Masa Kecil Fatih Seferagic Saat Menghafal Al-Quran





Courtesy @fatihseferagic (Facebook FansPage)

 Secara menakjubkan dalam tempo yang singkat yaitu 3 tahun, Fatih kecil telah menuntaskan hafalannya. Hal yang luar biasa untuk bocah seusianya. Apalagi Fatih hidup di Houston, Texas.


Dari Jerman ke Amerika

            Udara masih saja menggigil saat keluarga Seferagic memutuskan untuk membawa anak mereka yang masih berusia 4 tahun ke bandara. Sebenarnya, sang ibu—seorang muslimah berkebangsaan Bosnia, berkerudung, namun berkulit putih dan bermata biru—masih betah tinggal di Jerman. Namun, suaminya meminta dia dan anaknya untuk mengikutinya ke Amerika Serikat.

            “Kamu yakin bisa hidup di negeri itu, Sayang?” Tanya sang istri cemas.

            “Insya Allah, ini lebih baik dari di Sturtgartt.”
       
       “Bukankah Amerika terkenal sebagai nerara yang sangat bebas? Di sana tidak ada aturan tertentu mengenai kehidupan. Bebas sebebas-bebasnya.”

            Suaminya memandang dengan lembut, “Walaupun di sana tidak ada adzan, jarang terdapat masjid seperti di Bosnia, ataupun masyarakatnya sangat bebas. Kita akan berjuang agar anak kita mendapatkan pendidikan terbaik di sana.”

            “Pendidikan terbaik bagaimana?” Sang istri masih saja ragu.

            “Kita akan mencarikannya sekolah Islam terbaik. Aku sudah mencari-cari di internet. Ada komunitas Islam yang baik di Baltimore, di sana nanti Fatih akan belajar dengan baik. Tenanglah, Sayang. Kita sudah pernah melewati masa-masa terburuk di Bosnia, lalu di Jerman. Kita akan menang di Amerika nanti. Fatih akan menjadi muslim yang baik.” Panjang lebar sang suami menjelaskan.

           Perempuan berkerudung itu menghela nafas panjang, mencari ketenangan dalam dirinya. Tidak mudah memang menjadi seorang imigran. Namun, Bosnia sejak penyerangan Serbia, dan peristiwa pembantaian muslim, ia merasa Bosnia tidak lagi aman untuk calon putranya.

     Kepindahannya ke Stutgartt, Jerman adalah untuk melahirkan dan memulai hidup baru. Bagaimana mungkin bisa hidup dengan tenang di Bosnia? Tanah Bosnia telah terkoyak-koyak sedemikian rupa karena invasi Serbia. Bagaimana mungkin ia melupakan pembantaian di Sebrenica?

