25 Doa dan Dzikir Petang Lengkap Sesuai Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Arab, Latin, dan Terjemahnya


Dzikir petang (dzikir sore) dan doanya dibaca pada saat petang. Ini bisa setelah shalat maghrib, secara rutin sehingga kita bisa mengamalkannya dengan baik. 

Doa dan dzikir petang, mengaawali hari baru dengan memohon ridha Allah Azza wa Jalla.


Ada begitu banyak doa dan dzikir yang bertebaran di jagad internet. Namun, tidak semuanya berasal dari hadis sahih. Khusus dzikir, Karena merupakan ibadah yang ditentukan lafaz dan maknanya, memang harus berasal dari sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Berikut ini adalah doa dan dzikir pagi yang disyariatkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, ada 25 macam doa dan dzikir yang berhasil saya himpun di sini, berdasarkan hadis-hadis sahih.

[1] Membaca Surah Al-Fatihah 

أَعُوذُ بِاللهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ     
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Bismillahirrahmaanirrahiim, Alhamdulillahi  rabbil’alamiin, ar rahmaan nirrahiim, maalikiyaumiddiin, iyyaka na’budu, wa iyyaka nasta’im, ihdinashshiraatol mustaqiim, shirootholladzii na ‘an ‘amta alaihim, ghairil maghdhuubu bi ‘alaihim wa ladh dhaalliin.

"Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang menguasai di Hari Pembalasan. Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus,(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni'mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (Al-Fatihah : 1-7)

Keutamaan:

Sedangkan manfaat dari membaca surah Al-Fatihah ini adalah untuk me-ruqyah (mengobati) diri sendiri. Bisa dibaca sekali ataupun lebih. Dasar dari membaca Al-Fatihah ini adalah dalil sahih berikut ini. 

“Ada beberapa orang dari kalangan sahabat Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- pernah berangkat dalam suatu perjalanan yang mereka lakukan sampai mereka singgah pada suatu perkampungan Arab. Mereka pun meminta jamuan kepada mereka. Tapi mereka enggan untuk menjamu mereka (para sahabat). 

Akhirnya, pemimpin suku itu digigit kalajengking. Mereka (orang-orang kampung itu) telah mengusahakan segala sesuatu untuknya. Namun semua itu tidak bermanfaat baginya. 

Sebagian di antara mereka berkata, ‘Bagaimana kalau kalian mendatangi rombongan (para sahabat) yang telah singgah. Barangkali ada sesuatu (yakni, obat) di antara mereka.’ 

Orang-orang itu pun mendatangi para sahabat seraya berkata, ‘Wahai para rombongan, sesungguhnya pemimpin kami tersengat, dan kami telah melakukan segala usaha, tapi tidak memberikan manfaat kepadanya. Apakah ada sesuatu (obat) pada seorang diantara kalian?’  

Sebagian sahabat berkata, ‘Ya, ada. Demi Allah, sesungguhnya aku bisa me-ruqyah. Tapi demi Allah, kami telah meminta jamuan kepada kalian, namun kalian tak mau menjamu kami. Maka aku pun tak mau me-ruqyah kalian sampai kalian mau memberikan gaji kepada kami.’  

Merekapun menyetujui para sahabat dengan gaji berupa beberapa ekor kambing. Lalu seorang sahabat pergi (untuk me-ruqyah mereka) sambil memercikkan ludahnya kepada pimpinan suku tersebut, dan membaca, ‘Alhamdulillah Robbil alamin (yakni, Al-Fatihah).’ 

Seakan-akan orang itu terlepas dari ikatan. Maka mulailah ia berjalan, dan sama sekali tak ada lagi penyakit padanya. Dia (Abu Sa’id) berkata, ‘Mereka pun memberikan kepada para sahabat gaji yang telah mereka sepakati. Sebagian sahabat berkata, ‘Silakan bagi (kambingnya).’ 

Yang me-ruqyah berkata, ‘Janganlah kalian lakukan hal itu sampai kita mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kita sebutkan kepada beliau tentang sesuatu yang terjadi. Kemudian kita lihat, apa yang beliau perintahkan kepada kita.’  

Mereka pun datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- seraya menyebutkan hal itu kepada beliau. Maka beliau bersabda, ‘Apa yang memberitahukanmu bahwa Al-Fatihah adalah ruqyah?’ Kemudian beliau bersabda lagi, ‘Kalian telah benar, silahkan (kambingnya) dibagi. Berikan aku bagian bersama kalian.’  Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sedangkan pedoman mengapa membaca QS Al-Fatihah [1]: 1-7, bisa sebanyak satu hingga tujuh kali adalah sebagai berikut. 

