Sebutlah Namanya dengan Cinta


Saya selalu kagum dengan pasangan yang saling tidak menjelekkan. Bahkan jika misalnya Allah mentakdirkan mereka berpisah. Pun demikian saat masih terikat dalam status suami ataupun istri. Sang suami dan istri saling berkata makruf (baik). Tidak ada niat saling membuka aib. Bahkan kemudian ketika mereka berpisah. Mereka berpisah baik-baik.

Cinta tidak akan ada jika tidak ada yang berusaha melukisnya 

Berbeda sekali dengan yang kita temukan di media visual ataupun cetak. Pasangan selebritis saling menjatuhkan saat sidang perceraian, bahkan terkesan ‘diadu domba’ oleh pihak penggosip. Digosok semakin sip. Acara ghibah massal yang tidak kunjung dicekal oleh KPI ini pun ratingnya semakin meninggi. Hehe.

Caci maki, hujatan, sebutan yang buruk, seperti hal biasa. Padahal jelas hal ini sebenarnya tidaklah elok untuk dikatakan pada pasangan kita. Jika kita tidak ingin disebut dengan panggilan yang buruk, kenapa harus memanggil dengan sebutan yang tidak pantas?

Panggil Namanya dengan Cinta
Adalah Aisyah ra. marah-marah karena menemukan bejana berisi makanan yang dikirimkan salah satu ummul mukminin kepada Rasulullah Saw.

Bahkan Aisyah ra. kemudian membanting bejana itu hingga pecah. Bejana berisi makanan itu adalah dari Zainab Binti Jahsyi ra. salah satu istri Rasulullah Saw. yang lain.

Apakah setelah melihat Aisyah marah-marah, Rasulullah Saw. mengumpat dan menghardik beliau?

Tidak. Rasulullah Saw. tetap bersikap lemah lembut dan tenang. Malah Rasulullah Saw. kemudian mengumpulkan pecahan piring tersebut, dan diberikan kepada pelayan yang diutus oleh Zainab binti Jahsyi ra.

“Ibu kalian sedang cemburu,” Rasulullah Saw. kemudian bersabda. Dan mengganti piring yang pecah itu dengan piring utuh. Riwayat ini ditulis oleh Imam Bukhari.

Demikianlah Rasulullah Saw. bersikap lemah lembut pada pasangannya. Beliau mengerti bahwa perempuan terkadang jika sedang diliputi emosi ingin melampiaskan amarahnya begitu saja. Hal ini terjadi pada Aisyah ra. yang diliputi rasa cemburu.

Ada perbedaan cara mengungkapkan perasaan antara laki-laki dan perempuan. Jika perempuan cenderung emosional dan lebih suka bersikap ekspresif, kebanyakan laki-laki terkadang memilih diam dan melakukan sesuatu.

Maka, jika suatu ketika dirimu diliputi amarah terhadap pasangan, kenapa tidak beristighafar dalam hati dan mengungkapan unek-unek dengan cara yang lebih santai? Ketimbang menghiasi rumah dengan piring terbang. Hehe.

Kisah lainnya dari pasangan suami istri dari era modern ini. Saat itu, si istri dalam keadaan marah luar biasa. Tatkala marah, sang istri kemudian melemparkan ponselnya, dan beranjak menuju lemari pakaian. Ia mengumpulkan pakaiannnya serta berbicara dengan nada mengancam.
 

“Aku akan pergi ke rumah orang tuaku sekarang,” kata Sang Istri diliputi emosi tinggi.

Melihat hal itu, Sang Suami yang sedang duduk santai di pojok kamar kaget. Dan segera mengambil tindakan. Jika ia (istrinya) pulang ke rumah orang tuanya, maka masalah akan bertambah semakin rumit. Begitu kata hati Sang Suami. 
Ia kemudian mendekati Istrinya, dan membisikkan sesuatu,

“Maafin aku ya, Sayang.” Kemudian Sang Suami melanjutkan kata-kata mesra pada Istrinya.

Ajaib, kemarahan istri mereda. Bahkan ia tidak jadi pulang, dan malah tersenyum mesra pada sang suami. Hehe. So, sweet yak.

Begitulah, jika perseteruan yang terjadi antara pasutri diimbangi dengan kemampuan untuk mengontrol emosi dari pihak suami ataupun istri.

Namun, bagaimana jika suami tidak bisa menahan diri? Dan istri juga malah demikian?

Panggilan Cinta Menandakan Rasa Sayang
Agar rumah tangga lebih harmonis, ada hal-hal yang perlu dipelajari bersama. Bahkan panggilan untuk pasangan pun harusnya bisa lebih mesra.

Mungkin panggilan Akhi ataupun Ukhti agak aneh jika kita tahu artinya. Saudariku, ataupun saudaraku. Seperti sebuah rapat di kampus? Hehe. Namun, tetap pilihan ada pada masing-masing pasangan.

Bagaimana jika Abi dan Ummi? Abi berarti ayahku, dan Ummi berarti ibuku. Apakah tidak lebih baik jika dipanggil Abah, ataupun Umma saja? Selain tidak menunjukkan sebagai ayahku ataupun ibuku tentunya juga untuk kehati-hatian.

Suatu ketika tersebutlah Khaulah binti Tsa’labah—sahabiyah yang menyebabkan Allah Swt. menurunkan ayat pertama dari surat Al-Mujadalah. Khaulah tidak terima dengan perkataan suaminya yang nampaknya mungkin sepele di mata suami namun ternyata memiliki arti yang dalam.