   Ia masih sangat jelas mengingat, bagaimana kondisi Bosnie pada bulan April 1993, Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapan Sebrenica sebagai zona aman. Tidak ada yang boleh mengangkat senjata di daerah itu termasuk Muslim Bosnia, meskipun itu adalah wilayah mereka. Tapi pasukan Serbia yang sejak awal mengincar wilayah itu tidak mau mematuhi ketentuan PBB.
Puluhan ribu orang Bosniak (sebutan untuk etnis muslim Bosnia) berkumpul di pos kemananan PBB yang dikawal Dutchbat (tentara Belanda) di Potocari, Srebrenica, untuk mencari perlindungan dari serangan tentara Serbia pada 11 Juli 1995. Pejuang-pejuang Muslim Bosnia tidak bisa melawan, karena persenjataan mereka telah diserahkan kepada pasukan PBB, sebagai tanda kepatuhan atas ditetapkannya Srebrenica sebagai zona aman yang dilindungi PBB. Dan pasukan PBB tidak mau memberikan kembali senjata itu kepada pejuang Muslim.
Dengan alasan kekurangan personil dan persenjataan, serta tidak ada dukungan pasukan udara dari markas mereka, Dutchbat membiarkan pasukan Serbia masuk ke Srebrenica dengan persenjataan lengkap. Pasukan Belanda dibawah komando Kolonel Karremans memilih mundur, meninggalkan begitu saja warga Muslim Bosnia yang mencari perlindungan. Nyawa 30 ribu Muslim yang berlindung ditempat mereka ditukar dengan 13 personil Dutchbat yang ditahan VRS.
Pasukan Serbia, termasuk panglima tertinggi VRS Jenderal Ratko Mladic—yang kemudian dikenal sebagai penjahat perang—membagi-bagikan permen, makanan kecil dan rokok kepada orang Bosniak yang berlindung di pos PBB itu. Mereka kemudian dipisahkan antara laki-laki dari perempuan.
Hanya dalam beberapa hari kemudian mata dunia terbelalak, mendengar ribuan pria dan anak laki-laki Muslim telah dibantai pasukan Serbia.
Sejarah mencatat pembantaian di Sebrenica terjadi sampai 22 Juli 1995. Namun orang-orang yang lolos dari maut mengatakan bahwa pembantaian terus berlangsung lama, hingga ke daerah pegunungan. Sebanyak 30 ribu muslim terbunuh, sedangkan 20 ribu perempuan muslim lainnya diperkosa secara sistematis.
Innalillahi wa inna ilaihi raa ji’uun. Inilah sebab tersendiri mengapa ia dan suaminya memilih menjadi imigran. Menyelamatkan keluarga mereka dari pembantaian dan invasi Serbia. Hingga menyeretnya menuju Jerman. Tidak berapa lama, kini ia, si kecil Fatih, dan suaminya sedang menunggu pesawat dari Texas.
Ia menatap Fatih kecil yang tampak asyik bermain lego. Matanya basah. Dalam hati ia berdoa dalam, agar Fatih menjadi muslim yang baik. Walaupun ia harus tinggal di negeri Paman Sam, yang menjunjung tinggi secara berlebihan kehidupan yang bebas.
Tetapi, di atas segalanya ia bersyukur Fatih bisa lahir di Jerman, tanpa harus merasakan pahitnya hidup di Bosnia. Semoga saja keluarga besarnya selalu dilindungi Allah.
Hari-Hari di Houston
            Menjalankan kehidupan sebagai seorang muslim di Amerika cukup berat. harus lebih berhati-hati dalam menjaga pakaian, makanan, ataupun pergaulan. Sebab itu, ibu Fatih sedari kecil sudah memahamkannya bahwa mereka tidak memakan makanan yang haram.
            Fatih yang terlihat ramah dan banyak teman, membuat teman-temannya terkesima. Ketika ia masih berumur 7 tahun ia menjelaskan kenapa mereka tidak diperbolehkan memakan makanan yang haram.
            “Aku, maksudku kami muslim, memang tidak dilarang untuk mengkonsumsi makanan yang haram. Kalian tahu, aku tidak makan babi, ataupun sembelihan yang bukan disembelih atas nama Allah. Jadi, aku tidak bisa mengkonsumsi makanan ini.”
            Sesuai dengan permintaan ibunya, sang ayah pun mengenalkan Fatih sedari kecil terhadap Islam. Di Baltimore, terdapat sebuah yayasan muslim yang dikenal dengan Islamic Society of Baltimore. Yayasan itu cukup besar, sehingga beberapa lini di bawahnya seperti Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), rumah sakit, masjid, dan lain-lain.
            Saat itu, Fatih masih berusia 9 tahun dan telah melewati beberapa tahun di Amerika. Walaupun menjadi minoritas, namun Fatih sangat mudah bergaul. Penampilannya yang khas anak-anak kulit putih membuatnya mudah diterima di segala tempat.
            Walaupun demikian, keluarga Fatih sangatlah memerhatikan kondisi keimanan anaknya, mereka secara rutin berjama’ah. Mengaji bersama, hingga seringkali membawa Fatih ke masjid besar di Baltimore.
            Fatih kecil selalu antusias saat mengikuti shalat berjamaah. Ia ingin seperti ayahnya yang selalu shalat dengan khusyuk. Saat itu ia memutuskan sesuatu yang membuat ibunya menangis.
            “Ibu, sepertinya Qur’an Class di masjid Ar-Rahmah cukup menarik. Aku sangat menyukai para pengajarnya.”
            “Ohya, alhamdulillah jika begitu.” Sang ibu menatap anaknya dengan bangga. Lalu melihat sebuah earphone di samping ponselnya.
            “Kamu mendengarkan apa, Fatih?” Sang ibu yang terkenal sangat protektif dan tidak menginginkan anaknya bergaul bebas nampak khawatir.
            “Aku mendengarkan Sudais.”
            “Sudais?”
            “Imam Sudais, Ibu. Imam besar Masjidil Haram.” Lancar sekali bibir Fatih menjelaskan.
            “Aku sangat menyukai makharij-nya. Luar biasa fasih dan sangat menyentuh hati.”
            Sang ibu menatap kaget, “Kamu suka mendengar bacaan Al-Qur’an?”
            “Iya, tentu saja. Bukankah di sekolah aku belajar itu juga.”
            “Kamu ingin menghafal Al-Qur’an, Fatih? Seperti anak-anak muslim di negeri mereka?” Cecar sang ibu dengan nada bahagia.
            Fatih dengan wajahnya yang lucu dan tampan menganggguk, “Ya. Aku ingin sekali bisa menghafalkan Al-Qur’an. Bagaimana, Bu? Aku ingin masuk Hifdz Class Program.”
            “Tentu. Bukankah selama ini kamu juga sering menghafal Al-Qur’an?”
            “Ya. Tapi, aku ingin program khusus, Bu.”
            “Ibu sangat mendukungmu, Nak.” Sahut sang ibu dengan mata yang berkaca-kaca.