Telah disebutkan di dalam riwayat lainnya, bahwa ruqyah itu dibaca sebanyak tujuh kali, atau bisa pula tiga kali. Sebab ruqyah merupakan doa, sedangkan disebutkan pula di dalam hadis Nabi saw, “Apabila seseorang hendak berdoa, maka ulangilah doanya hingga tiga kali …” (HR Muslim)

“Rasulullah saw juga pernah meruqyah dirinya sendiri, dengan membaca surah Al-Ikhlas dan mu’awwidzatain sebanyak tiga kali sebelum beliau beranjak tidur. (HR Bukhari)

[2] Membaca Ayat Kursi 

اللّهُ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Allahu laa ilaa haillaa huwa hayyul qoyyuum, laa ta’khudzu sinatuu wa laa naum, lahuu maa fissamaawaati wamaa fil ardhi, mandzalladzii yasyfa’u ‘indahu illaa bi’idznihi ya’lamu man baina aidiihim wa maa khalfahum, wa laa yukhiithuuna bi syai’im min ‘ilmihi illa bi maa syaa’, wa si’a kursiyyuhus samaawaati wal ardhi, wa laa yaudhuhu khifdzu humaa wa huwal aliyyul ‘adhiim.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi161 Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Al-Baqarah : 255)

Keutamaan: 
Mendapatkan perlindungan dari Allah swt.
Siapa membaca kalimat ini ketika pagi hari, maka ia dijaga dari jin hingga petang. Dan siapa mengucapkannya ketikapetang, maka ia dijaga dari jin hingga pagi.” (HR Hakim, disahihkan Al-Albani)

Merupakan ayat yang paling agung di dalam Al-Quran
Dari Ubay bin Ka'ab bahwasanya Nabi pernah bertanya kepadanya, “Ayat apakah yang paling agung dalam al-Quran?” Ubay menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Rasulullah mengulangi pertanyaaannya berulang kali, kemudian Ubay menjawab, “Ayat Kursi.” Beliau bersabda, “Mudah-mudahan ilmu ini menjadi kenikmatan atasmu, wahai Abul Mundzir! Dia (Allah) yang diriku berada di tangan-Nya, sungguh ayat kursi ini nanti akan mempunyai lisan dan dua bibir yang mensucikan Allah di sisi tiang 'Arsy." ( HR Ahmad)

Menjaga seseorang dari gangguan setan
“Dalam kisah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan setan yang mencuri harta zakat, disebutkan bahwa setan tersebut berkata, “Biarkan aku mengajarimu beberapa kalimat yang Allah memberimu manfaat dengannya. Jika engkau berangkat tidur, bacalah ayat kursi. Dengan demikian, akan selalu ada penjaga dari Allah untukmu, dan setan tidak akan mendekatimu sampai pagi.”Ketika Abu Hurairah menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam, beliau berkata, “Sungguh ia telah jujur, padahal ia banyak berdusta.” (HR Bukhari)

Merupakan salah satu penyebab seseorang masuk surga
“Barangsiapa membaca ayat kursi setelah setiap shalat wajib, tidak ada yang menghalanginya dari masuk surga selain kematian.” (HR Ath-Thabrani, dihukumi sahih oleh al-Albani)

[3] Membaca Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Naas Masing-Masing Sebanyak 3 Kali

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ، ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ، لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ
 كُفُوًا أَحَدٌۢ   
Qul huwallaahu ahad, Allaahu shshamad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakun lahu kufuwan ahad.

Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.  Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlas: 1-4)

Keutamaan: 

Siapa saja yang membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, maka Allah akan mencukupkan dirinya dari segala sesuatu. Sebagaimana hadis berikut.
“Dari Abdillah bin Khubaib radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, qul huwallahu ahad, dan mu’awwidzatain dibaca ketika memasuki pagi hari, dan petang hari sebanyak tiga kali, akan mencukupkanmu dari segala sesuatu.” (HR Abu Dawud, dan Tirmidzi, dan ia berkata hadis ini hasan sahih)

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ، مِن شَرِّ مَا خَلَقَ، وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ، وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ    

Qul a'uudzu birabbil falaq. Min syarri maa khalaq. Wamin syarri ghaasiqin idzaa waqab. wamin syarri nnaffaatsaati fii l'uqad. Wamin syarri haasidin idzaa hasad.

Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.’” (Al-Falaq 1-5)


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيم
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ، مَلِكِ ٱلنَّاسِ، إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ، مِن شَرِّ ٱلْوَسْوَاسِ ٱلْخَنَّاسِ، ٱلَّذِى يُوَسْوِسُ فِى صُدُورِ ٱلنَّاسِ، مِنَ ٱلْجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ
Qul a'uudzu birabbi nnaas, maliki nnaas, ilaahi nnaas, min syarri lwaswaasi lkhannaas, alladzii yuwaswisu fii shuduuri nnaas, mina ljinnati wannaas.

“Katakanlah: ‘Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.Raja manusia.Sembahan manusia.Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,dari jin dan manusia.’” (An-Nas: 1-6)

[4]  Membaca Dzikir Sore 

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ،
لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ ، وَسُوءِ الْكِبَرِ ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ ، وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
Amsainaa wa amsal mulku lillahi, walhamdulillah, laa ilahaillallah wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahulhamdu, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir, rabbi as’aluka khaira maa fii haadhihil lailah wa khaira maa ba’dahu, wa a’uudzu bika min syarri maa fii hadhihil lailah wa syarrimaa ba’daha, rabbi a’uudzubika minal kasali, wa suu’ul kibri, rabbi auudzu bika min ‘adzaabin naari, wa ‘adzaabilqabri.

“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan bagiNya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala se-suatu. Hai Tuhan, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Tuhan, aku berlin-dung kepadaMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Tuhan! Aku berlindung kepadaMu dari siksaan di Neraka dan kubur.”

Landasan dari dzikir tersebut adalah hadits berikut ini.
“Dari Abdillah bin Mas’ud ia berkata, adalah Nabi Shalallahu alaihi wa sallam apabila memasuki sore hari beliau mengucapkan, ‘Amsaina wa amsal mulku lillahi, walhamdulillah, laa ilahaillallah wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahulhamdu, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir, rabbi as’aluka khaira maa fii haadhihil lailah wa khaira maa ba’dahu, wa a’uudzu bika min syarri maa fii hadhihil lailah wa syarrimaa ba’daha, rabbi a’uudzubika minal kasali, wa suu’ul kibri, rabbi auudzu bika min ‘adzaabin naari, wa ‘adzaabilqabri. Dan apabila beliau memasuki pagi hari beliau akan menggantinya dengan ashbahna wa ashbahalmulku …’” (HR Muslim)


[5] Membaca Sayyidul Istighfar

اللّهـمَّ أَنْتَ رَبِّـي لا إلهَ إلاّ أَنْتَ ، خَلَقْتَنـي وَأَنا عَبْـدُك ، وَأَنا عَلـى عَهْـدِكَ وَوَعْـدِكَ ما اسْتَـطَعْـت ، أَعـوذُبِكَ مِنْ شَـرِّ ما صَنَـعْت ، أَبـوءُ لَـكَ بِنِعْـمَتِـكَ عَلَـيَّ وَأَبـوءُ بِذَنْـبي فَاغْفـِرْ لي فَإِنَّـهُ لا يَغْـفِرُ الذُّنـوبَ إِلاّ أَنْتَ 
Allahumma anta rabby laa ilaa hailla anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatho’tu. ‘a uudzu bika min syarrimaa shana’tu, abuu ‘u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bidhanbii, faghfirlii, fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa anta.

“Ya Allah, Engkau lah Tuhanku. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di dalam hidayahmu, dan perjanjian dengan-Mu. Sebisa yang aku mampu. Aku berlindung kepada-Mu, dari segala kejelekan yang aku perbuat. Aku bersyukur atas nikmat yang Engkau limpahkan kepada kami, dan aku menyesal atas segala yang dosa yang aku perbuat. Maka ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.” 

Keutamaan: 

Siapa saja membaca sayyidul istighfar kemudian meninggal maka baginya adalah surga. Hal ini seperti disebutkan dalam hadis berikut:

“Dari Syadad bin Aus radhiallahu anhu bahwa Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Sayyidul istighfar yaitu apabila engkau mengatakan, Allahumma anta rabby laa ilaa hailla anta, khalaqtanii wa ana ‘abduka, wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mas tatho’tu. ‘a uudzu bika min syarrimaa shana’tu, abuu ‘u laka bini’matika ‘alayya wa abuu’u bidhanbii, faghfirlii, fainnahu laa yaghfiru dzunuuba illa anta. Barang siapa yang mengucapkannya di pagi hari kemudian ia meninggal di sore hari. Maka ia akan menjadi penduduk surga. Serta barang siapa yang berkata pada malam harinya dan dia memiliki keyakinan terhadap lafadz tersebut, lalu ia meninggal sebelum ia merasakan pagi hari. Maka ia akan menjadi penduduk surga.’” (HR Bukhari) 

[6]   Membaca Dzikir “Radhiitu …”

رَضيـتُ بِاللهِ رَبَّـاً وَبِالإسْلامِ ديـناً وَبِمُحَـمَّدٍ صلى الله عليه
 وسلم نَبِيّـاً


Radhiitu billahi rabba, wa bil islaama diina, wa bimuhammadin nabiyya.

