Cara Menulis Naskah Nonfiksi

Ingin membuat naskah nonfiksi namun bingung mau memulai dari mana? Sebenarnya, membuat naskah nonfiksi cukup mudah kok. Asal kita tahu langkah-langkahnya.

Walau dulu saya memulai menulis di media cetak dari tulisan fiksi (cerpen) tapi buku saya yang pertama lahir justru buku nonfiksi. Berturut-turut hingga belasan buku masih tetap nonfiksi. Hehe.




Mengambil Tema yang Kita Kuasai
Langkah pertama adalah menentukan tema yang ingin kita tulis. Tema untuk penulisan nonfiksi banyak sekali ragamnya. Nonfiksi adalah karangan yang berdasarkan fakta bukan imajinasi ataupun sastra  Mulai dari tema agama, kesehatan, kecantikan, pendidikan, ekonomi, dan lain-lain. Misalnya, kita ingin menulis naskah nonfiksi dengan tema agama. Tema ini tentunya lebih kita persempit lagi hingga menjadi satu bahasan yang runcing dan tajam.

Misal, suatu ketika ada permintaan untuk membuat buku dengan tema manajemen sakit hati.  Nah, tema ini agak sulit kalau dibuat sama persis dengan judul itu. Masalahnya, hingga kini saya juga masih belum bisa membayangkan bagaimana manajemen sakit hati itu. Akhirnya, saya membuat judul "Manajemen Sakit Hati: Hikmah di Balik Ujian dan Cobaan"

Judul yang agak dipaksakan di awalnya, hehe. Tapi dari judul ini. Saya sudah menarik satu benang merah untuk merangkai sebuah naskah utuh.

Saya terinspirasi dari buku karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyah yang selalu dibawa oleh almarhum Ayah saat  almarhumah Ibunda saya meninggal dahulu (semoga Allah merahmati beliau berdua, dan menempatkannya di tempat yang penuh kenimatan, aamin). Buku tersebut agak lupa judulnya, tapi sangat bagus untuk meredam duka cita. Sampulnya berwarna hijau tua, dengan tulisan menyolok. 

Membuat Sinopsis 
Apa itu sinopsis? Menurut KBBI sinopsis adalah ikhtisar karangan, yang biasanya dilampirkan bersama dengan karangan tersebut. Sinopsis juga bisa kita sebut sebagai garis besar. Artinya, sinopsis merupakan jendela pertama untuk melihat bagaimana buku tersebut nantinya.
  Sinopsis baru bisa kita tulis setelah kita melakukan riset sederhana. Mungkin ini yang agak berat dari naskah nonfiksi. Semua yang kita tulis setidaknya berdasarkan fakta yang ada, dan juga memiliki referensi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Saya yang memang agak perfeksionis selalu mencari bahan-bahan referensi induk. Misalnya saja untuk penulisan buku-buku agama, saya lebih suka membaca kitab-kitab klasik para ulama terdahulu. Setelah itu baru saya membaca buku-buku yang mungkin mengambil tema sejenis.

Setelah kita mengerti apa yang akan kita tulis. Artinya kita bisa merunutkannya di kepala kita. Sesuai dengan referensi yang telah kita pelajari ataupun wawancara dengan para ahli. Baru kita bisa memulai menulis sinopsis.


sekedar catatan, bahwa riset naskah tetap berjalan selama penulisan berlangsung. Sebab itu, terkadang ada penambahan bab ataupun poin-poin penting di dalam naskah tersebut. Tidak sama plek seperti proposal yang telah kita buat.


Membuat Outline (Kerangka)
Langkah berikutnya adalah membuat outline atau kerangka. Dengan membuat outline maka menulis akan lebih mudah dan cepat. Di beberapa penerbit ada juga yang biasa langsung memesan naskah. Saya juga beberapa kali mendapat pesanan naskah, biasanya editor akan melihat sinopsis dan outline terlebih dahulu. Saya menyebutnya proposal naskah.



