Diperlukan komunikasi yang baik (Foto: Pixabay)



 “Gimana yah, mau curhat temen-temen,” kata teman saya itu di sebuah grup Whatshapp.

Grup ini adalah grup emak-emak banget, karena semuanya udah jadi emak kecuali beberapa saja yang kebetulan masih lajang. Grup khusus perempuan yang seru, sebab cuma di grup itu bisa nyamain visi, misi, orientasi politik ala emak-emak. Hehe.

“Kalau suami agak pelit gimana yah? Kita sampai debat uang nafkah sama belanja itu yang mana. Kok, uang belanja ditanya-tanya buat apa saja. Kok bisa habis. Di  kemanakan semua uangnya?” begitu kemudian tulisnya.

Saya kaget dong. Tentu teman-teman saya yang lain. Sebab, jarang banget kita ngomongin urusan rumah tangga rame-rame. Paling-paling biasanya curhat ala jaringan pribadi.

“Saya jadi pingin kerja saja kalau kayak gini. Ini kan uang belanja, campur juga sama uang kebutuhan sehari-hari. Udah diirit irit banget, tapi selalu dikatakan boros. Kan sakit hati akunya,” lanjutnya kemudian.

“Jangan kerja say, ntar baby-nya sama siapa?” kata teman lain menanggapi.

“Sabar, sabar yah. Mungkin suami lagi senewen. Banyak urusan gitu.”

“Ditulis saja say, biar suami tahu kalau kebutuhan sekarang tuh nggak dikit.”

“Iya, tulis  saja daftarnya.”

“Udah aku tulis sih, tapi lama-lama capek juga yah,” jawabnya.

“Sabar jeng, aku saja jatah belanja harian yang dikasih. Buat keperluan lain, dia pegang uangnya sendiri. Jadi, kalau butuh apa-apa, ya aku harus minta-minta dulu ke suami. Katanya aku ini nggak bisa pegang uang sendiri gitu. Aku sih nggak apa-apa. Yang penting bisa bersyukur,” teman lain bercerita membesarkan hati.

Percakapan pun berlanjut hingga kesekian-kesekian kali.


Fenomena Pasutri Modern

Entah, saya harus bagaimana. Tapi, keluhan semacam itu sering sekali terjadi. Well, saya nggak mungkin dong cerita mengenai masalah nafkah suami di artikel ini. Karena tidak ada yang harus saya keluhkan.

Dalam Islam konsep nafkah merupakan hal yang sudah ada rumusnya. Artinya, suami wajib menafkahi istri. Wajib ini jika tidak dilakukan maka akan menjadi dosa. Seperti halnya kewajiban yang lainnya. Hal tersebut sudah sangat jelas dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Istri pun berkewajiban patuh pada suami.Tidak membangkah atau durhaka.

Karena menikah itu ibadah, tentu saja semua yang dilakukan berpahala. Maka akan sangat mengherankan jika ada suami yang berkata, “Enak saja dia pegang uang banyak-banyak kan yang kerja aku?”

Ada juga yang pelit banget sama istri, namun begitu royal dan pemurah terhadap teman-temannya. Padahal yang wajib itu menafkahi istri, Bro. Bukan menafkahi temanmu. Gitu keles.

Namun, ada juga yang percaya sepenuh hati istri akan mampu memanajemen keuangan dengan baik. Suami percaya menyerahkan uang belanja dengan ukuran yang makruf. Ukuran yang baik; yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Cukup memenuhi kebutuhan istri secara pribadi. Sembari mendoakan dan berterima kasih atas kerelaan dan perjuangan istri. Istri pun akan menerima dengan hati berbunga.

Percayalah, seorang istri salihah itu tidak minta apa-apa, kecuali suami taat dan patuh pada Allah. Bukankah berbuat makruf pada istri dan keluarga merupakan ciri sebaik-baik Muslim?
Tidak perlu ngomel-ngomel ketika menyerahkan uang belanja sambil melotot. Percuma, bisa-bisa nafkah yang dikeluarkan secara tak rela itu tidak ada pahalanya di sisi Allah. Jadi, useless banget kan? Apalagi, sambil mengungkit ini itu.