“Aku ridha bahwa Allah adalah Tuhanku, dan Islam adalah agamaku, dan Muhammad adalah nabiku.”

Sedangkan hadits yang menerangkan tentang lafadz dzikir tersebut adalah sebagai berikut.

Dan dari Abbas bin Abdil Mutahllib bahwasanya ia mendengar Rasulullah saw bersabda, akan menjadi lezat keimanan seseorang bagi siapa saja yang ridha bahwa Allah adalah Tuhannya, Islam adalah agamanya, dan Muhammad adalah Rasulullah.” (HR Muslim)  


[7]   Membaca dzikir “Allahumma inni amsaitu usyhidu ….”

اللَّهُمَّ إِنِّي أمْسَيْتُ  أُشْهِدُكَ ، وَأُشْهِدُ حَمَلَةَ عَرْشِكَ ، وَمَلاَئِكَتَكَ ، وَجَمِيعَ خَلْقِكَ ، أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، وَأَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ
Allahumma inni amsaitu usyhiduka, wa usyhidu hamalata ‘arsyika, wa malaaikatika, wa jamii’ukhalqika, annaka antallahu, laa ilaahailla anta, wa anna Muhammadan ‘abdaka wa rasuluka.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku di waktu pagi ini mempersaksikan Engkau, malaikat yang memikul ‘Arsyi-Mu, malaikat-malaikat, dan seluruh makhluk-Mu, bahwa sesungguhnya Engkau adalah Allah, tiada illah yang layak disembuh selain Engkau Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Mu, dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Mu.”

Keutamaan dari membaca doa tersebut di pagi dan petang hari adalah Allah akan membebaskannya dari neraka. Sebagaimana hadits yang tersebut berikut ini.

Dari Anas bin Malik semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Barang siapa mengucapkan doa ini di waktu pagi dan petang, ‘Allahumma inni amsaitu usyhiduka, wa usyhidu hamalata ‘arsyika, wa malaaikatika, wa jamii’ukhalqika, annaka antallahu, laa ilaahailla anta, wa anna Muhammadan ‘abdaka wa rasuluka, jika dibaca sebanyak satu kali maka Allah akan membebaskan seperempat dirinya dari siksa neraka. Sedangkan jika dibaca sebanyak dua kali maka Allah akan membebaskan separuh dirinya dari siksa neraka. Apabila dibaca sebanyak tiga kali maka Allah akan membebaskan dua pertiga dirinya. Sedangkan apabila dibaca sebanyak empat kali, maka Allah akan membebaskannya dari neraka seutuhnya.’” (HR Bukhari, Abu Dawud, dan Nasai).

[8] Membaca Dzikir “Allahumma maa amsaa bii ….”

اللَّهُمَّ مَا أمْسَىَ  بِيْ مِنْ نِعْمَةٍ [ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ ] فَمِنْكَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ
Allahumma maa amsaa bii min ni’matin au biahadin min khalqika, faminka wahdaka laa syarika laka, falakal hamdu, wa lakasy syukru.

“Ya Allah, nikmat yang kuterima atau diterimam oleh seseorang diantara makhluk-Mu di sore hari ini adalah dari-Mu semata, tiada sekutu bagi-Mu. Bagi-Mu segala puji, dan kepada-Mu syukur dipanjatkan.”

Sedangkan keutamaan dari doa ini dijelaskan oleh hadits berikut ini. 

“Dari Abdillah bin Ghanam Al-Bayadhi, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Barang siapa di waktu pagi mengucapkan Allahumma maa ashbaha bii min ni’matin au biahadin min khalqika, faminka wahdaka laa syarika laka, falakal hamdu, wa lakasy syukru, maka sungguh ia telah bersyukur pada hari itu. sedangkan siapa saja yang mengucapkannya di sore hari, maka ia telah dianggap bersyukur pada malam itu.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban).

