari-cari di internet. Ada komunitas Islam yang baik di Baltimore, di sana nanti Fatih akan belajar dengan baik. Tenanglah, Sayang. Kita sudah pernah melewati masa-masa terburuk di Bosnia, lalu di Jerman. Kita akan menang di Amerika nanti. Fatih akan menjadi muslim yang baik.” Panjang lebar sang suami menjelaskan.

           Perempuan berkerudung itu menghela nafas panjang, mencari ketenangan dalam dirinya. Tidak mudah memang menjadi seorang imigran. Namun, Bosnia sejak penyerangan Serbia, dan peristiwa pembantaian muslim, ia merasa Bosnia tidak lagi aman untuk calon putranya.

     Kepindahannya ke Stutgartt, Jerman adalah untuk melahirkan dan memulai hidup baru. Bagaimana mungkin bisa hidup dengan tenang di Bosnia? Tanah Bosnia telah terkoyak-koyak sedemikian rupa karena invasi Serbia. Bagaimana mungkin ia melupakan pembantaian di Sebrenica?

   Ia masih sangat jelas mengingat, bagaimana kondisi Bosnie pada bulan April 1993, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapan Sebrenica sebagai zona aman. Tidak ada yang boleh mengangkat senjata di daerah itu termasuk Muslim Bosnia, meskipun itu adalah wilayah mereka. Tapi pasukan Serbia yang sejak awal mengincar wilayah itu tidak mau mematuhi ketentuan PBB.
Puluhan ribu orang Bosniak (sebutan untuk etnis muslim Bosnia) berkumpul di pos kemananan PBB yang dikawal Dutchbat (tentara Belanda) di Potocari, Srebrenica, untuk mencari perlindungan dari serangan tentara Serbia pada 11 Juli 1995. Pejuang-pejuang Muslim Bosnia tidak bisa melawan, karena persenjataan mereka telah diserahkan kepada pasukan PBB, sebagai tanda kepatuhan atas ditetapkannya Srebrenica sebagai zona aman yang dilindungi PBB. Dan pasukan PBB tidak mau memberikan kembali senjata itu kepada pejuang Muslim.
Dengan alasan kekurangan personil dan persenjataan, serta tidak ada dukungan pasukan udara dari markas mereka, Dutchbat membiarkan pasukan Serbia masuk ke Srebrenica dengan persenjataan lengkap. Pasukan Belanda dibawah komando Kolonel Karremans memilih mundur, meninggalkan begitu saja warga Muslim Bosnia yang mencari perlindungan. Nyawa 30 ribu Muslim yang berlindung ditempat mereka ditukar dengan 13 personil Dutchbat yang ditahan VRS.
Pasukan Serbia, termasuk panglima tertinggi VRS Jenderal Ratko Mladic—yang kemudian dikenal sebagai penjahat perang—membagi-bagikan permen, makanan kecil dan rokok kepada orang Bosniak yang berlindung di pos PBB itu. Mereka kemudian dipisahkan antara laki-laki dari perempuan.
Hanya dalam beberapa hari kemudian mata dunia terbelalak, mendengar ribuan pria dan anak laki-laki Muslim telah dibantai pasukan Serbia.
Sejarah mencatat pembantaian di Sebrenica terjadi sampai 22 Juli 1995. Namun orang-orang yang lolos dari maut mengatakan bahwa pembantaian terus berlangsung lama, hingga ke daerah pegunungan. Sebanyak 30 ribu muslim terbunuh, sedangkan 20 ribu perempuan muslim lainnya diperkosa secara sistematis.
Innalillahi wa inna ilaihi raa ji’uun. Inilah sebab tersendiri mengapa ia dan suaminya memilih menjadi imigran. Menyelamatkan keluarga mereka dari pembantaian dan invasi Serbia. Hingga menyeretnya menuju Jerman. Tidak berapa lama, kini ia, si kecil Fatih, dan suaminya sedang menunggu pesawat dari Texas.
Ia menatap Fatih kecil yang tampak asyik bermain lego. Matanya basah. Dalam hati ia berdoa dalam, agar Fatih menjadi muslim yang baik. Walaupun ia harus tinggal di negeri Paman Sam, yang menjunjung tinggi secara berlebihan kehidupan yang bebas.
Tetapi, di atas segalanya ia bersyukur Fatih bisa lahir di Jerman, tanpa harus merasakan pahitnya hidup di Bosnia. Semoga saja keluarga besarnya selalu dilindungi Allah.
Hari-Hari di Houston
            Menjalankan kehidupan sebagai seorang muslim di Amerika cukup berat. harus lebih berhati-hati dalam menjaga pakaian, makanan, ataupun pergaulan. Sebab itu, ibu Fatih sedari kecil sudah memahamkannya bahwa mereka tidak memakan makanan yang haram.
            Fatih yang terlihat ramah dan banyak teman, membuat teman-temannya terkesima. Ketika ia masih berumur 7 tahun ia menjelaskan kenapa mereka tidak diperbolehkan memakan makanan yang haram.
            “Aku, maksudku kami muslim, memang tidak dilarang untuk mengkonsumsi makanan yang haram. Kalian tahu, aku tidak makan babi, ataupun sembelihan yang bukan disembelih atas nama Allah. Jadi, aku tidak bisa mengkonsumsi makanan ini.”
            Sesuai dengan permintaan ibunya, sang ayah pun mengenalkan Fatih sedari kecil terhadap Islam. Di Baltimore, terdapat sebuah yayasan muslim yang dikenal dengan Islamic Society of Baltimore. Yayasan itu cukup besar, sehingga beberapa lini di bawahnya seperti Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), rumah sakit, masjid, dan lain-lain.
            Saat itu, Fatih masih berusia 9 tahun dan telah melewati beberapa tahun di Amerika. Walaupun menjadi minoritas, namun Fatih sangat mudah bergaul. Penampilannya yang khas anak-anak kulit putih membuatnya mudah diterima di segala tempat.
            Walaupun demikian, keluarga Fatih sangatlah memerhatikan kondisi keimanan anaknya, mereka secara rutin berjama’ah. Mengaji bersama, hingga seringkali membawa Fatih ke masjid besar di Baltimore.
            Fatih kecil selalu antusias saat mengikuti shalat berjamaah. Ia ingin seperti ayahnya yang selalu shalat dengan khusyuk. Saat itu ia memutuskan sesuatu yang membuat ibunya menangis.
            “Ibu, sepertinya Qur’an Class di masjid Ar-Rahmah cukup menarik. Aku sangat menyukai para pengajarnya.”
            “Ohya, alhamdulillah jika begitu.” Sang ibu menatap anaknya dengan bangga. Lalu melihat sebuah earphone di samping ponselnya.
            “Kamu mendengarkan apa, Fatih?” Sang ibu yang terkenal sangat protektif dan tidak menginginkan anaknya bergaul bebas nampak khawatir.
            “Aku mendengarkan Sudais.”
            “Sudais?”
            “Imam Sudais, Ibu. Imam besar Masjidil Haram.” Lancar sekali bibir Fatih menjelaskan.
            “Aku sangat menyukai makharij-nya. Luar biasa fasih dan sangat menyentuh hati.”
            Sang ibu menatap kaget, “Kamu suka mendengar bacaan Al-Qur’an?”
            “Iya, tentu saja. Bukankah di sekolah aku belajar itu juga.”
            “Kamu ingin menghafal Al-Qur’an, Fatih? Seperti anak-anak muslim di negeri mereka?” Cecar sang ibu dengan nada bahagia.
            Fatih dengan wajahnya yang lucu dan tampan menganggguk, “Ya. Aku ingin sekali bisa menghafalkan Al-Qur’an. Bagaimana, Bu? Aku ingin masuk Hifdz Class Program.”
            “Tentu. Bukankah selama ini kamu juga sering menghafal Al-Qur’an?”
            “Ya. Tapi, aku ingin program khusus, Bu.”
            “Ibu sangat mendukungmu, Nak.” Sahut sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca.