Iya, saya masih belum habis pikir. Kenapa ada suami-suami yang begitu ‘perhitungan’ terhadap istri. Bahkan ketika istri bekerja juga. Entah dengan menjadi wanita karir, atau berwirausaha di rumah. Terkadang, malah tulang rusuk ini menjadi tulang punggung saking suksesnya mengais rezeki.

Akhir cerita, teman saya tadi sekarang berwirausaha dari rumah. Yah, dengan izin suaminya tentu. Semoga, rumah tangganya diberkahi Allah. Riak-riak rumah tangga akan selalu terjadi. Yang penting, keinginan dan usaha kita bagaimana agar Allah selalu ridha. Wallahu a’lam.









Sumber: Pixabay
  
Pernahkah merasa bahwa balita Anda berbeda dengan kebanyakan temannya. Mungkin berbeda dengan kakaknya. Kalau dahulu, kakaknya di usia 3 tahun sudah lancar berbicara, atau berbicara dengan kalimat-kalimat pendek yang bisa dipahami. Sedangkan balita Anda ini, di usia 4 tahun hanya mampu mengucapkan kosakata-kosakata tertentu saja.

Mungkin rasanya tidak nyaman. Apalagi jika ada keluhan dari guru-guru di sekolahnya. Balita tersebut sangat aktif, tidak bisa diam, agak susah mengeluarkan keinginannya, sehingga seringkali tantrum berkepanjangan.



Mengirimkan naskah ke penerbit adalah langkah mainstream yang kekinian untuk menerbitkan naskah. Kenapa saya sebut mainstream? Langkah ini adalah hal yang seharusnya diketahui oleh penulis maupun calon penulis. Hal yang sudah jamak. Sudah biasa sebenarnya.

Ada yang sukses menggaet hati penerbit. Namun, sayangnya banyak pula yang gagal. Alih-alih diterbitkan, malah hanya dicuekin tanpa balasan.

Jadi, kenapa banyak penulis yang gagal mengirim naskah untuk diperhatikan editor?

Meskipun santai, asal tidak lalai. (Foto Pixabay)



Pernahkah Anda membaca hasil terjemahan namun merasa susah mencerna setiap kalimat yang disajikan? Entah itu terjemahan novel, buku nonfiksi, ataupun makalah penelitian?

Foto ilustrasi Pixabay

Seringkali, hal yang membuat hasil terjemahan sangat sulit dipahami hingga kadang terjadi distorsi makna adalah sikap penerjemah sebagai perantara pemadanan makna. Sikap penerjemah terhadap bentuk struktur luar (surface structure) bahasa sumber dan struktur dalam (deep structure-nya) berbeda. 
Kebutuhan menerjemahkan buku bukanlah tanda keterbelakangan, justru sebaliknya, tanda keterbukaan, kegiatan hendak ikut serta dalam tukar menukar informasi. (Hartoko)

Beberapa bulan ini saya disibukkan dengan tugas baru untuk menyunting naskah terjemahan bahasa Arab ke bahasa Indonesia oleh salah satu penerbit terkemuka di tanah air. Sudah belasan mungkin puluhan naskah yang saya sunting sejak awal tahun hingga bulan ini. 

Dengan tenggat waktu yang padat, namun dengan penghargaan yang luar biasa dari penerbit, saya bisa bekerja dengan cepat. Biasanya untuk urusan naskah dan lain-lain saya agak perfeksionis sehingga hal ini membuat deadline bisa molor hingga kesekian hari. 

Padahal, diselingi dengan drama melahirkan dan menyusui juga di bulan Juni. Tapi, hobi yang dibayar memang bukanlah suatu hal yang berat untuk dilakukan. Layaknya kita minum atau makan, menyunting naskah atau menulis merupakan napas bagi penulis. Kebutuhannnya seperti candu yang perlu dipenuhi.

Foto oleh Pixabay 





Courtesy @fatihseferagic (Facebook FansPage)

 Secara menakjubkan dalam tempo yang singkat yaitu 3 tahun, Fatih kecil telah menuntaskan hafalannya. Hal yang luar biasa untuk bocah seusianya. Apalagi Fatih hidup di Houston, Texas.