[9] Membaca dzikir “Hasbiyallah ….” sebanyak 7 kali

حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
Hasbiyallaahu laa ilaaha illaa huwa ‘alayhi tawakkaltu wahuwa rabbu l’arsyi l’azhiim.

“Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”. (QS At-Taubah [9]: 129)

Keutamaan dari At-Taubah ayat 129, terdapat di dalam sebuah hadis sebagai berikut.

“Nabi Muhammad saw pernah bersabda, ‘Siapa yang di setiap pagi dan petang, ia membaca: hasbiyallaahu laa ilaaha illaa huwa ‘alayhi tawakkaltu wahuwa rabbu l’arsyi l’azhiim, sebanyak tujuh kali. Maka Allah akan memberikan kecukupan padanya, dari segala sesuatu yang membuat dirinya gundah. Baik di dalam urusan dunia maupun agama.’” (HR Abu Daud, riwayat ini juga dikutip di dalam kitab Zaad Al-Maad oleh Ibnul Qayyim)

[10] Membaca dzikir memohon perlindungan dari segala keburukan 

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِيْ لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِيْ الأَرْضِ وَلاَ فِيْ السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Bismillahi laa yadhurru ma’a smihi syaiun fil ardhi wa laa fis samaa’I wa huwa ssmii’ul aliim.

“Dengan menyebut nama Allah yang tidak akan ada sesuatu pun menimpakan madharat di bumi dan di langit. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” 

Keutamaan dari membaca dzikir ini adalah hadits sebagai berikut.
Dari Utsman bin Affan radhiallahu anhu ia berkata, telah bersanda Rasulullah saw, “Tidak akan mendapatkan bahaya dan madharat seorang hamba yang pada setiap pagi dan petang, serta di malam hari, ia selalu berdoa, ‘Bismillahi laa yadhurru ma’a smihi syaiun fil ardhi wa laa fis samaa’I wa huwa ssmii’ul aliim.’ Sebanyak tiga kali.” (HR Abu dawud dan Tirmidzi, derajat hadits ini adalah hasan sahih)

[11] Membaca doa dan dzikir pagi “Allahumma bika amsainaa …”
اللَّهُمَّ بِكَ أَمْسَيْنَا ، وَبِكَ أَصْبَحْنَا ، وَبِكَ نَحْيَا ، وَبِكَ نَمُوتُ ، وَإِلَيْكَ الْمَصِير
Allahumma bika amsainaa wa bika amsaina wa bika nahyaa, wa bika namuutu wa ilaikal masyiir.
“Ya Allah dengan nama-Mu aku memasuki sore hari, dan dengan nama-Mu aku memasuki sore hari, dan karena Engkau aku hidup, dan karena Engkau aku mati, dan hanya kepada Engkau aku kembali.” 

Landasan dari dzikir ini adalah hadits berikut ini.
“Dari Abi Hurairah radhiallahu anhu ia berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda, adalah Rasulullah saw mengajarkan kepada para sahabat untuk berdzikir, dan beliau bersabda, ‘Apabila salah seorang diantara kamu memasuki pagi hari maka hendaklah ia berkata, Allahumma bika ashbahna wa bika amsaina wa bika nahyaa, wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur. Sedangkan apabila ia memasuki sore hari, ‘Allahumma bika amsainaa wa bika ashbahnaa wa bika nahyaa, wa bika namuutu wa ilaikan nusyuur.’” (HR Tirmidzi, dan ia menyatakan bahwa hadits ini adalah hasan sahih)

[12] Membaca dzikir “Amsainaa alaa fithratil islaam …” 

أَمْسَيْنَا عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ ، وَعَلَى كَلِمَةِ الإِخْلاَصِ ، وَعَلَى دِينِ نَبِيِّنَا
 مُحَمَّدٍ _ صَلى الله عَلَيْهِ وَسَلم _ وَعَلَى مِلَّةِ أَبَيْنَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً مُسْلِماً وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Amsainaa ‘ala fithrotil Islam, wa ‘ala kalimatil ikhlash, wa ‘ala diini nabiiyinaa muhammad shallallahu alaihi wa sallam, wa ‘ala millati abaina ibrahim haniifan muslimaw wa maa kaana minal musyrikiin.

“Kami memasuki sore hari dengan ftrah Islam, dan atas kalimat keikhlasan. Atas Nabi kami Muhammad saw atas agama Bapak kami Ibrahim yang hanif, dan muslim. Dan bukanlah kami termasuk orang-orang yang musyrik.”