Ajuan Outline

Manajemen Sakit Hati

(Hikmah di Balik Segala Ujian & Cobaan)


Puspita RM

Sinopsis

            Ujian dan cobaan, bagaimanapun bentuknya, selalu menggoreskan duka. Tangis, keluh kesah, umpatan, rasa kesal, dan kemarahan, terkadang menjadi hal yang lumrah dilakukan sebagai bentuk penolakan. Bahkan terkadang sikap menggunggat Allah Swt. pun terlontar. Ujian dan cobaan memang terasa berat jika kita tidak mengerti esensi dan hikmah dibaliknya. Maka tidaklah mengejutkan jika kebanyakan manusia yang sedang menghadapinya mengalami rasa putus asa, depresi, dan stres.

            Padahal ujian dan cobaan adalah sebuah keniscayaan di dalam hidup. Allah Swt. Tuhan yang memberi kehidupan, telah menetapkan bahwa hidup kita di dunia adalah sebagai ujian semata. Hal ini dinyatakan oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya berikut. 

Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Al-Mulk [67]: 2)

Maka, ujian dan cobaan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari hidup kita. Satu ujian akan disusul dengan ujian yang lainnya. Demikian halnya cobaan, akan selalu datang silih berganti sesuai dengan tingkat keimanan kita. Ibarat sapuan kuas di atas kanvas, berwarna-warni membentuk siluet kehidupan kita. Jika kita menelaah, kepada masa lalu yang telah lewat, masa depan yang akan datang, maka ujian dan cobaan ini menjadi sebuah rangkaian episode kehidupan.

Jika demikian kiranya, apa yang mesti kita perbuat jika ujian dan cobaan menyapa kita? Apakah nyaman hanya menghadapinya dengan umpatan, dan kesah tak berujung? Akankah putus arang, putus harapan, dan kehilangan semangat hidup melanda, karena ujian dan cobaan yang datang silih berganti?

Bagaimanapun ujian dan cobaan terkadang menggoreskan duka. Namun, banyak alasan yang seharusnya membuat kita sadar untuk tidak terlalu larut di dalam duka. Apalagi hanya dengan mengisinya dengan nasib, serta memaki takdir yang menimpa.

Ada hikmah yang seharusnya bisa kita rasakan. Hikmah laksana embun saat kita menyadari bahwa ujian dan cobaan tidak akan pernah berhenti sampai kita pada suatu saat bertemu dengan Allah. namun, tidak banyak yang mengetahui hikmah bagaimana yang bisa didapat saat cobaan dan ujian datang. Tidak semua orang bisa merabanya.

Namun, kita bisa mereguk indahnya hikmah dibalik ujian, jika berusaha. Berusaha untuk menyelami kembali hakikat hidup. Berusaha untuk kembali dekat kepada Allah. Berusaha untuk mengintrospeksi (muhasabah) apa-apa yang telah kita lakukan di dalam hidup.

Bisa jadi ujian merupakan salah satu tanda sayang Allah kepada kita. Allah mungkin sangat menyukai saat kita menangis dalam sujud-sujud panjang dan memohon kepada-Nya. Jika demikian, ujian dan cobaan merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun, di sisi lain. Ujian dan cobaan, bisa menjelma menjadi salah satu tanda peringatan serta teguran dari Allah kepada kita. Kemungkinan ada beberapa hal salah yang telah kita perbuat. Ada sesuatu yang harus kita waspadai.

Seberat-berat ujian maupun cobaan, tidak akan lebih berat jika kita dapat mengenal Allah secara baik.

Buku ini akan memberikan gambaran kepada kita tentang kiat-kiat meredam duka saat ujian dan cobaan datang. Akan membantu kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang paling sering kita lontarkan; Apa yang sebaiknya kita lakukan saat ujian dan cobaan datang? Bagaimana teladan dari Nabi Muhammad Saw. ketika beliau mendapatkan ujian dan cobaan yang begitu sulit di dalam hidup? Bagaimana kita dapat menumbuhkan kesabaran dalam menghadapi ujian hidup? Hikmah apa yang dapat membuat kita dapat menikmati cobaan sebagai embun bagi kegersangan hati kita?