Dari Jerman ke Amerika

            Udara masih saja menggigil saat keluarga Seferagic memutuskan untuk membawa anak mereka yang masih berusia 4 tahun ke bandara. Sebenarnya, sang ibu—seorang muslimah berkebangsaan Bosnia, berkerudung, namun berkulit putih dan bermata biru—masih betah tinggal di Jerman. Namun, suaminya meminta dia dan anaknya untuk mengikutinya ke Amerika Serikat.

            “Kamu yakin bisa hidup di negeri itu, Sayang?” Tanya sang istri cemas.

            “Insya Allah, ini lebih baik dari di Sturtgartt.”
       
       “Bukankah Amerika terkenal sebagai nerara yang sangat bebas? Di sana tidak ada aturan tertentu mengenai kehidupan. Bebas sebebas-bebasnya.”

            Suaminya memandang dengan lembut, “Walaupun di sana tidak ada adzan, jarang terdapat masjid seperti di Bosnia, ataupun masyarakatnya sangat bebas. Kita akan berjuang agar anak kita mendapatkan pendidikan terbaik di sana.”

            “Pendidikan terbaik bagaimana?” Sang istri masih saja ragu.

            “Kita akan mencarikannya sekolah Islam terbaik. Aku sudah mencari-cari di internet. Ada komunitas Islam yang baik di Baltimore, di sana nanti Fatih akan belajar dengan baik. Tenanglah, Sayang. Kita sudah pernah melewati masa-masa terburuk di Bosnia, lalu di Jerman. Kita akan menang di Amerika nanti. Fatih akan menjadi muslim yang baik.” Panjang lebar sang suami menjelaskan.

           Perempuan berkerudung itu menghela nafas panjang, mencari ketenangan dalam dirinya. Tidak mudah memang menjadi seorang imigran. Namun, Bosnia sejak penyerangan Serbia, dan peristiwa pembantaian muslim, ia merasa Bosnia tidak lagi aman untuk calon putranya.

     Kepindahannya ke Stutgartt, Jerman adalah untuk melahirkan dan memulai hidup baru. Bagaimana mungkin bisa hidup dengan tenang di Bosnia? Tanah Bosnia telah terkoyak-koyak sedemikian rupa karena invasi Serbia. Bagaimana mungkin ia melupakan pembantaian di Sebrenica?