Keutamaan:
Sedangkan hadits yang menerangkan tentang bacaan dzikir tersebut adalah sebagai berikut.

“Dari Abdurrahman bin Abza dari Nabi shalallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Ashbahnaa ‘ala fithrotil Islam, wa ‘ala kalimatil ikhlash, wa ‘ala diini nabiiyinaa muhammad shallallahu alaihi wa sallam, wa ‘ala millati abaina ibrahim haniifan muslimaw wa maa kaana minal musyrikiin.” (HR Ahmad)

[13] Membaca dzikir “Ya, Rabbii lakal hamdu …”

يَا رَبِّ , لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ , وَلِعَظِيمِ سُلْطَانِكَ
Ya Rabbi, lakal hamdu kamaa yanbaghii lijalaali wajhika wa li adhiimi sulthoonika.
“Wahai, Rabb. Segala pujian adalah milik-Mu, sebagaimana keagungan Wajah-Mu, dan kebesaran kekuasaan-Mu.”

[14] Membaca dzikir “Subhanallah wa ….”

سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ، عَدَدَ خَلْقِهِ ، وَرِضَا نَفْسِهِ ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ
Subahnallah wa bihamdihi; adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata ‘arsyihi, wa midaada kalimatihi.

Maha Suci Allah, aku memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsyi-Nya, dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya.”

Hal yang mendasari dzikir ini adalah sebuah hadits sahih berikut.
“Dari Juwairiyah radhiallahu anha, bahwa Rasulullah saw keluar pagi-pagi sekali untuk melaksanakan shalat shubuh di masjinya. Kemudian beliau kembali saat hari telah dhuha, sedangkan saat itu dia duduk dan (mendengarkan beliau saw) bersabda, ‘Aku akan memberikan pesan untuk kamu laksanakan,” maka aku menjawab, ‘Iya.’ Maka beliau pun bersabda, ‘Aku telah mengucapkan empat kalimat sebanyak tiga kali, seandainya engkau mengucapkannya, maka dirimu akan dihiasi olehnya; subahnallah wa bihamdihi; adada khalqihi, wa ridha nafsihi, wa zinata ‘arsyihi, wa midaada kalimatihi.’” (HR Muslim)

[15] Membaca doa memohon kesehatan dan perlindungan

اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي ، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي ، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ ، اللَّهُمَّ إِني أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

Allahumma ‘aafinii fii badani, Allahumma ‘aafini fii sasm’ii, Allahumma ‘Aafini fii basharii, laa ilaa haillah anta, Allahumma inni ‘auudzubika minal kufri walfaqri, Allahumma innii ‘audzubika min ‘adzaabil qabri, laa ilahaillaa anta.

“Ya Allah! Selamatkan tubuhku (dari penyakit dan yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan pendengaranku (dari penyakit dan maksiat atau sesuatu yang tidak aku inginkan). Ya Allah, selamatkan penglihatanku, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Eng-kau. Ya Allah! Sesungguhnya aku berlin-dung kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur, tiada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Engkau.”

Sedangkan keutamaan dari doa ini adalah sebagai berikut.
“Dari Abdurrahman bin Abi Bakrah bahwa beliau berkata kepada ayahnya, ‘Wahai Ayah! Sesungguhnya aku mendengarmu berdoa setiap petang dan subuh; Allahumma ‘aafinii fii badani, Allahumma ‘aafini fii sasm’ii, Allahumma ‘Aafini fii basharii, laa ilaa haillah anta, sebanyak tiga kali, saat pagi dan petang.’ Maka Ayahnya menjawab, ‘Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berdoa dengan doa itu, maka aku menyukai untuk mengamalkan sunah beliau.’ Abbas berkata, ‘Allahumma ‘aafinii fii badani, Allahumma ‘aafini fii sasm’ii, Allahumma ‘Aafini fii basharii, laa ilaa haillah anta.’ Ia mengulanginya sebanyak tiga kali saat pagi dan petang. Ia berdoa dengan lafadz tersebut, maka aku menyukai untuk mengalmalkan sunah Rasulullah saw. ia berkata, telah bersabda Rasulullah saw, ‘Doa-doa al-makrub; Allahumma rahmatika arjuu falaa takilnii ila nafsii tharfata ‘ainin, wa ashlih lii sya’nii kullahu, laa ilahaillah anta.”  (HR Abu Dawud)

[16] Membaca dzikir “Ya hayyun ….”

يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِيْ شَأْنِيْ كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِيْ إِلَى نَفْسِيْ طَرْفَةَ عَيْنٍ
Ya Hayyun ya Qayyum, birahmatika astaghiistu, ashlih lii sya’nii kullihi walaa takilnii ilaa nafsii tharfata ‘ainin.

“Wahai Tuhan Yang Maha Hidup, wahai Tuhan Yang Berdiri Sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekalipun sekejap mata (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu).”

Sedangkan dasar dari dzikir ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra, berikut ini.

Dari Anas bin Malik ia berkata, ‘Telah bersabda Rasulullah saw kepada Fatimah ra, ‘Aku akan mewasiatkan sesuatu agar engkau melaksanakannya apabila hari telah pagi dan di petang hari; Ya Hayyun ya Qayyum, birahmatika astaghiistu, ashlih lii sya’nii kullihi walaa takilnii ilaa nafsii tharfata ‘ainin.” (HR Nasai, Al-hakim, dan Barazi).

[17]   Membaca doa petang “Amsainaa wa amsal mulku lillah …”

أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ،
لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، رَبِّ أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَخَيْرَ مَا بَعْدَهَا ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ وَشَرِّ مَا بَعْدَهَا ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ ، وَسُوءِ الْكِبَرِ ، رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ ، وَعَذَابٍ فِي الْقَبْرِ
Amsainaa wa amsal mulku lillahi, walhamdulillah, laa ilahaillallah wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahulhamdu, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadiir, rabbi as’aluka khaira maa fii haadhihil lailah wa khaira maa ba’dahu, wa a’uudzu bika min syarri maa fii hadhihil lailah wa syarrimaa ba’daha, rabbi a’uudzubika minal kasali, wa suu’ul kibri, rabbi auudzu bika min ‘adzaabin naari, wa ‘adzaabilqabri.

“Kami telah memasuki waktu sore dan kerajaan hanya milik Allah, segala puji bagi Allah. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Bagi-Nya kerajaan dan bagiNya pujian. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala se-suatu. Hai Tuhan, aku mohon kepada-Mu kebaikan di hari ini dan kebaikan sesudahnya. Aku berlindung kepadaMu dari kejahatan hari ini dan kejahatan sesudahnya. Wahai Tuhan, aku berlin-dung kepadaMu dari kemalasan dan kejelekan di hari tua. Wahai Tuhan! Aku berlindung kepadaMu dari siksaan di Neraka dan kubur.”

Sedangkan dasar dari doa dzikir ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abi Malik Al-Asy’ari ra, berikut.

“Dari Abi Malik Al-Asy’ary semoga Allah meridhainya, bahwa Rasulullah saw bersabda, ‘Apabila salah seorang diantara kalian memasuki pagi hari maka hendaklah ia berdzikir; Ashabahnaa wa ashbahalmulku lillahi rabbil ‘alamiin, Allahumma inni as’aluka khoira hadzal yaum, fathahu wa nashrahu,  wa nuurohu wa barakatuhu, a hudaahu, wa ‘audzuubika min syarri maa fiihi, wa syarrimaa ba’dahu, sedangkan jika memasuki petang, hendaklah ia mengucapkannya juga.” (HR. Abu Dawud)

[18]  Membaca doa dan dzikir “Allahumma aalimil ghaibi wa …”
اللَّهُمَّ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ، فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي ، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ ،
وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءاً أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ

Allahumma ‘aalimal ghaibi was syahaadah, faathiris samaawaati wal ardhi, rabbi kulli syain wa maliikahu, asyhadu allaa ilaa hailla anta, a’udzuu bika min syarri nafsii, wa syarri sysyaitahaai wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsi suu’aan au ajurrohu ila muslim.

“Ya Allah! Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, wahai Tuhan pencipta langit dan bumi, Tuhan segala sesuatu dan yang merajainya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang hak kecuali Engkau. Aku berlin-dung kepadaMu dari kejahatan diriku, setan dan balatentaranya, dan aku (berlindung kepadaMu) dari berbuat ke-jelekan terhadap diriku atau menyeret-nya kepada seorang muslim.”