Menghafal Al-Qur’an di Negeri Paman Sam
            Fatih sangat menyukai aktivitasnya di masjid Ar-Rahmah, Baltimore. Ia sejak kecil memang seringkali diajak oleh orang tuanya mengunjungi masjid. Ikut shalat berjamaah, walaupun ketika kecil ia masih sering bermain-main saat ke masjid.
            Ketika ia sudah masuk di bangku sekolah dasar, Fatih di sela-sela kesibukannya tetap menghafalkan Al-Qur’an di bawah bimbingan Syaikh Qari Zahid, dan juga Syaikh Qari Abid.
            Secara menakjubkan dalam tempo yang singkat yaitu 3 tahun, Fatih kecil telah menuntaskan hafalannya. Hal yang luar biasa untuk bocah seusianya. Apalagi Fatih hidup di Houston, Texas.
            “Ayah, Ibu. Besok aku akan melewati ujian hifdz program di Ar-Rahmah. Maukah kalian datang?”
            “Tentu.” Sahut sang Ayah bangga.
            “Kamu sudah hafal seluruh Al-Qur’an, Fatih?” Ibunya menatap tidak percaya.
            “Iya. Besok aku akan diuji di depan Syaikh Qari Zahid, dan juga Syaikh Qari Abid. Maukah kalian ke sana?” Mata bening Fatih mengerjap.
            “Iya, Sayang. Kami akan ke sana, tentu saja.”
Menjadi Penghafal Termuda di Amerika
            Saat itu, Fatih kecil telah berusia 12 tahun. Walaupun masih bocah, namun jelas sekali jika banyak yang menyayanginya.
         Ujian itu ternyata berada di ruang khusus Hifdz Program Baltimore. Setelah Fatih kecil membaca beberapa juz. Ia diminta meneruskan ayat-ayat yang dibaca oleh Syaikh penguji. Demikian seterusnya. Hingga Fatih kecil nampak lelah. Saat istirahat pertama, ayahnya membawakan burger halal buatan ibunya yang sedang shalat. Hingga akhirnya ujian Hifdz Program telah usai.
           Betapa senangnya Fatih, karena ia menjadi penghafal Al-Qur’an termuda di Amerika Serikat. Berkat ketekunan, dan kesungguhannya mencintai Al-Qur’an. Selain itu, hal ini telah menghapus keraguan orang tuanya, bahwa walaupun mereka tinggal di negeri non muslim, mereka masih tetap dapat mendidik anaknya dengan ajaran sesuai syariat Islam.
Idola Baru Remaja Muslim di Dunia
            Beberapa waktu pun berlalu, Fatih Seferagic telah berusia 17 tahun. Penampilannya yang terbilang gaul, dan keren sama sekali tidak menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang hafidz Al-Qur’an. Namun, saat kita mendengarkannya mengimami jama’ah shalat. Subhanallah, semoga keberkahan selalu menyertainya setiap saat.
            Kini, di sela-sela kesibukannya, ia mengajar Al-Qur’an, dan juga melanjutkan belajar. Wajahnya yang mirip dengan salah satu bintang di Twilight semakin banyak menarik perhatian. Saat ini, Fatih telah menjadi buah bibir remaja Islam di seluruh dunia.
            Fatih juga membuka kelas jarak jauh untuk mengajar Al-Qur’an lewat Skype, namun sayangnya belum menerima murid dari Indonesia. Sebab, perbedaan waktu yang ada. Ia mengkhawatirkan jika masih saja diteruskan, murid-muridnya akan kesusahan mengkuti jadualnya. Untuk membumikan syiar dakwah Islam dan Al-Qur’an, kita dapat menghubungi Fatih di FP Facebook, Fatih Seferagic, dan di Twitter fatihseferagic.
            Fatih yang tampan ini telah mengilhami banyak remaja untuk dapat lebih mencintai Al-Qur’an. Coba kita simak bagaimana Fatih memberikan komentar mengenai kecintaannya terhadap Al-Qur’an.
        “Jika kamu membaca beberapa lembar Al-Qur’an, maka kamu akan merasakan keajaiban. Lembar demi lembarnya telah lama membuatku terkesima. Semakin lama, aku semakin mencintainya. Bacalah dengan hatimu, kamu akan merasakan hal tersebut.”
     Fatih yang juga mengunggah videonya di Youtube, banyak menarik perhatian. Betapa istimewanya keimanan, sehingga ia yang hidup di Amerika, masih terjaga di dalam lindungan Allah. Menjadi imam masjid besar di Baltimore dalam usia sangat muda. Di saat remaja seusianya masih asyik dengan sikap uga-ugalan dan tidak mengerti tujuan hidup.
         Sungguh, kita perlu banyak belajar dari Fatih Seferagic. Keajaiban Allah di negeri Paman Sam.




Jika perempuan sudah tak memiliki mahkota lagi. Tak punya rasa malu pula. Apa lagikah yang akan dibanggakan?

Bagaimanapun, masa lalu adalah bagian dari hidup kita.
(foto Pixabay)
Sore ini saya betul-betul kaget. Tak bisa berkata apa-apa. setelah seharian berbagi bahagia dengan merayakan Ied Adha bersama keluarga. Entahlah, tetiba deringan telepon di ponsel suami saya mengaung-ngaung. Menginterupsi waktu bahagia itu.

Satu kali deringan.
Dua kali.
Tiga kali.
Empat kali.
Tidak kunjung diangkat juga oleh suami saya.

Hingga sepotong pesan pendek muncul dari layar ponsel suami saya, “Aku ke sana sekarang ya. Ini penting banget.”
Dari seorang perempuan bernama anggap saja Bu Banda. 

Ini adalah salah satu relasi bisnis suami saya. Saya mulai menebak kenapa suami saya mengacuhkan telepon itu. Bisa jadi Bu Banda ini menanyakan kesiapan seorang ikhwan yang bulan lalu melakukan pra ta’aruf terhadap putrinya.
Tentu saja didampingi suami saya. 

Si Ikhwan ini seorang wirausahawan dan telah mencapai usia mapan. Sekitar 32 tahunan. Sementara putri dari Bu Banda ini berusia sekitar 24 tahun. Rasanya sudah klik. Putri Bu Banda ini adalah mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi keguruan. Mengisi hari-harinya dengan kuliah dan memberi les privat.

Nah, ideal banget kan? Selain aktivis pengajian, Bu Banda dan suaminya termasuk orang terpandang di sebuah ormas masyarakat di daerah kami. Lalu apa lagi yang membuat ikhwan X ini terkesan maju mundur?

Apakah Ikhwan Selalu Dihinggapi Rasa Ragu?

Penyakit lama ikhwan kebanyakan memang melihat secara visual. Oke lah mereka mengatakan akan mengukur kesiapan seorang akhwat dari sisi spiritualitas. Tapi, kebanyakan teori itu akan jatuh berdebum ketika dihadapkan dengan akhwat yang berpenampilan tidak menarik, berfisik biasa saja, dengan penghasilan dari kerjanya yang kecil.

Benar. Memang begitu yang banyak saya temui. Walau tidak semua demikian. Ada memang yang sangat cepat memberi keputusan dengan langsung mengatakan “Iya, saya mau sama akhwat ini.” Kalau si akhwat berkulit putih, wajah cantik, dan terkesan lemah lembut. Selainnya?

Oh, saya lupa melihat mukjizat ada yang begitu mudah dita’arufkan dengan nilai dan ukuran agama.
Maka, akhwat-akhwat yang tidak memiliki penampilan kinclong akhirnya harus pula tereliminasi sedemikian. Tapi, memang tidak semua.