Khaulah binti Tsa’labah berkata, sebagaimana yang dicatat oleh Imam Ahmad bin Hambal dalam kumpulan hadisnya.

“Demi Allah, mengenai suamiku Aus bin Samit, Allah telah berkenan menurunkan padaku permulaan surat Al-Mujadalah.”

Khaulah lalu bercerita, “aku berada di sisinya, sedangkan ia adalah suami yang renta dan buruk akhlaknya. Pada suatu hari, dia menemuiku namun aku menolak keinginannya.

Dia lalu sangat marah kemudian berkata padaku, ‘Kamu bagiku adalah seperti punggung ibuku.’

Kemudian dia pergi meninggalkanku lalu duduk-duduk bersama teman-temannya di kedai. Tapi kemudian dia masuk lagi dan ingin berhubungan suami istri denganku. Aku pun menolahk.

Kataku, ‘Tidak Yang Khaulah berada di dalam genggaman-Nya. Kamu tidaklah layak lagi bagiku. Tadi, kamu telah mengatakan sesuatu yang kamu katakan itu. maka biarkanlah Allah dan Rasul-Nya memberikan keputusan mengenai urusan ini dengan hukum-Nya.’

Lelaki tua itu hendak menerkamku, namun aku memiliki cara untuk melumpuhkannya. Aku kemudian menjauhkan diri darinya. Hingga bertemu sebagian tetanggaku. Lalu aku meminjam dari mereka beberapa potong pakaian.

Selanjutnya aku pergi menemui Rasulullah Saw. aku duduk takzim di hadapan beliau. Lalu aku ceritakan pada Rasulullah apa yang terjadi. Lalu mulailah aku mengadukan pada beliau tentang akhlak suamiku. Juga perangainya yang buruk.

Rasulullah Saw lalu bersabda, ‘Wahai Khaulah, putra pamanmu itu sudah renta. Maka bertakwalah engkau tentang dirinya.’”

Khaulah kemudian berkata, “Aku kemudian terus mendesak beliau hingga turunlah ayat mengenai diriku. Saat itu Rasulullah tetiba pingsan di depanku.

Tatkala beliau sadar, beliau sangatlah gembira. Hingga kemudian beliau berkata kepadaku, ‘Hai Khaulah, sungguh Allah telah berkenan menurunkan ayat mengenai dirimu dan suamimu.’ Beliau lalu membacakan ayat tersebut.

Al-Mujadalah 1-4

Rasulullah Saw. kemudian bersabda kepadaku, “Perintahkan kepadanya untuk memerdekakan seorang hamba sahaya.”

Aku menjawab, “Ya Rasulullah, dia tidak memiliki apapun untuk memerdekakan hamba.”

“Jika demikian,” sabda Rasulullah Saw. “suruhlah dia untuk berpuasa dua bulan berturut-turut.”

“Demi Allah,” aku berkata, “Dia adalah orang yang sangat renta. Dia tidak mungkin berpuasa sebanyak itu.”

Rasulullah saw. kemudian bersabda, “Jika demikian, suruhlah ia untuk memberi makan enam puluh orang miskin dengan satu wasaq kurma.”

Aku menjawab, “Ya, Rasulullah. Dia tidak memiliki apapun untuk diberikan.”

Rasulullah Saw. kemudian bersabda, “Kalau demikian, aku akan menolongnya dengan satu keranjang kurma.”

Aku kemudian berkata, “Ya, Rasulullah. Akulah yang akan membantunya dengan satu faraq kurma lagi.”

Rasulullah Saw. kemudian bersabda, “Sungguh, engkau telah berbuat kebaikan. Pergilah, dan bersedekahlah untuknya. Lalu nasihatilah putra Pamanmu itu dengan kebajikan.”
“Aku kemudian melakukannya,” kata Khaulah. (HR. Ahmad)

Demikianlah kisah Khaulah binti Tsa’labah. Selain kebesaran hati, kesabaran, dan kecerdasan Khaulah yang saya kagumi dari hadis ini, hadis ini juga memberikan hikmah pada kita tentang ucapan yang dianggap remeh ternyata malah berakibat besar.

Dzihar artinya adalah menyamakan istri sebagaimana ibunya. Dalam hukum jahiliyah (sebelum datangnya Islam), ucapan dzihar ini dianggap sebagai kalimat talak dari suami pada istrinya.

Namun, tatkala Islam datang, maka seseorang yang mengucapkan dzihar pada istrinya diberi sanksi sebagaimana yang tercantum dalam hadis tersebut.
Ternyata ungkapan yang remeh temeh bisa berakibat besar. Jika tidak hati-hati dan selalu emosi maka ucapan akan keluar tanpa ada yang menahan. Sehingga mengakibatkan nestapa rumah tangga.

Sebaliknya, ucapan yang ringan seperti doa, hamdalah, basmalah dan lain-lain bisa menimbulkan sesuatu yang baik. Dengan ucapan tersebut tumbuhlah banyak harapan pada Allah dan bibit positif bisa tersemai di sekitar kita.

Sesungguhnya, ada panggilan sayang untuk pasangan kita agar rumah tangga harmonis. Jika tidak memulainya dari hal kecil, dapatkah ia menjadi sempurna? Jika tidak berhati-hati menjalin rangkaian agar tak menyayat lagi, maka apakah rumah harus berisi caci maki?[]

Sebutlah Namanya dengan Cinta