Saya Bahagia Kok Jadi Stay At Home Mom, Memangnya Salah?

Sebenarnya saya pinginnya nulis dari leptop, tapi karena ada batita yang yah kadang sulit diajak bekerja sama. Sesekali ingin juga mencoba mengetik dari perangkat android. 


Ternyata, ringan juga ya. Sebelumnya sih kalau mau update blog saya harus membuka leptop di meja kerja. Iya, itu betul-betul meja kerja lho. Sudah puluhan buku saya edit dari meja itu, juga belasan buku saya tulis, dan ribuan artikel terbit.

Alhamdulillah, masya Allah. Semua terjadi karena kebesaran anugerah-Nya.

Ohya, kembali ke judul artikel curcol ini ya. Ceritanya sih saya lagi baper karena kemarin ke salah satu kerabat jauh. Niatnya sih silaturahmi, lha kok yang diomeli saya yah. Apa juga watak sebagian orang begitu? 

Saya mencoba meluaskan ambang kesabaran saya sebenarnya. Tapi, dari kemarin dialog itu bikin saya gondok berat. Padahal ya saya tahu kok sifatnya memang begitu. 

Subhanallah.

Dari mulai mengritik tapi kok saya seperti mendengar dia ini memarahi saya yg dianggap kurang bisa mendidik anak kedua yang kebetulan ada bias hiperaktifnya. 

Well, kalau menceritakan bagaimana kami, menghadapi serta menerapi anak kedua ini pasti bakal jadi novel. Mulai dari treatment khusus ke psikolog, hingga mencari sekolah dan juga bekerja sama dengan guru pembimbing. Semua itu belum cukup dengan linangan air mata dan doa yang  melangit terus. 

We love you, son. 

Hingga menyindir kalau saya cuma di rumah saja. Kira-kira begini dialognya.

"Sekarang sudah nggak ngajar ya?" katanya. 

Saya ngerti kok nanti ke mana arah pembicaraan itu pasti diceramahi panjang kali lebar yang sayang lah, yang begini lah, dan sebagainya. 

Jadi saya jawab saja ala emak-emak matre. 

"Iya, sudah tiga tahun di rumah. Biasa lagi dapat job ngedit penerbit bonafid plus bisa nabung dolar dari platform online. Kalau ngajar bayarannya dikit banget." 

Haha. Kok bisa ya saya ngomong gitu? Wkwkw.

Padahal niat saya dulu ngajar seneng saja bisa berkarir dan mendidik dengan ilmu yang kita miliki. Kalau selanjutnya resign itu murni panggilan hati agar bisa menjaga muruah sebagai muslimah. Gitu lho. 

Tapi kalau saya jelaskan begitu nggak bakal nyambung lah. Pasti panjaaang nanti dialognya, seperti kereta. Sementara baby saya sudah nggak betah di rumah gede yang tak ada aura bersahabat dengan anak-anak.

Begitu ya buk ibuuk, kadang kalau lagi bete begitulah perempuan yang tak mengerti atau tidak tahu bahwa pilihan hidup setiap orang akan menjadi tanggung jawabnya di akhirat kelak. 

Begitu pula dengan tanggung jawab sebagai house wife dan ibu. Itu nanti juga kita presentasikan di hadapan Allah, sejauh mana peran kita di dalamnya? 

Xoxo

Saya Bahagia Kok Jadi Stay At Home Mom, Memangnya Salah?