Ada Kodok Menangis



Kejadiannya persis di kolam samping rumah saya, ketika saya hendak membersihkan rumpur liar yang tumbuh karena hujan deras yang turun tak bervolume akhir-akhir ini. Niat yang harus saya tunda untuk beberapa saat. Kodok itu dengan mata yang sayu–kalau boleh saya katakan demikian--terus mengeluarkan air mata. Agak terkaget-kaget saya mengucek mata, kali ini mata saya tidak gatal. Tapi berusaha memahami, kodok pun punya kelenjar air mata.


Kodok adalah kodok, bukan kodok simbol.

Air mata sering diidentikkan dengan sesuatu yang menyedihkan. Maksudnya jika seseorang berada dalam sebuah kesedihan maka dia wajib mengeluarkan air mata, sebagai bukti bahwa kesedihannya itu tidak palsu. Kesedihan ternyata juga bisa direkayasa. Kiranya ini pendapat beberapa orang. Menunjukkan wajah sedih saja ternyata tidak cukup. 

Maka kesedihan pun menjadi lekat dengan perempuan. Ini karena perempuan adalah makhluk yang konon paling sering meneteskan air mata. Tak peduli apakah itu air mata kesedihan atau hanya karena mereka merasa terharu. Seorang perempuan dapat dengan mudah meneteskan air mata. Hal ini yang membuat para perempuan perlu membawa sapu tangan atau pun tissue kemana pun mereka pergi.

Beda dengan lelaki, tampaknya mereka lebih dapat ‘mengerem’ kelenjar air mata itu. Maka akan sangat memalukan, jika seorang lelaki secara ‘sembarangan’ meneteskan air mata. 

Seorang teman lelaki yang kebetulan pernah bercerita mengatakan, “Saya bisa kok menangis, tapi biasanya ketika saya sendiri. Kadang saya juga iri kepada kalian. Entah mengapa saya harus punya tempat khusus untuk menangis." 

Menangis memang monopoli kaum perempuan. Setidaknya ini yang dirasakan teman saya tadi. Dia mungkin butuh pendukung jika harus mensosialisasikan bahwa diapun ingin menangis ‘sembarangan’. Tapi, tampaknya dia butuh banyak waktu untuk itu. Karena, banyak juga perempuan yang akan tidak rela para lelaki menjadi cengeng seperti mereka. Hanya karena perbedaan jenis kelamin saja. 

Tapi, saya kurang tahu jenis kelamin kodok tadi. Apakah dia kodok jantan ataukah betina. Setidaknya saya bukan seseorang yang ahli dalam hal ini. Maka saya coba meyakinkan diri mungkin ini kodok betina, dengan satu alasan karena dia menangis sembarangan. Satu cara yang saya nilai tidak masuk akal, tapi bagaimana lagi. Menangis menjadi milik kaum tertentu saja. Dalam hal ini perempuan.   

Walaupun sebenarnya menangis itu baik dan sehat untuk siapapun. Air mata yang keluar berfungsi menghapus ketegangan syaraf pada tubuh. Salah satu penyebabnya adalah stress, karena terbeban masalah. Dan saya yakin ‘masalah’ pasti dialami siapapun. Apakah kodok yang sedang menangis ini juga dibebani banyak masalah? Entahlah. 

Stress dapat dianalogikan seperti racun maka jika tidak dikeluarkan dari tubuh akan dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh dan proses biologis lainnya. Proses pengeluaran racun dari dalam tubuh biasanya adalah saat kita berkeringat dan menangis. Selain melegakan ternyata menangis itu juga sehat. 

Alasan lain mengapa orang merasa lebih baik menangis saat emosional yaitu karena air mata yang keluar mengandung lebih banyak protein hormon penyebab stress. Dengan aktivitas menangis ini, air mata yang keluar akan menstimulasikan produksi hormon endorphin sehingga muncullah rasa lebih baik. Menyadari fungsi airmata maka tidak heran para psikolog menyarankan pasiennya untuk 'menangis' sebagai langkah awal agar memulai penyembuhan stress. 

Terlepas dari itu semua Allah sendiri juga sudah memberi isyarat tentang itu, “Dan mereka menyungkurkan atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’” (Al Israa’: 109). Inilah sebab mengapa Rasulullah saw. juga sering menangis. Bahkan para sahabat yang gagah perkasa itu juga tak segan-segan untuk menangis. Mereka tidak mau menyimpan air mata hanya karena alasan jaim (baca: jaga image). 

Anas ra.berkisah: “Rasulullah pernah berkhutbah dengan khutbah yang selama hidup aku tidak pernah mendengarnya. Rasulullah saw. bersabda: 'Andaikata kalian mengetahui apa-apa yang aku ketahui, maka niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kemudian para sahabat menutupi wajah mereka dan menangis tersedu-sedu'.” (Muttafaq ‘alaih).

Jadi saya pikir rugi rasanya kalau hanya karena alasan jaim malah tidak bisa nyunnah. Tentu saja menangisnya juga bukan menangis biasa. Para sahabat pasti nggak sempet menangis hanya gara-gara nonton sinetron atau kekalahan klub sepakbola kesayangan. 

Menangis pun ada aturannya, itu kesimpulan yang bisa saya ambil setelah banyak membaca hadits tentang menangis. Satu hadits yang membuat saya begitu terkesan adalah bahwa orang yang berdzikir (mengingat) Allah saat sendiri hingga air matanya menetes bercucuran termasuk dari tujuh golongan yang mendapat naungan Allah ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya. Subhanallah!  

Bahkan mungkin saja kodok itu juga menangis karena sedang berdzikir pada Allah. Bukankah musim penghujan melimpahkan sedemikian banyak air yang membuatnya dan –pasti keluarganya- bahagia? Saya mencoba berhusnudzon pada kodok itu. Kodok juga hamba Allah kan?

Kalau sudah begini, rasanya tidak bijak jika kita mengatakan bahwa air mata itu identik dengan perempuan. Apalagi memberinya embel-embel kesedihan. Karena saya takut jika suatu ketika nanti teman lelaki banyak yang demo hanya gara-gara tidak boleh meneteskan air mata. 

                                                              


Ada Kodok Menangis