   Ia masih sangat jelas mengingat, bagaimana kondisi Bosnie pada bulan April 1993, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapan Sebrenica sebagai zona aman. Tidak ada yang boleh mengangkat senjata di daerah itu termasuk Muslim Bosnia, meskipun itu adalah wilayah mereka. Tapi pasukan Serbia yang sejak awal mengincar wilayah itu tidak mau mematuhi ketentuan PBB.
Puluhan ribu orang Bosniak (sebutan untuk etnis muslim Bosnia) berkumpul di pos kemananan PBB yang dikawal Dutchbat (tentara Belanda) di Potocari, Srebrenica, untuk mencari perlindungan dari serangan tentara Serbia pada 11 Juli 1995. Pejuang-pejuang Muslim Bosnia tidak bisa melawan, karena persenjataan mereka telah diserahkan kepada pasukan PBB, sebagai tanda kepatuhan atas ditetapkannya Srebrenica sebagai zona aman yang dilindungi PBB. Dan pasukan PBB tidak mau memberikan kembali senjata itu kepada pejuang Muslim.
Dengan alasan kekurangan personil dan persenjataan, serta tidak ada dukungan pasukan udara dari markas mereka, Dutchbat membiarkan pasukan Serbia masuk ke Srebrenica dengan persenjataan lengkap. Pasukan Belanda dibawah komando Kolonel Karremans memilih mundur, meninggalkan begitu saja warga Muslim Bosnia yang mencari perlindungan. Nyawa 30 ribu Muslim yang berlindung ditempat mereka ditukar dengan 13 personil Dutchbat yang ditahan VRS.
Pasukan Serbia, termasuk panglima tertinggi VRS Jenderal Ratko Mladic—yang kemudian dikenal sebagai penjahat perang—membagi-bagikan permen, makanan kecil dan rokok kepada orang Bosniak yang berlindung di pos PBB itu. Mereka kemudian dipisahkan antara laki-laki dari perempuan.
Hanya dalam beberapa hari kemudian mata dunia terbelalak, mendengar ribuan pria dan anak laki-laki Muslim telah dibantai pasukan Serbia.
Sejarah mencatat pembantaian di Sebrenica terjadi sampai 22 Juli 1995. Namun orang-orang yang lolos dari maut mengatakan bahwa pembantaian terus berlangsung lama, hingga ke daerah pegunungan. Sebanyak 30 ribu muslim terbunuh, sedangkan 20 ribu perempuan muslim lainnya diperkosa secara sistematis.
Innalillahi wa inna ilaihi raa ji’uun. Inilah sebab tersendiri mengapa ia dan suaminya memilih menjadi imigran. Menyelamatkan keluarga mereka dari pembantaian dan invasi Serbia. Hingga menyeretnya menuju Jerman. Tidak berapa lama, kini ia, si kecil Fatih, dan suaminya sedang menunggu pesawat dari Texas.
Ia menatap Fatih kecil yang tampak asyik bermain lego. Matanya basah. Dalam hati ia berdoa dalam, agar Fatih menjadi muslim yang baik. Walaupun ia harus tinggal di negeri Paman Sam, yang menjunjung tinggi secara berlebihan kehidupan yang bebas.
Tetapi, di atas segalanya ia bersyukur Fatih bisa lahir di Jerman, tanpa harus merasakan pahitnya hidup di Bosnia. Semoga saja keluarga besarnya selalu dilindungi Allah.
Hari-Hari di Houston
            Menjalankan kehidupan sebagai seorang muslim di Amerika cukup berat. harus lebih berhati-hati dalam menjaga pakaian, makanan, ataupun pergaulan. Sebab itu, ibu Fatih sedari kecil sudah memahamkannya bahwa mereka tidak memakan makanan yang haram.
            Fatih yang terlihat ramah dan banyak teman, membuat teman-temannya terkesima. Ketika ia masih berumur 7 tahun ia menjelaskan kenapa mereka tidak diperbolehkan memakan makanan yang haram.
            “Aku, maksudku kami muslim, memang tidak dilarang untuk mengkonsumsi makanan yang haram. Kalian tahu, aku tidak makan babi, ataupun sembelihan yang bukan disembelih atas nama Allah. Jadi, aku tidak bisa mengkonsumsi makanan ini.”
            Sesuai dengan permintaan ibunya, sang ayah pun mengenalkan Fatih sedari kecil terhadap Islam. Di Baltimore, terdapat sebuah yayasan muslim yang dikenal dengan Islamic Society of Baltimore. Yayasan itu cukup besar, sehingga beberapa lini di bawahnya seperti Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), rumah sakit, masjid, dan lain-lain.
            Saat itu, Fatih masih berusia 9 tahun dan telah melewati beberapa tahun di Amerika. Walaupun menjadi minoritas, namun Fatih sangat mudah bergaul. Penampilannya yang khas anak-anak kulit putih membuatnya mudah diterima di segala tempat.
            Walaupun demikian, keluarga Fatih sangatlah memerhatikan kondisi keimanan anaknya, mereka secara rutin berjama’ah. Mengaji bersama, hingga seringkali membawa Fatih ke masjid besar di Baltimore.
            Fatih kecil selalu antusias saat mengikuti shalat berjamaah. Ia ingin seperti ayahnya yang selalu shalat dengan khusyuk. Saat itu ia memutuskan sesuatu yang membuat ibunya menangis.
            “Ibu, sepertinya Qur’an Class di masjid Ar-Rahmah cukup menarik. Aku sangat menyukai para pengajarnya.”
            “Ohya, alhamdulillah jika begitu.” Sang ibu menatap anaknya dengan bangga. Lalu melihat sebuah earphone di samping ponselnya.
            “Kamu mendengarkan apa, Fatih?” Sang ibu yang terkenal sangat protektif dan tidak menginginkan anaknya bergaul bebas nampak khawatir.
            “Aku mendengarkan Sudais.”
            “Sudais?”
            “Imam Sudais, Ibu. Imam besar Masjidil Haram.” Lancar sekali bibir Fatih menjelaskan.
            “Aku sangat menyukai makharij-nya. Luar biasa fasih dan sangat menyentuh hati.”
            Sang ibu menatap kaget, “Kamu suka mendengar bacaan Al-Qur’an?”
            “Iya, tentu saja. Bukankah di sekolah aku belajar itu juga.”
            “Kamu ingin menghafal Al-Qur’an, Fatih? Seperti anak-anak muslim di negeri mereka?” Cecar sang ibu dengan nada bahagia.
            Fatih dengan wajahnya yang lucu dan tampan menganggguk, “Ya. Aku ingin sekali bisa menghafalkan Al-Qur’an. Bagaimana, Bu? Aku ingin masuk Hifdz Class Program.”
            “Tentu. Bukankah selama ini kamu juga sering menghafal Al-Qur’an?”
            “Ya. Tapi, aku ingin program khusus, Bu.”
            “Ibu sangat mendukungmu, Nak.” Sahut sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca.