Nah, ikhwan X ini saya curigai memiliki kecenderungan harus berjodoh dengan akhwat cantik. Kok, lama banget mengatakan serius dan maju pada tahap selanjutnya. Setelah saling membaca formulir dan bertemu muka. Ada apakah gerangan?

Sampai-sampai ibu dari ikhwan X ini curhat, kenapa putranya kok susah banget mencari jodoh. Mereka khawatir umur ikhwan X ini akan bertambah terus, dan karena keasyikan bekerja jadilah tak terasa kalau sedang membujang.

Masa Lalu Itu Mengagetkan Saya

Ternyata, oh ternyata bukan karena itu.
Ikhwan X ini ragu karena mendengar pengakuan dari putri Bu Banda. Yah, putri Bu Banda ternyata adalah seorang janda dengan satu anak. Dan ini dirahasiakan! 

Setelah pertemuan ta’aruf yang kesekian baru terungkap. Jarang sekali yang tahu hal ini. Akibat pergaulan yang kelepasan di awal kuliah dulu, hingga harus dinikahkan, walau kemudian bercerai kembali setelah memiliki anak. Si anak ini kini diasuh oleh Bu Banda.

Ini yang tidak pernah diungkapkan oleh putri Bu Banda pada kami. Pada mak comblangnya. Pada perantaranya. Aih, saya shock.

Bagaimana pun ukuran kesucian itu adalah hal yang penting walaupun mungkin untuk beberapa orang tidaklah demikian. 

Tapi, kenapa putri Bu Banda ini sampai kelepasan pacaran kemudian bisa bergaul bebas? 

Hingga harus menikah karena akan memilik bayi? 

Kemudian bajingan yang menghamilinya ini lari tak tahu rimbanya.

Aduh, sedih banget saya mendengarnya.

Miris. Kalau pacaran dan pergaulan bebas tidak berimbas negatif. Lihatlah ini, Ladies? Tak cukupkah fakta-fakta telanjang ini?

Sama seperti saat saya dulu mengabsen nama siswi di kelas. Yang kemudian saya tahu tak masuk lagi gara-gara harus menikah karena hamil duluan. Hancur langsung hati saya. Dan itu tidak satu atau dua kali. Bisa berkali-kali dalam sekian tahun, sekian bulan.

Padahal, mungkin kami—para guru—memang terlalu cerewet untuk mengingatkan mereka agar menjaga diri. Menyayangi diri sendiri dari serigala berbulu domba.

“Takutlah Allah, Nduk. Takutlah dosa. Minimal, kalau bukan kalian yang menghargai diri kalian dengan baik, siapa lagi kalau begitu?”

Begitu kata saya berulang-ulang. Di depan kelas. Di akhir pelajaran. Dengan ending penutup kisah-kisah pilu pergaulan bebas, dan pertolongan Allah bagi siapa saja yang menjunjung syariat-Nya.

Hingga kemudian kejadian itu saya temukan kembali sore ini. Saya tak bisa berkata-kata lagi. Jikalau ikhwan X tidak kunjung melanjutkan ta’aruf ini walaupun Bu Banda, dan putrinya begitu berharap, saya tak akan kaget lagi.

Saat Bu Banda bercerita masa lalu putrinya dengan berurai air mata. Kami tak bisa menjawab bagaimana. Kami ingin menghibur Ibu yang mungkin hatinya sudah redam akibat perbuatan putrinya di masa lalu.

Hanya saya tak bisa bicara apa-apa. Tidak untuk saat ini. []




Setiap pergantian waktu, dan beralihnya tanggal menjadi muda, kemudian menua, maka harapan pun akan bergulir. Pun demikian dengan kita. Saat tahun beralih dan detik jam tidak lagi dapat ditahan lajunya, keinginan dan cita-cita baru pun kembali diwujudkan.  Hal ini adalah sesuatu yang manusiawi. Sebab, setiap orang dianugerahi kemampuan dan keinginan untuk menjadi lebih baik lagi.

Menjadi Pribadi yang Unggul

Layaknya seseorang yang ingin mendirikan bangunan indah dan kokoh, maka diperlukan perencanaan yang matang dan tertarget. Demikian halnya, sebagai muslimah yang mengabdi kepada Allah subahanahu wa ta’ala dan Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam. Kita memerlukan resolusi atau rencana agar memiliki kepribadian, dan keimanan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


Perlu komitmen dan kerjasama. (Pixabay)


Seorang yang memiliki target dan resolusi dalam hidup, berarti ia memiliki tujuan yang jelas. Ia akan bersemangat mencapainya. Misalnya saja resolusi untuk menghafal satu hari satu ayat secara rutin. Sekaligus mengetahui kandungan setiap ayat yang dihafal. Jika terus dilakukan, maka bukan hal yang mustahil kelak ia bisa menjadi seorang penghafal Al-Qur’an dan memiliki kemampuan memahami ayat-ayat Allah dengan sangat baik.

Berbeda halnya dengan yang memiliki tujuan namun tidak membuat sebuah resolusi turunan untuk mewujudkan keinginannya tersebut. Biasanya, semangatnya akan cepat memudar. Kurang memiliki komitmen, dan tidak terpacu untuk meraih cita-citanya.

Resolusi Dunia Akhirat

Menetapkan sebuah resolusi merupakan hal yang mudah. Namun, seringkali terkendala di tengah jalan. Hal ini biasanya diakibatkan banyaknya halangan, dan kurang fokus pada tujuan. Sebab itulah, membuat resolusi sebaiknya berorientasi jangka panjang. Tidak mengapa misalnya memiliki resolusi mempunyai kendaraan roda empat untuk tahun ini, namun cantumkan juga bahwa kendaraan itu juga untuk mendukung kelancaran kita dalam berdakwah.

Dengan demikian, resolusi yang kita wujudkan menjadi kebaikan yang bisa memberatkan timbangan amal kita kelak di Yaumil Akhir.

Bagaimana cara menetapkan resolusi dunia dan akhirat? Misalnya saja, seorang ibu ingin menjadi mompreuner dengan membuka usaha di rumahnya. Hal ini sudah merupakan resolusi yang baik, namun jika ditambah menjadi usaha yang mempekerjakan orang-orang berkebutuhan khusus, akan menjadi lebih sempurna karena mengandung nilai kebaikan akhirat.

Resolusi yang hanya bersifat duniawi biasanya sifatnya pendek dan tidaklah kekal. Hal ini seperti yang tercantum di dalam Surah Asy-Syu’araa ayat 20 berikut.

“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan padanya sebagian dari keuntungan di dunia, dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.”

Langkah Merancang Resolusi

Sebelum membuat dan menetapkan sebuah resolusi, kita harus mengenali siapa diri kita, sifat, keinginan, sekaligus kekurangan kita. Hal ini bertujuan agar resolusi yang dicapai bisa proporsional. Tidak overestimate dan dan tidak pula underestimate.

Seseorang yang belum mengenali siapa dirinya, pasti akan kesusahan untuk merancang resolusi jangka pendek dan jangka panjang. Orang yang seringkali menerjemahkan bahwa dirinya lemah akan membuat resolusi yang cenderung underestimate. Sedangkan yang memandang dirinya super dan serba bisa, maka akan membuat resolusi yang cenderung overestimate.

Padahal, resolusi yang dibuat sebaiknya proporsional dan bisa dicapai dengan kemampuan terbaik diri sendiri. Tidak berlebihan dan tidak juga kurang visi.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk membuat resolusi adalah; pertama,  menetapkan hal yang ingin dicapai dan ditinggalkan, kedua, tidak ikut-ikutan dalam membuat resolusi, ketiga, resolusi harus bernilai dunia dan akhirat, keempat, sedikit saja namun bisa dicapai dengan baik, kelima, beri standar dan batasan waktu untuk mencapainya, keenam, lakukan evaluasi berkala, ketujuh, selalu fokus dan memperbarui semangat, dan kedelapan, perbanyak doa dan juga istighfar.