Ada cara-cara yang lebih baik untuk mengekspresikan duka. Juga bagaimaan kita dapat mengkaji setiap hikmah di dalamnya. Semua itu akan tersaji secara lengkap di buku ini. Selamat membaca!

Segmentasi Pasar     

-          Remaja dan Dewasa (Umum)

Isi Buku                     

(i)      Kata Pengantar

(i)     Daftar Isi

(ii)   Pendahuluan

Isi Buku       
(i)    Kata Pengantar
(i)    Daftar Isi
(ii)   Pendahuluan
Bab I. Meredam Duka Saat Ujian dan Cobaan Datang
A.    Semua adalah Milik Allah, dan Akan Kembali Kepada-Nya
B.    Rahasia Kematian (Ajal)
C.    Rahasia Jodoh
D.    Rahasia Rezeki
Bab II. Terapi Penghilang Bara Duka
A.    Nikmat Allah Sungguh Luar Biasa
B.    Sejuknya Kesabaran Diantara Baitulhamdi
C.    Skenario Allah Lebih Indah
D.    Teladan Nabi Muhammad Saw. Saat Menghadapi Kesedihan, Kecemasan, dan Kesulitan
Bab III. Sabar adalah Keajaiban Iman
A.    Mengapa Harus Ada Ujian dan Cobaan?
B.    Fitnah Akan Membersihkan Dosa
C.    Tiada Hidup Tanpa Masalah
D.    Berbahagialah Mukmin, Karena Ia Bersabar
E.    Nilai dan Harga Surga
Bab IV. Ikhlas adalah Benteng Terbaik Mukmin Sejati
A.    Sampai Manakah Keikhlasan Itu?
B.    Hikmah dari Penderitaan
C.    Tawadhu, dan Taqarrub Mempertajam Keikhlasan
Bab V. Mengobati Penyakit Hati, Meningkatkan Kualitas Diri
A.    Fungsi Hati
B.    Penyakit-Penyakit Hati
C.    Terapi Penyakit hati
D.    Unggul dengan Jiwa Bersih, dan Hati Suci
Penutup
Daftar Pustaka
Profil Penulis


Dari outline menjadi sebuah buku

Nah, begini contoh bagaimana membuat outline yang menarik. Ajuan outline saya ini alhamdulillah, sudah terbit menjadi buku dengan judul berbeda. Loh kok beda? Biasanya ada beberapa perubahan pada naskah setelah masuk ke penerbit. Sebab itulah judul pun bersifat tentatif (belum pasti, dan bisa berubah).

Lama penulisan sebuah naskah nonfiksi bisa beragam. Saya menulis buku ini selama 2 bulan, sedangkan proses revisi setidaknya satu bulan. Terkadang, ada yang lebih cepat ataupun lebih lambat dari buku ini. Tergantung tingkat kesulitan masing-masing naskah.

Buku ini juga sudah memasuki cetakan kedua. Umur buku "Ya Allah, Tunjukilah Kami Jalan yang Lurus" cukup panjang. Karena hingga kini masih edar di pasar. Padahal saya menulisnya di tahun 2012, dan terbit di tahun 2013 dan tahun 2015. Bisa didapatkan di toko buku se-Indonesia, atau di Gramedia dan Toga Mas terdekat. 

Nah, sudah tidak bingung lagi kan bagaimana menulis naskah nonfiksi? Selamat menulis ya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Checklist dan Tips Persiapan Pernikahan Sederhana dan Islami

Broken Home Children: Benarkah Bermasalah di Masa Depan?

Kenali 6 Agenda Perawatan Kecantikan Pra Nikah Ini, Agar Kamu Tampil Cetar di Hari Pernikahan