Menghafal Al-Qur’an di Negeri Paman Sam
            Fatih sangat menyukai aktivitasnya di masjid Ar-Rahmah, Baltimore. Ia sejak kecil memang seringkali diajak oleh orang tuanya mengunjungi masjid. Ikut shalat berjamaah, walaupun ketika kecil ia masih sering bermain-main saat ke masjid.
            Ketika ia sudah masuk di bangku sekolah dasar, Fatih di sela-sela kesibukannya tetap menghafalkan Al-Qur’an di bawah bimbingan Syaikh Qari Zahid, dan juga Syaikh Qari Abid.
            Secara menakjubkan dalam tempo yang singkat yaitu 3 tahun, Fatih kecil telah menuntaskan hafalannya. Hal yang luar biasa untuk bocah seusianya. Apalagi Fatih hidup di Houston, Texas.
            “Ayah, Ibu. Besok aku akan melewati ujian hifdz program di Ar-Rahmah. Maukah kalian datang?”
            “Tentu.” Sahut sang Ayah bangga.
            “Kamu sudah hafal seluruh Al-Qur’an, Fatih?” Ibunya menatap tidak percaya.
            “Iya. Besok aku akan diuji di depan Syaikh Qari Zahid, dan juga Syaikh Qari Abid. Maukah kalian ke sana?” Mata bening Fatih mengerjap.
            “Iya, Sayang. Kami akan ke sana, tentu saja.”
Menjadi Penghafal Termuda di Amerika
            Saat itu, Fatih kecil telah berusia 12 tahun. Walaupun masih bocah, namun jelas sekali jika banyak yang menyayanginya.
         Ujian itu ternyata berada di ruang khusus Hifdz Program Baltimore. Setelah Fatih kecil membaca beberapa juz. Ia diminta meneruskan ayat-ayat yang dibaca oleh Syaikh penguji. Demikian seterusnya. Hingga Fatih kecil nampak lelah. Saat istirahat pertama, ayahnya membawakan burger halal buatan ibunya yang sedang shalat. Hingga akhirnya ujian Hifdz Program telah usai.
           Betapa senangnya Fatih, karena ia menjadi penghafal Al-Qur’an termuda di Amerika Serikat. Berkat ketekunan, dan kesungguhannya mencintai Al-Qur’an. Selain itu, hal ini telah menghapus keraguan orang tuanya, bahwa walaupun mereka tinggal di negeri non muslim, mereka masih tetap dapat mendidik anaknya dengan ajaran sesuai syariat Islam.
Idola Baru Remaja Muslim di Dunia
            Beberapa waktu pun berlalu, Fatih Seferagic telah berusia 17 tahun. Penampilannya yang terbilang gaul, dan keren sama sekali tidak menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang hafidz Al-Qur’an. Namun, saat kita mendengarkannya mengimami jama’ah shalat. Subhanallah, semoga keberkahan selalu menyertainya setiap saat.
            Kini, di sela-sela kesibukannya, ia mengajar Al-Qur’an, dan juga melanjutkan belajar. Wajahnya yang mirip dengan salah satu bintang di Twilight semakin banyak menarik perhatian. Saat ini, Fatih telah menjadi buah bibir remaja Islam di seluruh dunia.
            Fatih juga membuka kelas jarak jauh untuk mengajar Al-Qur’an lewat Skype, namun sayangnya belum menerima murid dari Indonesia. Sebab, perbedaan waktu yang ada. Ia mengkhawatirkan jika masih saja diteruskan, murid-muridnya akan kesusahan mengkuti jadualnya. Untuk membumikan syiar dakwah Islam dan Al-Qur’an, kita dapat menghubungi Fatih di FP Facebook, Fatih Seferagic, dan di Twitter fatihseferagic.
            Fatih yang tampan ini telah mengilhami banyak remaja untuk dapat lebih mencintai Al-Qur’an. Coba kita simak bagaimana Fatih memberikan komentar mengenai kecintaannya terhadap Al-Qur’an.
        “Jika kamu membaca beberapa lembar Al-Qur’an, maka kamu akan merasakan keajaiban. Lembar demi lembarnya telah lama membuatku terkesima. Semakin lama, aku semakin mencintainya. Bacalah dengan hatimu, kamu akan merasakan hal tersebut.”
     Fatih yang juga mengunggah videonya di Youtube, banyak menarik perhatian. Betapa istimewanya keimanan, sehingga ia yang hidup di Amerika, masih terjaga di dalam lindungan Allah. Menjadi imam masjid besar di Baltimore dalam usia sangat muda. Di saat remaja seusianya masih asyik dengan sikap uga-ugalan dan tidak mengerti tujuan hidup.
         Sungguh, kita perlu banyak belajar dari Fatih Seferagic. Keajaiban Allah di negeri Paman Sam.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Checklist dan Tips Persiapan Pernikahan Sederhana dan Islami

Broken Home Children: Benarkah Bermasalah di Masa Depan?

Kenali 6 Agenda Perawatan Kecantikan Pra Nikah Ini, Agar Kamu Tampil Cetar di Hari Pernikahan