Fokus pada Resolusi

Setelah membuat resolusi ada beberapa hal yang perlu dihindari agar resolusi yang telah kita rancang tidak semata hanya di atas kertas saja. Sebab, kebanyakan kegagalan untuk mewujudkan resolusi adalah lemahnya tekad, sehingga tahun pun berganti tanpa adanya perubahan yang berarti.

Pertama, singkirkan segala rintangan dan halangan yang bisa menggagalkan tujuan tersebut. Misalnya saja, saya memiliki seorang teman penulis yang sangat produktif. Sehingga dalam sebulan atau dua bulan bisa menulis naskah buku setebal 150 halaman. Apa rahasianya? Ternyata ia memiliki jam kerja menulis layaknya orang kantoran walau dikerjakan dari rumah. Dari jam sekian hingga jam sekian ia menulis, melakukan riset, dan lain-lain tanpa membuka sosial media dan tidak melulu meng-update status terkini. Ternyata ia sangat konsisten sehingga dalam setahun bisa menerbitkan lima hingga enam buah buku.

Kedua, dilakukan dengan keluarga. Agar kebaikan yang kita lakukan tidak cenderung berat sehingga kita pun ogah-ogahan dalam melaksanakan setiap detilnya, maka lakukan resolusi bersama keluarga. Ajaklah setiap anggota keluarga untuk saling mengingatkan. Sehingga tercipta hawa fastabiqul khairat yang positif.

Ketiga, milikilah seorang pembimbing atau mentor. Jika sudah berkeluarga, maka kehadiran suami bisa menjadi penyemangat para istri dalam meraih setiap resolusi yang diinginkannya. Sedangkan jika masih melajang, kita bisa meminta bantuan guru ataupun orang-orang terdekat untuk menjadi mentor.

Semangat Menggapai Resolusi Bersama Kelurga  

Resolusi yang indah adalah resolusi yang kita rancang bersama keluarga. Selain resolusi pribadi, keluarga muslim tentunya memiliki resolusi keluarga yang hendak dicapainya bersama seluruh anggota keluarga. Misalnya saja resolusi untuk mewujudkan resolusi keluarga di akhirat. Apa resolusinya? Reuni di surga. Ini adalah resolusi keluarga yang sesuai dengan Surah Ar Ra’du ayat 23-24 berikut.

“(yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun 'alaikum bima shabartum (keselamatan atasmu berkat kesabaranmu).” Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”

Alangkah indahnya, jika anggota keluarga bertemu di Surga ‘Adn dan mendapatkan ucapan selamat oleh para malaikat. Inilah visi keluarga muslim sejati, bersama-sama anggota keluarga lainnya bahu membahu meraih keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala.

Sedangkan visi keluarga muslim di dunia, adalah mendapatkan sarana untuk meraih kebahagiaan di akhirat. Misalnya saja, melaksanakan umrah ataupun haji bersama keluarga, membangun TPA untuk anak-anak di lingkungan tempat tinggal, berjalan-jalan mentadabburi alam yang dianugerahkan Allah dengan bepergian bersama, membangun rumah idaman sekaligus sebagai tempat dakwah yang kondusif,  ataupun memiliki rumah singgah untuk anak-anak jalanan.

Bagaimana mewujudkan resolusi bersama keluarga?

Agar seluruh anggota keluarga mengetahui dan memahami apa resolusi jangka panjang, jangkan pendek, dan jangka menengah keluarga, maka orang tua selayaknya mengajak anak-anak untuk ikut bermusyawarah bersama.

Hal ini akan membuat anak semakin dihargai dan merasa dirinya berarti untuk kemajuan keluarga. Dalam family meeting ini, ayah bisa memaparkan program dan apa-apa yang perlu diupayakan oleh anggota keluarga lainnya.

Dalam family meeting tersebut hargai setiap pendapat anak, dan upayakan agar anak terlibat aktif di dalamnya. memang, tidak serta merta anak-anak akan merasa aware betapa pentingnya resolusi dan program keluarga. Namun, seiring dengan bertambahnya jam terbang mereka dalam family meeting, maka hal ini akan menjadi pemacu semangat anak-anak untuk ikut meraih resolusi pribadi dan keluarga. []




   

    Beban hidup semakin berat. Masalah ekonomi, keluarga, lingkungan, dan terkadang ujian mampu membuat pundak kita kehabisan daya untuk menampung. Saat itu terkadang kita merasa sangat lelah. Ingin rasanya pasrah saja menerima nasib, atau bahkan mungkin yang lebih ekstrim adalah melakukan protes pada Allah Azza wa jalla Padahal, ujian adalah salah satu cara Allah Azza wa jalla untuk membuat kita ‘naik kelas."





                                          Menempa Ketabahan, Meraih Kebahagiaan



Mukjizat hadir di pedesaan kecil di pedalaman Rusia

Tuhan Belum Mati

Gumpalan salju tipis turun perlahan bagai kapas yang diterbangkan angin. Padang savana, pepohonan araukaria, pucuk-pucuk cemara, bangunan-bangunan berbentuk kastil, tampak memutih disepuh oleh salju. Dalam suasana serba putih Dagestan—sebuah wilayah di utara Rusia—nampak menjelma seperti kepingan-kepingan kristal.

Jalan-jalan yang berkelok dan terjal putih. Rumah-rumah penduduk putih. Tempat penggembalaan pun tampaknya juga turut memutih. Taman-taman yang memancarkan air pun ikut membeku seperti pahatan kristal.

Matahari sama sekali enggan menampakkan diri. Angin beriup kencang. Menerbangkan sisa-sisa salju yang masih turun mencium bumi. Pepohonan bereozka di kanan kiri jalan nampak bergoyang pelan saat dihempas angin. Nampaknya pepohonan ini sudah pasrah oleh takdir Tuhan seru sekalian alam. Ia tampak diam dalam kebekuan, di antara rantingnya yang meranggas. Daun-daunnya telah jatuh satu persatu sejak musim dingin telah membentangkan jubah putihnya.

Salju beterbangan dan melayang turun perlahan. Pohon-pohon pinus di sekitar pinggiran Republik Dagestan tampak menggigil dikepung salju. Suhu mencapai minus delapan belas derajat celcius. Orang-orang menutupi tubuhnya dengan pakaian rapat yang tebal dan berbulu. Rumah-rumah dan gedung-gedung menutup pintunya rapat-rapat. Seolah-olah tidak akan membiarkan sihir musim dingin masuk ke celah terkecil di dalam rumah mereka. Tidak boleh ada sedikitpun angin yang masuk. Sebab, membiarkan angin dingin masuk ke dalam rumah, sama juga dengan mengundang malaikat maut. Alat-alat pemanas dinyalakan. Tidak boleh terlewat sedikit pun dari penghangat buatan ini.

Salju turun perlahan tidak membuat Republik Dagestan di pelosok bumi Rusia ini membeku. Orang-orang masih asyik bekerja di tempatnya masing-masing. Pedagang masih menggelar dagangannya di gedung khusus. Sekelompok anak-anak kecil juga masih nampak sedikit di depan pintu sekolah. Sebelum guru mereka berteriak menyuruhnya masuk.

Demikian halnya kesibukan di sebuah rumah kecil di pojok Dagestan. Madina, seorang perempuan Rusia berjilbab, nampak sedang memegang bayi lelakinya yang berusia 9 bulan. Namun, si kecil berwajah tampan khas anak Rusia itu tampak menggeliat kesakitan. Sang ibu memandangnya dengan cemas. Sementara tidak ada siapapun di rumah. Suaminya sedang bekerja di kantor kepolisian di Dagestan—seorang polisi lokal yang sangat baik dan ramah. Ia mempunyai dua anak, si bayi tampan ini adalah anak kedua.