Menghafal Al-Qur’an di Negeri Paman Sam
            Fatih sangat menyukai aktivitasnya di masjid Ar-Rahmah, Baltimore. Ia sejak kecil memang seringkali diajak oleh orang tuanya mengunjungi masjid. Ikut shalat berjamaah, walaupun ketika kecil ia masih sering bermain-main saat ke masjid.
            Ketika ia sudah masuk di bangku sekolah dasar, Fatih di sela-sela kesibukannya tetap menghafalkan Al-Qur’an di bawah bimbingan Syaikh Qari Zahid, dan juga Syaikh Qari Abid.
            Secara menakjubkan dalam tempo yang singkat yaitu 3 tahun, Fatih kecil telah menuntaskan hafalannya. Hal yang luar biasa untuk bocah seusianya. Apalagi Fatih hidup di Houston, Texas.
            “Ayah, Ibu. Besok aku akan melewati ujian hifdz program di Ar-Rahmah. Maukah kalian datang?”
            “Tentu.” Sahut sang Ayah bangga.
            “Kamu sudah hafal seluruh Al-Qur’an, Fatih?” Ibunya menatap tidak percaya.
            “Iya. Besok aku akan diuji di depan Syaikh Qari Zahid, dan juga Syaikh Qari Abid. Maukah kalian ke sana?” Mata bening Fatih mengerjap.
            “Iya, Sayang. Kami akan ke sana, tentu saja.”
Menjadi Penghafal Termuda di Amerika
            Saat itu, Fatih kecil telah berusia 12 tahun. Walaupun masih bocah, namun jelas sekali jika banyak yang menyayanginya.
         Ujian itu ternyata berada di ruang khusus Hifdz Program Baltimore. Setelah Fatih kecil membaca beberapa juz. Ia diminta meneruskan ayat-ayat yang dibaca oleh Syaikh penguji. Demikian seterusnya. Hingga Fatih kecil nampak lelah. Saat istirahat pertama, ayahnya membawakan burger halal buatan ibunya yang sedang shalat. Hingga akhirnya ujian Hifdz Program telah usai.
           Betapa senangnya Fatih, karena ia menjadi penghafal Al-Qur’an termuda di Amerika Serikat. Berkat ketekunan, dan kesungguhannya mencintai Al-Qur’an. Selain itu, hal ini telah menghapus keraguan orang tuanya, bahwa walaupun mereka tinggal di negeri non muslim, mereka masih tetap dapat mendidik anaknya dengan ajaran sesuai syariat Islam.
Idola Baru Remaja Muslim di Dunia
            Beberapa waktu pun berlalu, Fatih Seferagic telah berusia 17 tahun. Penampilannya yang terbilang gaul, dan keren sama sekali tidak menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang hafidz Al-Qur’an. Namun, saat kita mendengarkannya mengimami jama’ah shalat. Subhanallah, semoga keberkahan selalu menyertainya setiap saat.
            Kini, di sela-sela kesibukannya, ia mengajar Al-Qur’an, dan juga melanjutkan belajar. Wajahnya yang mirip dengan salah satu bintang di Twilight semakin banyak menarik perhatian. Saat ini, Fatih telah menjadi buah bibir remaja Islam di seluruh dunia.
            Fatih juga membuka kelas jarak jauh untuk mengajar Al-Qur’an lewat Skype, namun sayangnya belum menerima murid dari Indonesia. Sebab, perbedaan waktu yang ada. Ia mengkhawatirkan jika masih saja diteruskan, murid-muridnya akan kesusahan mengkuti jadualnya. Untuk membumikan syiar dakwah Islam dan Al-Qur’an, kita dapat menghubungi Fatih di FP Facebook, Fatih Seferagic, dan di Twitter fatihseferagic.
            Fatih yang tampan ini telah mengilhami banyak remaja untuk dapat lebih mencintai Al-Qur’an. Coba kita simak bagaimana Fatih memberikan komentar mengenai kecintaannya terhadap Al-Qur’an.
        “Jika kamu membaca beberapa lembar Al-Qur’an, maka kamu akan merasakan keajaiban. Lembar demi lembarnya telah lama membuatku terkesima. Semakin lama, aku semakin mencintainya. Bacalah dengan hatimu, kamu akan merasakan hal tersebut.”
     Fatih yang juga mengunggah videonya di Youtube, banyak menarik perhatian. Betapa istimewanya keimanan, sehingga ia yang hidup di Amerika, masih terjaga di dalam lindungan Allah. Menjadi imam masjid besar di Baltimore dalam usia sangat muda. Di saat remaja seusianya masih asyik dengan sikap uga-ugalan dan tidak mengerti tujuan hidup.
         Sungguh, kita perlu banyak belajar dari Fatih Seferagic. Keajaiban Allah di negeri Paman Sam.