Keutamaan dari dzikir ini adalah hadits berikut ini.
“Dari Abi Hurairah radhiallahu anhu ia berkata, ‘Abu Bakar radhiallahu anhu bertanya kepada Rasulullah saw, ‘Wahai Rasulullah, ajarilah aku sesuatu sehingga dapat aku lakukan di pagi dan sore hari.’ Maka Rasulullah saw bersabda, ‘Katakanlah, Allahumma ‘aalimal ghaibi was syahaadah, faathiris samaawaati wal ardhi, rabbi kulli syain wa maliikahu, asyhadu allaa ilaa hailla anta, a’udzuu bika min syarri nafsii, wa syarri sysyaitahaai wa syirkihi, wa an aqtarifa ‘alaa nafsi suu’aan au ajurrohu ila muslim. Katakanlah dzikir ini di pagi hari, dan di sore hari. Apabila ini engkau lakukan maka engkau akan terberkahi.’” (HR Tirmidzi, dan ia berkata bahwa hadits ini adalah hasan sahih)

[19]  Membaca doa memohon perlindungan dari keburukan
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ  

A’uudzu bikalimaatillahi ttaammati min syarri maa khalaq.

“Aku berlindung dengan Kalimat Allah yang sempurna terhadap segala kejahatan apa-apa yang telah diciptakan-Nya.”

Membaca dzikir dengan lafadz “a’uudzu bikalimaatillahi ttaammati min syarri maa khalaq” memiliki beberapa keutamaan misalnya menjaga diri dari segala gangguan yang terjadi karena jin, setan, dan manusia. Lafaz ini juga dapat menjadi perisai rumah, dari segala gangguan, sesuai dengan hadits berikut ini.

Dari Khaulah binti Hakim As-Sulaimah, dari Rasulullah saw beliau bersabda, ‘Barang siapa memasuki rumah (tempat tertentu) kemudian mengucapkan, “a’uudzu bikalimaatillahi ttaammati min syarri maa khalaq.’ Maka ia tidak akan diganggu oleh bahaya dan madharat sedikit pun, hingga ia pergi dari tempat tersebut.” (HR Tirmidzi, dan ia menyatakan bahwa hadits ini adalah hasan shahih) 

[20] Membaca shalawat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sebanyak 10 kali
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحمَّد
Allahumma shalli wa sallim wa baarik alaa nabiyyinaa Muhammad.
“Ya, Allah berikanlah keselamatan dan keberhakahan kepada Nabi kami, Muhammad.”

[21]  Membaca doa dijauhkan dari lilitan hutang, dan kemalasan

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ ، وَغَلَبَةِ الدَّيْنِ ، وَقَهْرِ الرِّجَالِ

Allahumma inni ‘audzubika minalhammi walhazani, wal’ajzi wal kasali, walbukhli, waljubni, wa ghalabatid dain, wa qahrirrijaal.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.”

Keutamaan dari doa ini dijelaskan dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik ra berikut ini.

“Dari Anas bin Malik radhiallahu anhu ia berkata, ‘Aku adalah pelayan Rasulullah saw, setiap kali beliau menetap, maka aku mendengar beliau memperbanyak doa, ‘Allahumma inni ‘audzubika minalhammi walhazani, wal’ajzi wal kasali, walbukhli, waljubni, wa ghalabatid dain, wa qahrirrijaal.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

[22]  Membaca doa memohon perlindungan dari perbuatan syirik 

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُ
Allahumma innaa naudzu bika min an nusyrika bika syaian na’lamuhu wa nastaghfiruka limaa laa na’lamuhu.

Ya. Allah. Kami berlindung dengan-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang kami ketahui dan kami memohon ampunan dari-Mu dari segala sesuatu yang tidak kami ketahui.”

[23]  Membaca tahlil sebanyak 100 kali

لَاَ إلَهَ إلّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءِ قَدِيرِ

“Laa ilaahaillallah wadahu laa syariikalahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa alaa kulli syain qadiirun.”
“Tidak ada Tuhan selain Allah, Yang Mahaesa tidak ada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan dan bagi-Nya pujian dan Dia Mahaberkuasa atas segala sesuatu.”

[24]  Membaca Tasbih 100 kali 

سُبْحـانَ اللهِ وَبِحَمْـدِهِ
“Subhanallah wa bihamdihi.”
“Mahasuci Allah dan segala pujian adalah untuk-Nya.”

[25] Membaca Istighfar 100 kali
أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأتُوبُ إلَيْهِ

“Astaghfirullah wa atuubu ilaihi.”
“Ya, Allah ampunilah aku, dan aku bertobat kepada-Mu.” 

Semoga doa dan dzikir petang ini bisa kita amalkan secara rutin dan semata karena Allah Taala. []


25 Doa dan Dzikir Petang Lengkap Sesuai Sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, Arab, Latin, dan Terjemahnya