Ali Yakoubov, nama bayi kecil tersebut, terus menerus menangis. Hingga pada satu titik ia berhenti. Madina menarik napas lega. Ia kembali menggendong Ali dengan menyenandungkan lagu-lagu khas Dagestan. Sejak lama ia tidak menyukai pemerintahan Rusia, yang kadang tidak berbuat adil terhadap mayoritas muslim di Dagestan. Namun, merupakan minoritas di Rusia.

Siapapun mengenal Rusia. Negeri beruang merah ini adalah negeri khas Stalin, walau pun sekarang telah mengakui banyak melakukan berbagai perubahan di berbagi bidang. Tapi, tetap saja. Nafas keagamaan, sangat jarang dirasakan di sana.

Stalin dengan pemikirannya “Hancurnya tiga perempat dunia tidak menjadi persoalan sebab yg penting ialah agar sisanya yg seperempat lagi menjadi komunis.” Rumus ini diterapkannya di Rusia pada masa revolusi. Sesudah itu diterapkan pula di Cina dan di negara-negara lain hingga berjuta-juta manusia dibantai. Intervensinya ke Afghanistan juga dilakukan setelah melakukan intervensi ke negara-negara Islam lainnya seperti Bukhara dan Samarkand. Jelas semuanya terangkum dalam rumusan yg ganas tersebut di atas.

Dihancurkannya masjid-masjid dan disulapnya menjadi tempat-tempat hiburan dan pusat-pusat partai. Dilarangnya orang-orang Islam utk menonjolkan slogan-slogan agamanya. Menyimpan Alquran dianggapnya sebagai perbuatan kriminal berat dan hukumnya dipenjara 6 tahun. Expansi yg telah mereka lakukan telah banyak menelan korban umat Islam. Mereka telah menduduki negara-negara Islam membinasakan rakyatnya merampok harta bendanya dan menginjak-injak kehormatan agama dan kesucian umat Islam. Mereka tidak segan-segan melakukan penipuan pengkhianatan dan pembunuhan utk melenyapkan lawan-lawannya meskipun dari anggota partainya sendiri bahkan terhadap orang tua dan keluarganya sendiri yg menentang alirannya.

Hingga saat runtuhnya Uni Sovyet, tetap saja pemikiran atheis Stalin menjadi patokan berpikir sebagian besar penduduk di negeri itu. Walaupun komunisme telah mati. “Manusia modern tidak memerlukan Tuhan,” adalah sebagian slogan yang menjadikan penduduk Rusia malas untuk memeluk sebuah agama tertentu. Anggapan ini semakin menjadi tatkala berbagai penemuan teknologi semakin canggih. Agama malah dianggap candu pemalas yang tidak ingin berkembang.

Tokoh lainnya, adalah Nietzche yang menyatakan bahwa, “Tuhan telah mati.” Merupakan kalimat yang paling akrab di dalam benak orang-orang atheis Rusia. Kalimat ini berasal dari paham atheisme materialisme, yaitu wujud segala sesuatu didasarkan kepada materi. Maka menurut Nietzche, tidak perlu ada Tuhan, karena Dia sudah lama mati. Namun, saat tulisan ini ditulis, justru Nietzche yang mati, dan Tuhan masih hidup dengan segala kekuasaan-Nya. Sayangnya, tidak  semua orang Rusia mampu melihat keagungan Allah.

Sebab itulah, Dagestan merupakan provinsi yang dulu seringkali bergolak. Masjid-masjid di bakar dan dimusnahkan. Orang-orang muslim dibantai dan diculik. Hal ini menjadikan sebagian penduduk Dagestan sangat berhati-hati dalam bertingkah laku. Sekali salah, tentu saja hukumannya adalah penjara yang pengap. Atau malah tiang gantungan.

Madina mencium kening Ali Youkubov dengan penuh kasih sayang. Betapa terkejutnya ia saat ada tanda-tanda aneh di sekitar dagu Ali. Sebuah tanda kemerahan yang nampaknya merupakan sebuah tulisan. Ia menjerit memanggil ibunya.
Ia tidak tahu bahwa setelah ini, kehidupan keluarganya akan berubah hingga seratus delapan puluh derajat.

Ayat-Ayat Allah 
Ali Yakoubov dengan mata bening dan besarnya khas bayi-bayi tsar Rusia, memandang ke sekeliling. Bibirnya bergumam mengocehkan sesuatu dalam bahasa bayi. Sedangkan kakinya menendang-nendang ke atas, memperlihatkan sesuatu.

Nenek Ali, menggendong sang cucu di tangannya. Kemudian mengayunnya pelan. Ali yang tampak mengoceh menendang-nendang ke udara, memperlihatkan kakinya yang gemuk dan mungil. Namun, ada beberapa tanda kemerahan yang nampak halus di sana.

“Apa ini?” Tanya sang nenek pada Madina. 
Madina memicingkan matanya menatap guratan-guratan tidak menyembul di atas kulit kaki Ali. Ia meletakkan jemarinya di sana. Halus. Tidak ada tanda bahwa tanda-tanda merah ini dilukis atau dicetak sedemikian rupa.

“Aku sendiri, tidak tahu, Bu.” Madina mengangkat bahunya. 
“Apa ini sebuah penyakit?” Nenek kembali menatap tulisan berbentuk bulat-bulat panjang yang sepertinya ia kenal dengan baik.

“Sakit apa?” Madina bertanya dengan suara parau. 
“Semacam penyakit kulit mungkin?”
“Ah, Ali tidak pernah memilikinya.”
“Ali kan pernah sakit?”
“Iya, tapi bukan penyakit kulit. Ali mengidap cerebral palsy dan jantung bawaan. Kasihan, anakku.” Madina mencium pipi Ali dengan sayang. 
“Tapi, Nek. Dagu Ali ketika keluar sesaat setelah persalinan terdapat tulisan merah muda. Ada lafadz Allah di dagunya.”

Nenek Ali menggendongnya kemudian menyenandungkan lagu-lagu lama Dagestan. Sebelum kemudian ia memanggil putrinya. 
“Madina, lihat! Apa ini bukan tulisan ayat seperti di dalam Al-Qur’an?”
Madina mengucek matanya yang tidak gatal. Melihatnya dengan mata terbelalak. 
“Bukankah ini tulisan arab? Tulisan ayat dalam Al-Qur’an, Ibu?” Madina mengusap sayang kaki Ali.
Ali hanya memainkan kakinya dan mengoceh. Matanya yang berwarna keabuan tampak lucu di antara ibu dan neneknya. 
“Iya, betul. Tapi apa? Buat apa?”
“Aku tidak tahu, Bu.” Sahut Madina kemudian.

Di luar salju masih turun perlahan menyentuh pucuk-pucuk cemara, dan rerumputan yang mengering karena musim dingin. Udara dingin luar biasa. Di dalam rumah itu, Madina dan nenek Ali tampak kebingungan.

Madina menyambar sebuah ponsel yang tergeletak  di atas meja. Ia menekan-nekan tombol yang tertera di atas ponsel tersebut. Tidak lama kemudian suara seorang lelaki terdengar dari jauh. 
Benar saja. Sang Ayah menyatakan bahwa tulisan berwarna merah muda itu adalah tulisan  ayat-ayat Allah. Segera saja mereka menemui seorang dokter muda yang dekat dengan tempat tinggal mereka. 
Sang dokter, Ludmilla Lusyinov, melihat fenomena ini dengan takjub.

“Entahlah, saya belum pernah melihat hal semacam ini.” Ia meneliti satu persatu ayat-ayat di atas kulit Ali. 
“Jika hal ini adalah dermatrofic uritria, tentunya tulisannya tidak akan sehalus ini. Pasti ada tonjolan keluar. Sedangkan tulisan di badan Ali nampak luar biasa halus.” Ludmilla membenarkan letak kacamatanya.