Jika perempuan sudah tak memiliki mahkota lagi. Tak punya rasa malu pula. Apa lagikah yang akan dibanggakan?

Bagaimanapun, masa lalu adalah bagian dari hidup kita.
(foto Pixabay)
Sore ini saya betul-betul kaget. Tak bisa berkata apa-apa. setelah seharian berbagi bahagia dengan merayakan Ied Adha bersama keluarga. Entahlah, tetiba deringan telepon di ponsel suami saya mengaung-ngaung. Menginterupsi waktu bahagia itu.

Satu kali deringan.
Dua kali.
Tiga kali.
Empat kali.
Tidak kunjung diangkat juga oleh suami saya.

Hingga sepotong pesan pendek muncul dari layar ponsel suami saya, “Aku ke sana sekarang ya. Ini penting banget.”
Dari seorang perempuan bernama anggap saja Bu Banda. 

Ini adalah salah satu relasi bisnis suami saya. Saya mulai menebak kenapa suami saya mengacuhkan telepon itu. Bisa jadi Bu Banda ini menanyakan kesiapan seorang ikhwan yang bulan lalu melakukan pra ta’aruf terhadap putrinya.
Tentu saja didampingi suami saya. 

Si Ikhwan ini seorang wirausahawan dan telah mencapai usia mapan. Sekitar 32 tahunan. Sementara putri dari Bu Banda ini berusia sekitar 24 tahun. Rasanya sudah klik. Putri Bu Banda ini adalah mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi keguruan. Mengisi hari-harinya dengan kuliah dan memberi les privat.

Nah, ideal banget kan? Selain aktivis pengajian, Bu Banda dan suaminya termasuk orang terpandang di sebuah ormas masyarakat di daerah kami. Lalu apa lagi yang membuat ikhwan X ini terkesan maju mundur?

Apakah Ikhwan Selalu Dihinggapi Rasa Ragu?

Penyakit lama ikhwan kebanyakan memang melihat secara visual. Oke lah mereka mengatakan akan mengukur kesiapan seorang akhwat dari sisi spiritualitas. Tapi, kebanyakan teori itu akan jatuh berdebum ketika dihadapkan dengan akhwat yang berpenampilan tidak menarik, berfisik biasa saja, dengan penghasilan dari kerjanya yang kecil.

