Adab dan Etika Muslimah Bermedia Sosial


Dinamika politik mulai memanas menjelang tahun pemilihan. Apalagi jika ini dirasakan oleh emak-emak seperti saya, yang memiliki beberapa akun media social. 


Ada fesbuk, twitter, dan instagram. Walaupun yang paling aktif adalah fesbuk dan twitter. Karena saya ogah pasang foto pribadi di beranda instagram. Juga tak mau memasang aplikasinya di gawai saya yang memorinya rada berjubel akibat file-file editan, e-book, ataupun majalah online.

Waspada dengan memahami adab dan etika muslimah bermedia sosial.


Adakah emak yang merasa baper? Sebel? Kecewa? Jika memosting sesuatu, maka tiba-tiba ada tanggapan yang membuat diri kita kaget setengah hari? Akhirnya debat tak berujung pun dimulai. Hehe.

Sebetulnya, keberpihakan pada hal yang diyakini adalah sesuatu yang wajar. Bagi saya, tidak ada kata netral dalam bersikap. Setiap kita memiliki pilihan, nah dalam pilihan itulah dia bersikap demikian. 

Area abu-abu tidak mungkin dimiliki seorang Muslim. Dirinya harus tegas bersikap, antara yang hak dan batil. Allah sudah memberi kita karunia begitu banyak berupa akal yang bisa digunakan untuk berpikir. Sayangnya, banyak sebagian dari kita—mungkin saya juga, terkadang bersikap oportunis. Mau aman sendiri. 

Okelah. Jika tak mau ikut andil. Namun, pastinya semua itu akan mengerucut pada satu hal berupa pilihan. Adalah wajar jika pilihan kita akan berbeda dengan pilihan emak lainnya. Itu sangat lumrah. 

Yang aneh adalah jika karena perbedaan itu, kita malah kurang adab dan ricuh di postingan orang lain. Well, begitu. Rasanya lebih baik jika memosting sendiri uneg-unegnya di postingan pribadi. Karena fesbuk itu gratis, Mak. 

Ada ribuan jam untuk bisa memosting uneg-uneg yang demikian. Ketimbang sakit hati dengan postingan orang lain. 

Ada beberapa pilihan juga jika kita merasa sebal dengan postingan orang. Kita bisa menyembunyikan postingan itu, melakukan snooze, meng-unfollow, meng-unfriend, ataupun blokir. Yah itu pilihan. Bebas-bebas saja sebetulnya. 

Jadi, Mak. Sebenarnya bagaimana sih seharusnya adab Muslimah di social media?

Jauhi Ikhtilat
Mentang-mentang ini social media, maka banyak emak yang asyik berhaha-hihi dengan nonmahram. Jangan ya Mak. Ini adalah satu pintu setan untuk tindakan yang nantinya menyalahi syariat. 

Ada begitu banyak contoh-contoh ketidaksetiaan hanya gara-gara social media. Jaga betul cara-cara berkomunikasi dengan nonmahram. 

Nggak Perlu Baper-an
Ya iyalah, Mak. Kenapa harus ber-baper ria dengan status ataupun postingan orang lain? Betul nggak? Itu adalah status dia Mak, bukan status anaknya Emak? Mau dianya gini, gitu, yah terserah dia Mak. 

Mungkin teman Emak itu mau ngeluarin curhat terselubung atau cuma ngingetin diri sendiri. Jadi, jangan baperlah dengan postingan orang lain. Kedepankan bersikap positif ya. 

Jadi, kalau ada postingan yang tidak kita sukai caranya gampang, Mak. Bisa disembunyikan, dilewatkan saja, atau kalau mau diskusi tanya baik-baik lewat jalur pribadi. 

Jangan Menyebar Berita Bohong
Sebelum Emak yakin kalau berita itu terjadi, baiknya dikonfirmasi dulu dari mana sumber berita tersebut. 

Ada baiknya untuk segala macam sumber, ataupun tautan adalah media terpercaya ya. Bukan yang abal-abal. Sebab, hari gini Mak. Semua orang bisa jadi ‘jurnalis’ dadakan. 

Jangan Mengumbar Masalah Rumah Tangga 
Saya paling tidak setuju jika area privasi ini dilanggar. Bukan kenapa-kenapa sih, Mak. Sebab, kadang teman-teman ataupun follower kita pun juga tidak akan begitu mudahnya memberi solusi. Kebanyakan mungkin sekedar kepo (ingin tahu), atau malah nyukurin. Jadi, kalau punya masalah dan problem mending dibicarakan dengan orang kepercayaan saja ya. 

Tidak Perlu Mengumbar Kemesraan 
Ada penyakit ain dan itu adalah benar. Saya sendiri begitu menjaga hal ini. Ya, mungkin ada yang menganggap saya agak tertutup mengenai kehidupan pribadi. Tapi, inilah saya. Saya ingin privasi dalam keluarga tidak diusik. Begitu banyak hal yang merampas privasi kita di dunia maya. Masa mau semuanya diumbar di publik? 

Lindungi Identitas Keluarga
Walaupun eranya serba cekrek-posting, cekrek-posting, jangan sampai anggota keluarga kita menjadi incaran orang yang tak bertanggung jawab ya. Misalnya dengan memajang foto anak-anak sekaligus menceritakan semua kesehariannya. Malah dengan bangga menyebut nama sekolah, alamat juga. Waduh, gawat dong kalau begini. Sebab, bisa jadi malah sasaran kejahatan. 

Ingat Waktu 
Bagaimanapun menghabiskan waktu berjam-jam dengan durasi lama untuk sekadar bersosial media itu kurang baik. Selain banyak menimbulkan fitnah juga ada begitu banyak madharat. Lagipula, waktu kita kan tidak harus habis di dalam dunia maya?

Berdakwah Selagi Bisa
Ada baiknya jika kesempatan bersosial media, bisa kita manfaatkan untuk berdakwah, Mak. Memahami bagaimana adab dan etika muslimah bermedia sosial. Semoga saja Allah Taala memudahkan kita ya. Aamin[]

Adab dan Etika Muslimah Bermedia Sosial