“Apa hal ini pernah terjadi sebelumnya?”
“Maksudnya, Dok?” Ayah Ali bertanya dengan nada khawatir. 
“Munculnya tulisan berwarna merah ini?”
“Hanya beberapa dahulu di sekitar dagu Ali. Lafaz Allah.” Jawabnya. 
“Kalau di kaki ini artinya apa?” Tanya Ludmilla.
“Ehm, ini ayat di surat Az-Zumar, ayat ke tigapuluh sembilan. 
   
Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.”
Madina meletakkan tangannya di meja periksa. “Apa fenomena ini, Dok?”
Ludmilla berpikir keras. Ia menggelengkan kepalnya. “Saya belum tahu. Tapi bisa jadi merupakan tanda-tanda keberasan Allah yang ditunjukkan kepada kita.”
“Semacam keajaiban?” Ayah Ali terbelalak. 
“Semacam itu.” Ludmillah berkata dalam nada gamang. Ia sendiri kebingungan, namun dalam hati ia berkata subhanallah. Maha Suci, Engkau Ya Allah.
“Aku membaca rekam medis Ali Yakoubov. Tapi sungguh aku kaget. Di sana tercantum bahwa Ali mengidap cerebral palsy, dan penyakit jantung bawaan. Saat aku memeriksanya tadi. Aku tidak melihat tanda-tanda itu di dalam tubuhnya.”
Madina, dan suaminya, berpandangan. Seketika, bibir mungil mereka meluncur kalimat, “Subhanallah. Alhamdulillah.”

Ali yang sedang digendong perawat. Menggeliat kecil dan mengoceh. 
Sekembalinya Ali dan keluarga dari dokter. Mereka melihat kerumunan kecil orang di sekitar rumahnya. Para tetangga. Rupanya nenek Ali bercerita kepada mereka apa yang sedang terjadi dengan Ali. Madina yang sedang menggendong Ali nampak kaget, dan agak shock. Tidak disangka, rupanya hal ini menjadi perhatian banyak pihak.

“Mana bayi ajaib itu?” Teriak salah satu di antara mereka. 
Ayah Ali melindungi Madina yang sedang menggendong Ali. Menyeruak di antara kerumunan. 
“Apa benar di sekitar tubuh Ali, ada ayat-ayat Allah?” Sahut salah seorang di antara mereka.
“Apa benar itu tanda bahwa Al-Mahdi akan datang Yakoubov?”

Ayah Ali terkesiap. Sungguh ia tidak menyangka bayi mungilnya mendapatkan anugerah tersebut. “Kedatangan Al-Mahdi, kalian ada-ada saja.” Ia melewati kerumunan kecil itu dengan mengangkat Ali tinggi-tinggi.

Seketika menjuntai kaki mungil Ali yang bertuliskan surat Az-Zumar ayat 39 tersebut. Kerumunan itu pun layaknya lebah yang mengaung keras. “Subhanallah! Allahu Akbar!” Teriak mereka beramai-ramai. 
Tidak lama kemudian, setelah berpamitan dengan tetangganya. Kedua orang tua Ali membawanya masuk ke dalam rumah. Dalam dada mereka masih dipenuhi rasa aneh dan bingung.

Benarkah ini terjadi? 
Benarkah Ali mendapatkan isyarat-isyarat itu dari Allah?
Apa yang akan terjadi padanya nanti?

Madina menghembuskan napas panjang. Sementara, suaminya Yakubov terdiam beberapa jenak. Jika ini adalah penyakit. Mengapa tulisan dalam tubuh Ali tidak menyembul sama sekali? 
Di luar nalar. Ia memeluk bocah mungil berkulit putih itu. Ali tertawa. Tangannya yang mungil menggapai-gapai.

Semoga saja, jika ini memang benar isyarat dari Allah. Ali akan diselamatkan-Nya dengan cara yang terbaik.

Kunjungan Ribuan Orang
Benar saja, keesokan harinya. Kerumunan yang tidak sama kembali menyerbu rumah keluarga Yakoubov. Kali ini lebih besar. Lebih sesak. Lebih banyak orang yang datang. Nenek Ali mengintip dari balik jendela, dan memandang dari dalam.

“Ya, Allah. Mereka banyak sekali. Apa yang harus kita lakukan?” Jantung Madina serasa copot saat menyaksikan kerumunan di luar rumahnya. Siapa yang menyebarkan berita ini?

Yakoubov melongok ke luar. Matanya membelalak, sementara udara dingin tidak mampu membuat dirinya tidak berkeringat. Baru sekali ini rumahnya, rumah sederhana di sebuah desa di Daghestan, menjelma menjadi layaknya rumah presiden.

Kerumunan orang menyemut, dan tampak semakin menggelisahkan di luar. Sementara kabut tebal mengepung jalanan terjal, dan berbatu. Mereka sama-sama penasaran, dengan bayi ajaib bernama Ali Yakoubov. Bocah yang ditubuhnya terpahat ayat-ayat Al-Qur’an. Hal luar biasa terjadi di bumi Daghestan. Selama ini, konflik militer pada tahun-tahun sebelumnya, telah membuat banyak kaum muslim terjepit dan terlempar ke dalam posisi yang tidak menguntungkan.

Daghestan adalah negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Namun, rasanya ini tidak akan berarti karena harus tunduk di bawah federasi Rusia. Negara besar atheis, yang katanya sekarang semakin ramah dengan agama. Entah benar atau tidak. Rakyat Daghestan yang sudah lama berkonflik merasa lelah dengan janji-janji pemerintah Rusia.

Nenek Ali, menggendong Ali yang sudah dimandikan, dan terlihat sangat tampan dalam balutan sweater tebal berwarna merah menyala. Ia juga mengenakan topi sweater warna hitam putih. Pipinya yang montok seperti buah tomat yang baru masak.

“Ada apa? Ada apa?” Suara nenek terdengar panik. Sementara kerumunan orang di luar rumahnya semakin besar. Dengungan suara manusia yang bergerombol itu layaknya seperti dengungan lebah. Hatinya merinding ketakutan.

“Bu, bagaimana ini?” Madina berjalan mondar-mandir ketakutan. Sama sekali ia tidak berani membuka pintu. Jika dibuka, bagaimana mungkin rumah kecil mereka bisa menampung ratusan orang di luar sana?

Yakoubov nampak gelisah. Sesekali ia memandang jam dinding bulat di seberang ruang makan. Sudah masuk jam kerja, apa kata atasanku nantinya?

“Apa kau tidak kerja?” Sang nenek tampaknya mengerti kegelisahan Yakoubov. 
Yakoubov mengangguk, “Tapi, bagaimana mungkin aku bisa menembus ratusan orang di sana, Bu? Aku takut terinjak. Lalu bagimana bisa aku meninggalkan kalian di saat seperti ini?” Suaranya nyaris putus asa.

Nenek Ali menyahut, “Ya Allah, seperti masa pemberontakan Shamil Basayef saja. Oh, apa yang akan terjadi dengan kami?”
Yakoubov nampak mendapatkan ide, “Aku akan menelepon kepolisian, semoga mereka dapat membantu kita.”
Madina yang saat itu tampak menimang Ali yang mulai tertidur, berteriak girang. “Sayang, kenapa kita tidak berpikir demikian dari tadi?”

Yakoubov tersenyum memamerkan deretan giginya. Wajah lelaki yang sudah memasuki kepala empat itu nampak cerah. Ia menekan-nekan tombol ponsel kemudian, berbicara sebentar. 
Sementara itu, salju sudah mulai turun. Kerumunan orang di depan rumah sederhana semakin banyak dan tampak mulai meringsek menggedor pintu. Hawa kematian berbau aroma tidak nyaman. Kakak Ali yang nampak terbangun karena tidak sehat, datang dengan wajah yang takut.

