Menjadi Ibu Rumah Tangga Bahagia: Bagaimana Caranya, Mom?

Hari ini tangan saya gatal untuk menulis tentang hal yang seringkali membuat banyak ibu rumah tangga minder dan tak percaya diri. Kenapa? Karena kebanyakan menilai bahwa profesi ini adalah tidak keren, dan sangat membosankan. Bukan begitu, Mom?



Ibu laksana pohon. Akar menghujam, daun menjuntai.

Apalagi jika si ibu adalah perempuan berprestasi. Punya segudang aktivitas, sejembreng piagam dan pencapaian. Dianggap hal yang bodoh jika memutuskan untuk tidak bekerja (di luar rumah) atau ngantor.

Saat temu reuni, atau keluarga besar entah mengapa banyak perempuan yang bekerja sebagai ibu rumah tangga saja ini minder nggak ketulungan. Jadilah, untuk menutupi keminderannya ia memakai perhiasan bling-bling lebay, atau baju dan tas bermerk. Hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya BAHAGIA. Adakah yang demikian? 

Terkadang, bahkan mungkin menangis diam-diam karena merasa energi kelelahan dan tidak ada waktu untuk me time. Menyesali nasib sembari memandang popok, dan gunungan piring kotor di area service rumah. Merutuki diri kenapa saya begini dan begitu?

Adakah yang demikian, Mom?


Dari Wanita Kantoran Menjadi Stay at Home Mom (Ibu Rumah Tangga yang di Rumah Saja)

Saya tidak sedang bicara mengenai emas ataupun perak. Kenapa saya sebut murni? Sebab terkadang, ada perempuan yang memutuskan untuk fokus pada pilihan sebagai ibu rumah tangga saja. Tanpa embel-embel bekerja di sini dan di situ. 

Well, ini adalah pilihan. Profesi ibu seperti yang dikatakan banyak orang adalah profesi yang begitu mulia. Untuk itu, butuh ilmu dan wawasan agar tidak tersesat di dalamnya. Saya sendiri, sejak masa pubertas memang ingin bekerja dari rumah, sehingga bisa leluasa untuk mengawasi anak-anak serta mengatur manajemen rumah dengan baik. Melayani suami, anak-anak, dan diri sendiri tanpa ada komando ke luar rumah.

Mungkin, saat itu saya terilhami dengan kehidupan ibu saya. Di rumah mengurus anak-anak, dan suami tapi tidak lupa untuk berkarya. Setidaknya karya yang luar biasa bagi saya. Sebuah kenangan yang menancap kuat. Bagaimana saya pulang sekolah dasar, berlari-lari kecil dan membawa nilai-nilai ulangan ataupun tes yang kebetulan kok selalu bagus. Ketika itu, hal ini begitu menyenangkan.

Ibu memberi tanggapan, dan menyiapkan makanan di dapur. Ibu selalu ada saat kami pulang sekolah. Saat kami belajar. Saat kami sakit, dan lain-lain. Sulit menemukan ibu meninggalkan rumah karena suatu hal. Bahkan saat berangkat pengajian pun kami selalu dibawanya. 

Berbeda dengan ayah, yang memang harus pergi ke kantor. Menunaikan tugas-tugas dakwah. Memberi ceramah, dan mengisi pengajian di mana-mana.


Walaupun, sempat pula saat itu saya bekerja di luar selama 8 tahun. Meninggalkan anak-anak setengah hari, saat itu masih kecil-kecil sehingga kami bersepakat untuk menggaji pengasuh. Selain itu, saya hanya setengah hari di sekolah. Selama 4 sampai 5 hari kerja.

Namun, akhirnya di tahun ke-8 saya memutuskan resign. Karena ingin fokus di rumah, selain permintaan suami. Saya juga merasa tidak mengalami banyak kemajuan dalam manajemen diri dan ruhani di tempat kerja. Padahal, tempat saya bekerja adalah sekolah islami dengan manajemen yang bagus dan ideal. Kepala sekolah juga tidak keberatan, jika kami membawa anak-anak untuk menemani mengajar.

Namun, ketika itu saya juga sudah memiliki pandangan lain untuk bekerja dari rumah sebagai penulis. Sudah beberapa buku terbit. Rasanya saya ingin lebih menjaga diri. Seperti banyak menghindari ikhtilat atau bertemu dan berinteraksi dengan nonmahram. 


Saya memutuskan resign dengan hati jernih. Walaupun, saya belum memiliki banyak tabungan untuk membantu ekonomi di rumah. Saat itu, suami juga mendukung. Min haisu laa yahtasib. Itu kata suami, saat saya agak khawatir mengenai rezeki. Lagipula, yang wajib menafkahi keluarga adalah dia, bukan saya. 

Masa Tenggang Setelah Full di Rumah


Apa yang terjadi di luar prediksi saya. Oh, ternyata menjadi ibu rumah tangga yang full di rumah itu tidaklah seringan yang saya bayangkan. Pekerjaan yang menjemukan, terkurung dalam ruang yang itu dan itu lagi. Cukup menjemukan. Jika saya tidak mengingat bagaimana Islam memandang profesi ibu di rumah sebagai hal yang mulia.

Namun, saya akui saya lebih bisa menjaga diri. Setidaknya tidak ada celah untuk berikhtilat ataupun ber haha hihi dengan lawan jenis. Bisa menunaikan ibadah dengan baik. Tanpa harus ditunda dengan agenda kerja yang ini dan itu.
 

Urusan anak dan suami pun bisa saya prioritaskan.
Akhirnya, saya pun mulai mengikuti ritmenya.

Memang, saya juga tetap bekerja dari rumah. Sebagai freelancer saya  menulis buku, mengedit, dan menjadi narablog. Di luar ekspektasi saya, saya pun bisa bekerja sebagai editor di sebuah penerbit. Bukan sebarang penerbit, karena kantor pusatnya ada di Riyad, KSA. Bekerja jarak jauh.


Alhamdulillah.

Saya juga tetap bisa mengawal anak-anak dengan penuh daya. Walaupun, saat ini saya belum memberi taklim secara intens pada anak-anak. Setidaknya, saya mulai membuat programnya. Hehe. Mungkin kapan-kapan bisa saya bagikan bagaimana taklim kecil ini berlangsung di rumah kami.

Well, Mom. Banggalah dengan profesimu. Baik bekerja di dalam atau di luar rumah. Ataupun menjadi ibu rumah tangga murni. Tetaplah belajar berbenah diri. Agar mengerti, prioritas mana yang harus di dahulukan.

Belajar memahami fikih awlawiyat dengan baik. Ini pun sedang saya lakukan. Karena saya masih sangat jauh dari memahami agama ini dengan sempurna. Berbenah dan terus berbenah.

Salam sayang,

Puspita RM



Menjadi Ibu Rumah Tangga Bahagia: Bagaimana Caranya, Mom?