Benar. Memang begitu yang banyak saya temui. Walau tidak semua demikian. Ada memang yang sangat cepat memberi keputusan dengan langsung mengatakan “Iya, saya mau sama akhwat ini.” Kalau si akhwat berkulit putih, wajah cantik, dan terkesan lemah lembut. Selainnya?

Oh, saya lupa melihat mukjizat ada yang begitu mudah dita’arufkan dengan nilai dan ukuran agama.
Maka, akhwat-akhwat yang tidak memiliki penampilan kinclong akhirnya harus pula tereliminasi sedemikian. Tapi, memang tidak semua.

Nah, ikhwan X ini saya curigai memiliki kecenderungan harus berjodoh dengan akhwat cantik. Kok, lama banget mengatakan serius dan maju pada tahap selanjutnya. Setelah saling membaca formulir dan bertemu muka. Ada apakah gerangan?

Sampai-sampai ibu dari ikhwan X ini curhat, kenapa putranya kok susah banget mencari jodoh. Mereka khawatir umur ikhwan X ini akan bertambah terus, dan karena keasyikan bekerja jadilah tak terasa kalau sedang membujang.

Masa Lalu Itu Mengagetkan Saya

Ternyata, oh ternyata bukan karena itu.
Ikhwan X ini ragu karena mendengar pengakuan dari putri Bu Banda. Yah, putri Bu Banda ternyata adalah seorang janda dengan satu anak. Dan ini dirahasiakan! 

Setelah pertemuan ta’aruf yang kesekian baru terungkap. Jarang sekali yang tahu hal ini. Akibat pergaulan yang kelepasan di awal kuliah dulu, hingga harus dinikahkan, walau kemudian bercerai kembali setelah memiliki anak. Si anak ini kini diasuh oleh Bu Banda.

Ini yang tidak pernah diungkapkan oleh putri Bu Banda pada kami. Pada mak comblangnya. Pada perantaranya. Aih, saya shock.

Bagaimana pun ukuran kesucian itu adalah hal yang penting walaupun mungkin untuk beberapa orang tidaklah demikian. 

Tapi, kenapa putri Bu Banda ini sampai kelepasan pacaran kemudian bisa bergaul bebas? 

Hingga harus menikah karena akan memilik bayi? 

Kemudian bajingan yang menghamilinya ini lari tak tahu rimbanya.

Aduh, sedih banget saya mendengarnya.

Miris. Kalau pacaran dan pergaulan bebas tidak berimbas negatif. Lihatlah ini, Ladies? Tak cukupkah fakta-fakta telanjang ini?

Sama seperti saat saya dulu mengabsen nama siswi di kelas. Yang kemudian saya tahu tak masuk lagi gara-gara harus menikah karena hamil duluan. Hancur langsung hati saya. Dan itu tidak satu atau dua kali. Bisa berkali-kali dalam sekian tahun, sekian bulan.

Padahal, mungkin kami—para guru—memang terlalu cerewet untuk mengingatkan mereka agar menjaga diri. Menyayangi diri sendiri dari serigala berbulu domba.

“Takutlah Allah, Nduk. Takutlah dosa. Minimal, kalau bukan kalian yang menghargai diri kalian dengan baik, siapa lagi kalau begitu?”

Begitu kata saya berulang-ulang. Di depan kelas. Di akhir pelajaran. Dengan ending penutup kisah-kisah pilu pergaulan bebas, dan pertolongan Allah bagi siapa saja yang menjunjung syariat-Nya.

Hingga kemudian kejadian itu saya temukan kembali sore ini. Saya tak bisa berkata-kata lagi. Jikalau ikhwan X tidak kunjung melanjutkan ta’aruf ini walaupun Bu Banda, dan putrinya begitu berharap, saya tak akan kaget lagi.

Saat Bu Banda bercerita masa lalu putrinya dengan berurai air mata. Kami tak bisa menjawab bagaimana. Kami ingin menghibur Ibu yang mungkin hatinya sudah redam akibat perbuatan putrinya di masa lalu.

Hanya saya tak bisa bicara apa-apa. Tidak untuk saat ini. []