“Mat’ ... Otets, apa .... apa .... ada apa ini?” Putri sulungnya tergagap bingung. 
Yakoubov datang kemudian memeluknya. “Tidak usah khawatir, Sayang. Mereka hanya ingin melihat adikmu.”

Gadis kecil berusia sekitar 7 tahun itu mengangguk. Rambutnya yang pirang ikut bergerak-gerak saat kepalanya  mencoba melihat dari balik celah jendela. 
“Assalamamu’alaikum, Otets Ali. Tolong buka pintunya! Kami hanya ingin melihat ayat-ayat Allah!” suara bariton lelaki dari luar pintu.

Mereka serentak terdiam kebingungan. Jika dibuka, bagaimana mungkin massa yang begitu banyak memenuhi ruangan kecil? Apabila dibiarkan saja, tidak lama kemudian pintu itu pasti akan terdobrak, dan rusak. Dengan demikian, meraka akan masuk dan hasilnya malah lebih tidak bagus lagi. Massa yang marah lebih kuat dari hentakan meriam.

Madina bergidik. Ia gemetar ketakutan. Merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman. Ali bergerak-gerak di gendongan ibunya. Ia nampak tidak nyaman, dan tidak lama kemudian mulai menangis. 
“Otets Ali!” 
“Madina!”
“Buka pintunya!” 
“Buka atau kami dobrak!”

Suara-suara di luar semakin liar. Semua panik. Tidak ada yang bisa merasakan nafasnya, kecuali detak jantung yang semakin keras berpacu. Berkali-kali nenek Ali menengadahkan tangan ke langit memohon kebaikan Allah.

Putri sulung Yakoubov menangis melihat adiknya. Ia bingung dengan apa yang terjadi. Tubuhnya menggigil ketakutan di dalam pelukan Yakoubov. Lelaki itu nampak pias. Ruangan serasa semakin sesak, tatkala gedoran pintu semakin keras.

Saat mencekam semakin menguras emosi. Hingga suara ponsel melengking di tengah kesenyapan dan keramaian di luar. 
“Tuan Yakoubov, tenangkan keluarga Anda. Kami sudah mengamankan kerumunan orang di sini. Jika aku mengetuk pintu bukalah. Kami akan membantu mereka satu persatu masuk dengan tertib. Semua akan terkendali. Semua akan selamat.”
Terdengar suara berat di ujung telepon. Seorang kepala kepolisian setempat. Hati Madina rasanya diguyur es, saat Yakoubov mengatakan siapa yang menelepon. Seketika itu juga, lelaki berbadan kurus itu melakukan sujud syukur.

Bertemu Media
Fenomena munculnya ayat-ayat Al-Qur’an pada tubuh mungil Ali Yakoubov. Perlahan menjadi badai gletser yang menyapu perhatian di seluruh kawasan Daghestan, hingga Rusia. Semua mata memicingkan pandangan. Hingga pagi itu, saat usai menunaikan shalat Shubuh berjama’ah di sebuah masjid terdekat. Langkah-langkah lebar Yakoubov dihentikan oleh kerumunan orang yang membawa kamera, dan perangkat jurnalistik lainnya. 
Ia terhenyak. Namun, kakinya gemetar.

“Tuan Yakoubov, bagaimana Anda menjelaskan kemunculan ayat-ayat di tubuh bayi Ali?”
“Apa benar ini sebuah keajaiban?”
“Apa benar sebelum kemunculannya, Ali menjerit kesakitan. Lalu suhu badannya meningkat?”
Suara-suara wartawan semakin tidak jelas ditelinganya, hingga ia ingin masuk ke dalam rumah. 
“Bolehkah kami melihat bayi Anda, Tuan Yakoubov?”
Yakoubov tampak kebingungan. Namun, ia melihat hanya sekitar 15 orang wartawan di depannya. Ia menelan ludah. 
“Iya, bisa. Tapi tunggulah hingga Ali bangun. Sekarang ia masih tidur.”
Mereka sepakat untuk menunggu Ali.

Saat Ali sudah bangun, mandi, dan minum susu, ia tampil menakjubkan di depan wartawan. Wajah bayinya yang lucu membuat kamera tidak henti-hentinya menyalakan blitz. 
Benar saja. Tidak lama kemudian wawancara dengan beberapa kantor berita ternama di Rusia berlangsung. Saat wawancara, Madina diminta untuk menyingkap kaki kecil Ali. Terlihat sebuah tulisan ayat berwarna merah muda. Namun ada beberapa huruf yang memudar.

“Biasanya tulisan-tulisan ini akan muncul di hari Jum’at atau Senin. Tubuh Ali menggigil, dan ia demam hingga 40 derajat celcius. Dokter yang kami temui juga tidak bisa memberikan keterangan yang cukup. Ia sendiri bingung. Hal yang kami syukuri adalah karena saat ini Ali dalam keadaan sangat sehat. Dulu ia terlahir mengidap cerebral palsy, dan kondisi jantung iskemik. Tapi, Allahu Akbar. Saat ini diagnosis dokter mengatakan bahwa ia dalam keadaan yang sangat sehat!” Mata Madina berkaca-kaca.

Rusia Gempar!
Tidak dinyana sebelumnya, jika berita mengenai keajaiban Ali Yakoubov menjadi sebuah headline besar di Rusia pada tahun 2009. Bahkan pemimpin kota Kilzyar, mendatangi Ali dan mengatakan. 
“Fakta bahwa ini keajaiban terjadi di sini, adalah sinyal bagi kita untuk memimpin dan membantu saudara-saudara kita menemukan kedamaian,” kata kepala daerah Kizlyar, Sagid Murtazaliyev, pada wartawan. “Kita tidak boleh lupa, jangan sampai ada perang terjadi (lagi) di sini.”

Berita keajaiban Ali Yakoubov juga mengusik pernyataan-pernyataan mengecam dari para atheis. Mereka menghina, dan meragukan berita tersebut. Keterusikan ini, hanya karena keajaiban di tubuh Ali merupakan tanda-tanda kebesaran Allah.

Hingga sebuah live show mengenai ayat-ayat yang terpahat di tubuh Ali menjadi sebuah perhatian di Rusia. 
“Apa benar kalian menyiksa bayi Ali?” Tanya host wanita berambut pirang kepada Madina, dan Yakoubov Shamil.

Kedua orang tua Ali berpandangan, “Tidak. Kami mencintai Ali. Memang sulit mempercayai ada tanda dari Allah di negeri ini.” Jawab Yakoubov. 
“Banyak juga pihak yang menyatakan bahwa ini merupakan sebuah fenomena tentang penyakit dermatographic urticaria. Apa pendapatmu mengenai hal ini Tuan Yakoubov?”

Yakoubov Shamil tampak menghembuskan nafas dengan berat. sudah diduga sebenarnya. Banyak pihak yang akan menolak keajaiban dalam tubuh Ali. Bukan sesuatu yang mengherankan. Rusia, negara dengan penduduk yang mayoritas tidak beragama ini tentu akan kesulitan untuk menjawab hal di luar nalar mereka.

Dermatographic urticaria merupakan penyakit kelainan kulit yang diderita sekitar 4-5% manusia saja. Penyebabnya adalah lapisan sel-sel di permukaan kulit yang mengeluarkan histamin tanpa adanya antigen, karena membran yang lemah di sekeliling lapisan sel-sel tersebut. Histamin yang dihasilkan membuat kulit membengkak di daerah yang berpenyakit. Kulit penderita menjadi mudah merah meradang pada saat disentuh atau digores dengan benda tumpul. Akibatnya, seseorang bisa dengan leluasa membentuk tulisan atau gambar pada kulit penderita dermatographism ini.

Beberapa pihak yang menyangkal dan meragukan keajaiban Ali Yakoubov menjadikan ini sebagai argumen untuk menolak tanda-tanda kebesaran Allah di tubuhnya.

