Jika Suami ‘Pelit’ Apa yang Harus Dilakukan?



Diperlukan komunikasi yang baik (Foto: Pixabay)



 “Gimana yah, mau curhat temen-temen,” kata teman saya itu di sebuah grup Whatshapp.



Grup ini adalah grup emak-emak banget, karena semuanya udah jadi emak kecuali beberapa saja yang kebetulan masih lajang. Grup khusus perempuan yang seru, sebab cuma di grup itu bisa nyamain visi, misi, orientasi politik ala emak-emak. Hehe.




“Kalau suami agak pelit gimana yah? Kita sampai debat uang nafkah sama belanja itu yang mana. Kok, uang belanja ditanya-tanya buat apa saja. Kok bisa habis. Di  kemanakan semua uangnya?” begitu kemudian tulisnya.



Saya kaget dong. Tentu teman-teman saya yang lain. Sebab, jarang banget kita ngomongin urusan rumah tangga rame-rame. Paling-paling biasanya curhat ala jaringan pribadi.



“Saya jadi pingin kerja saja kalau kayak gini. Ini kan uang belanja, campur juga sama uang kebutuhan sehari-hari. Udah diirit irit banget, tapi selalu dikatakan boros. Kan sakit hati akunya,” lanjutnya kemudian.



“Jangan kerja say, ntar baby-nya sama siapa?” kata teman lain menanggapi.



“Sabar, sabar yah. Mungkin suami lagi senewen. Banyak urusan gitu.”



“Ditulis saja say, biar suami tahu kalau kebutuhan sekarang tuh nggak dikit.”



“Iya, tulis  saja daftarnya.”



“Udah aku tulis sih, tapi lama-lama capek juga yah,” jawabnya.



“Sabar jeng, aku saja jatah belanja harian yang dikasih. Buat keperluan lain, dia pegang uangnya sendiri. Jadi, kalau butuh apa-apa, ya aku harus minta-minta dulu ke suami. Katanya aku ini nggak bisa pegang uang sendiri gitu. Aku sih nggak apa-apa. Yang penting bisa bersyukur,” teman lain bercerita membesarkan hati.



Percakapan pun berlanjut hingga kesekian-kesekian kali.




Fenomena Pasutri Modern



Entah, saya harus bagaimana. Tapi, keluhan semacam itu sering sekali terjadi. Well, saya nggak mungkin dong cerita mengenai masalah nafkah suami di artikel ini. Karena tidak ada yang harus saya keluhkan.



Dalam Islam konsep nafkah merupakan hal yang sudah ada rumusnya. Artinya, suami wajib menafkahi istri. Wajib ini jika tidak dilakukan maka akan menjadi dosa. Seperti halnya kewajiban yang lainnya. Hal tersebut sudah sangat jelas dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Istri pun berkewajiban patuh pada suami.Tidak membangkah atau durhaka.



Karena menikah itu ibadah, tentu saja semua yang dilakukan berpahala. Maka akan sangat mengherankan jika ada suami yang berkata, “Enak saja dia pegang uang banyak-banyak kan yang kerja aku?”



Ada juga yang pelit banget sama istri, namun begitu royal dan pemurah terhadap teman-temannya. Padahal yang wajib itu menafkahi istri, Bro. Bukan menafkahi temanmu. Gitu keles.



Namun, ada juga yang percaya sepenuh hati istri akan mampu memanajemen keuangan dengan baik. Suami percaya menyerahkan uang belanja dengan ukuran yang makruf. Ukuran yang baik; yang cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Cukup memenuhi kebutuhan istri secara pribadi. Sembari mendoakan dan berterima kasih atas kerelaan dan perjuangan istri. Istri pun akan menerima dengan hati berbunga.



Percayalah, seorang istri salihah itu tidak minta apa-apa, kecuali suami taat dan patuh pada Allah. Bukankah berbuat makruf pada istri dan keluarga merupakan ciri sebaik-baik Muslim?
Tidak perlu ngomel-ngomel ketika menyerahkan uang belanja sambil melotot. Percuma, bisa-bisa nafkah yang dikeluarkan secara tak rela itu tidak ada pahalanya di sisi Allah. Jadi, useless banget kan? Apalagi, sambil mengungkit ini itu.



Iya, saya masih belum habis pikir. Kenapa ada suami-suami yang begitu ‘perhitungan’ terhadap istri. Bahkan ketika istri bekerja juga. Entah dengan menjadi wanita karir, atau berwirausaha di rumah. Terkadang, malah tulang rusuk ini menjadi tulang punggung saking suksesnya mengais rezeki.



Akhir cerita, teman saya tadi sekarang berwirausaha dari rumah. Yah, dengan izin suaminya tentu. Semoga, rumah tangganya diberkahi Allah. Riak-riak rumah tangga akan selalu terjadi. Yang penting, keinginan dan usaha kita bagaimana agar Allah selalu ridha. Wallahu a’lam.



Jika Suami ‘Pelit’ Apa yang Harus Dilakukan?