“Begini, kami pernah diingatkan tentang penyakit kulit ini. Kami berikan fakta bahwa Ali Yakoubov tidak pernah mengidap penyakit tersebut. Jika tidak percaya, rabalah ayat-ayat yang ada di atas tubuh Ali. Anda tidak akan merasakan adanya tonjolan sebagaimana penulisan di atas kulit penderita dermatographic urticaria.” Yakoubov Shamil menjelaskan panjang lebar.

Madina kemudian menambahkan, “Penyakit itu juga tidak akan mengakibatkan kenaikan suhu badan bukan? Sedangkan yang terjadi pada Ali. Setiap kali akan muncul ayat-ayat tersebut. Kami melihat suhu badannya naik. Demi Allah, kami tidak melakukan apapun kepadanya.” 
Acara itu pun berakhir dengan perdebatan antara penonton, host acara, dan narasumber seorang pemerhati kehidupan sosial.

Ancaman Pembunuhan
 Bukan hanya Rusia yang dihebohkan mengenai keajaiban di dalam tubuh Ali Yakoubov. Bayi mungil itu juga menggemparkan sebagian Eropa, dan Amerika. Berbagai kontroversi mengenai berita ini rupanya menggelisahkan sebagian orang. Termasuk orang-orang yang tidak beriman.

Kontroversi ini dapat dilihat di berbagai situs berita dunia. Reuters, bahkan secara khusus memuat liputan khusus tentang Ali Yakoubov. Interfax, kantor berita utama Rusia juga meliput secara langsung keajaiban Ali. Selain itu, muncul banyak perdebatan sengit di berbagai situs dunia. Setelah diunggahnya fenomena Ali Yakoubov ke dalam Youtube. Tidak kurang jutaan orang telah menonton videonya. Berdebat, mengagungkan Allah, atau bahkan menghujat.

Siang itu, salju tidak turun di Kizlyar, namun hawa dingin di daerah Kaukasus Utara itu sangat menggigit. Matahari tidak nampak seperti hari-hari sebelumnya. Para lelaki dan perempuan memenuhi pasar, dan jalanan dengan palto tebal. Demikian halnya dengan rumah Ali Yakoubov, bayi mungil itu ada di dalam gendongan Madina, sang Ibu. Ia tampak kelelahan dengan berbagai acara yang diikuti. Jika ia menolak, mungkin hal ini tidak akan terjadi. Namun, bagaimana mungkin ia bisa menyembunyikan tanda-tanda dari Allah?

Seorang ulama di Kizlyar, bahkan menyebutkan, “Mereka harusnya bertobat dari dosa-dosa mereka, dan meninggalkan perselisihan mereka, konflik, dan konfrontasi pembunuhan antarsaudara bahwa hari ini getar tanah yang diberkati Dagestan dan seluruh Kaukasus.”

Namun, tidak semua pihak tampak senang dengan fenomena langka ini. Siang itu, serombongan orang bersenjata menaiki jeep berhenti tepat di depan rumah Ali Yakoubov yang masih penuh dengan orang. Mereka melompat, berteriak, dan mengacung-acungkan senjata.

Seorang kepala rombongan datang dan masuk ke dalam rumah Ali dengan kasar. Yakoubov memang seorang polisi lokal. Tapi, kala itu ia sendirian, sehingga ia memasang badan melindungi keluarganya.

“Apa yang kalian inginkan?” Tanya Yakoubov dengan lantang. Ia merasa terusik dengan kedatangan orang-orang bersenjata ke dalam rumah mereka. 
“Mana bayi itu?!” Salah seorang di antara mereka melompat di hadapan Yakoubov. 
“Sopanlah sedikit! Ini rumah saya!” 
“Iya, mana bayi ajaib itu?” Katanya lagi. 
“Untuk apa kalian mencarinya?” Yakoubov bertanya dengan mata menyala. 
“Aku tidak suka ia dipuja-puja. Bukankah bayi itu disembah oleh kalian?”
“Masya Allah, siapa bilang. Aku ayahnya, tidak ada siapapun yang menyembah anakku!” 
Rombongan ekstrimis meringsek masuk, dan mengancam akan membakar rumah itu jika Ali Yakoubov tidak keluar. Akhirnya setelah lama bersitegang. Yakoubov menyerah. Ia memanggil Madina dan Ali untuk ke luar.

Saat itulah kepala rombongan lelaki bersenjata itu masuk, dan melihat Ali. Ia memandang Ali, dan menyingkap bagian paha dan lengannya. Mencari-cari tulisan ayat Al-Qur’an di sana. Namun, ajaibnya tidak ada satupun huruf Al-Qur’an ada di atas tubuh Ali. Ayat-ayat itu lenyap seketika.
“Mana? Aku tidak melihat apa-apa!” Serunya keras-keras.

Madina memeluk Ali dengan erat. Takut terjadi apa-apa. Beberapa pengunjung yang datang ke rumah sederhana itu berteriak menyuruh rombongan tidak bermoral itu pergi.

“Kamu tidak akan bisa melihatnya. Kemarin salah seorang tetanggaku yang mabuk juga datang ke sini. Dan Ali tidak mengizinkan mereka melihat keajaiban Allah!” Seru Madina dengan keras. 
Dari arah belakang, beberapa pengunjung juga nampak marah oleh tingkah rombongan bersenjata itu.

“Jika kalian masih menyembah bayi ini, aku akan membakar rumah Ali dengan tanganku sendiri!” Ancam seorang lelaki bersenjata dengan kasar. Rupanya ia menyadari tidak mungkin melihat keajaiban dari tubuh bayi lelaki itu sekarang.

Tidak lama kemudian suara sirine mengaung keras-keras di luar. Rombongan lelaki bersenjata itu berhamburan menuju jeep mereka. Secepat kilat mereka memacu jeep itu dengan kecepatan setan. 
Dengan sigap pasukan kepolisian datang dan mengamankan rumah Yakoubov. Mereka mencari-cari jejak para ekstrimis liar yang telah mengancam keluarga mungil tersebut. Namun, jejak tersebut tidak ada.

Madina nampak menggigil ketakutan di pojok ruang. Ia menangis, dan membawa Ali ke dalam kamar. Sementara, suaminya bercakap dengan kepala kepolisian. Atas nasihatnya rumah itu kemudian dijaga secara ketat dengan pengawalan langsung pihak kepolisian.

Hingga kini kontroversi tentang keajaiban tersebut menjadi diskusi tersendiri di dunia maya.  
Setiap keajaiban dari Allah, memang terkadang ditentang oleh orang-orang tidak beriman. Berbagai argumen di keluarkan. Berbagai penolakan diberikan. Berbagai alasan dibuat sedemikian rupa. Inilah bukti kekalahan. Kekalahan dari keangkuhan manusia. Bahwa manusia itu kecil di mata Allah. Jika Allah berkehendak, tidak ada yang mustahil di mata Allah.

Kita telah banyak menyaksikan fenomena lainnya. Bagaimana mungkin seorang bocah terlahir dari keluarga non muslim seperti Alexander Pertz bisa menemukan Islam, dan mencintainya sedemikian rupa?

Bagaimana mungkin, seorang bocah seperti Husein At-Tabatabai dapat sedemikian hebat dalam memahami dan menghafal Al-Qur’an, bahkan kecepatan berpikirnya melebihi kecepatan search engine?

Kemuliaan Allah tidak akan luntur hanya karena ulah orang-orang yang ingkar. 
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami disegala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS. Fush-Shilat : 53).
Ali Yakoubov, dengan kepolosannya. Telah menyentil kesombongan dan keangkuhan kita sebagai manusia. Masihkan kita meragukan tanda-tanda kebesaran Allah? 
Mari kita berdoa, agar Ali Yakoubov dan keluarganya selalu dalam lindungan dan berkah Allah subhanahu wa ta’aala. [] dipersembahkan oleh Halal Beauty Shop