Tangguh dan Kuat Menjadi Single Mom


Tidak ada seorang pun di dunia ini menginginkan pernikahannya berakhir dengan perceraian, dan menyandang status sebagai single mom. Namun, terkadang takdir berkata lain.

Pernikahan yang sejatinya digadang-gadang sehidup-semati malah kandas di tengah jalan. Jika demikian apa yang harus dilakukan?

Kesendirian melahirkan kemandirian



Masih Tabu 

Sedih, nelangsa, bahkan depresi kerap kali menghampiri para single mom. Saya beberapa kali berbicara dari hati ke hati dengan ibu-ibu tangguh ini. Walaupun, berusaha tegar namun banyak pula yang ambruk dan larut berkubang kesedihan. Apalagi, di negara kita status ‘janda’ bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan. Bahkan terkesan tabu. 

Pun demikian di kota kecil yang saya tinggali sekarang. Desas-desus dan omongan tetangga ataupun rekan kerja dari para single mommies ini seperti lebah yang berdengung-dengung. Sangat mengganggu tapi mau gimana lagi. Begitu kata mereka.

Salah satu single mom tangguh yang sering saya temui—sebut saja Nyonya A—begitu positif memandang hidupnya. Dahulu, sebelum kenal dekat dengannya, saya tak menduga jika ia adalah seorang single parent. Bahkan tak ada satupun kata darinya yang menunjukkan jika ia adalah seorang ibu tunggal. Baru beberapa tahun kemudian, saya tahu alasan Nyonya A bercerai. Karena suami tidak mau menafkahi sekaligus melakukan KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) kepadanya.

Saya tentu saja tidak bisa menyalahkan jika Nyonya A tidak berterus terang sejak awal. Sebab, hal ini adalah hal yang sangat privasi. Kini, dia menghidupi dirinya dan seorang putri yang telah beranjak remaja. Mereka seperti sahabat karib. Sang mantan suami? Entahlah, tidak ada kabar sama sekali. Praktis, Nyonya A membesarkan putrinya dari hasil kerja kerasnya saja. Hingga belasan tahun setelah perceraiannya Nyonya A rupanya tidak berminat untuk menikah lagi. Atau mungkin ia belum menemukan sosok yang diimpikannya selama ini.

Setiap Tahun Bertambah
Tidak hanya Nyonya A, banyak pula perempuan lain yang berjuang dalam kesendiriannya. Menjadi orang tua tunggal karena perceraian, atau wafatnya pasangan. Tentu saja bukan hal yang mudah. Selain perubahan psikologi, juga ada perubahan status. Menjadi kepala rumah tangga untuk keluarganya. Menafkahi anak-anak.

Jumlah perempuan yang menjadi kepala keluarga ini atau yang biasa disebut sebagai Wanita Kepala Rumah Tangga (WKRT) meningkat dari tahun ke tahun. Tentu saja bukan sesuatu yang menggembirakan.

Sebab, akan banyak anak-anak yang harus merasakan perpisahan orang tuanya di usia dini. Namun inilah kenyataan yang sedang berlangsung dewasa ini. Padahal, kebanyakan perempuan ini bukanlah perempuan karir. Selain itu, banyak pula yang masih berkubang dalam kesedihan yang panjang.
 

Lalu bagaimana menghadapi semua ini?

Terima Kenyataan
Hal yang paling penting untuk dilakukan ketika menghadapi perceraian dan kesendirian adalah menerima kenyataan. Tawakal dan pasrah kepada ketetapan Allah. Tidak ada gunanya meratapi nasib atau menyalah sana-sini. memang, sangat berat dirasakan apalagi jika anak-anak masih kecil. Tentu saja berat, untuk menjadi ibu sekaligus ayah bagi mereka.

Namun, tahukah Anda jika ujian ini merupakan salah satu tangga yang disiapkan Allah agar bisa menjadi orang yang lebih baik lagi? Selalu terkandung hikmah dibalik cobaan dan ujian.

Saat Anda sudah siap untuk menerima kenyataan, maka kita akan siap untuk menempuh jalan panjang yang telah membentang di hadapan kita.

Sembuhkan Luka
Menyimpan kemarahan, atau kekecewaan secara mendalam hanya akan menggerogoti batin. Tidak ada gunanya menyesali nasib dan berusaha membuat pengandaian ini itu. Mari melihat mereka yang keadaannya lebih sulit dibandingkan kita.

Misalnya saja, seorang single parent di Surabaya berusaha menyembuhkan lukanya dengan menjadi relawan untuk kegiatan sosial. Setelah ia melihat seorang janda dengan 5 anak tinggal di sebuah gubuk yang reyot. Sungguh berbeda dengan dirinya yang bisa tinggal di rumah layak huni, dan memiliki pekerjaan tetap.

Berdamai dengan Diri Sendiri
Kesendirian seringkali membuat seseorang merasa tertohok. Sebelum menikah pun mungkin Anda pernah merasakannya. Saat harus bercerai dan berpisah dengan orang terkasih tentu saja menimbulkan luka hati yang perih. Kesepian pun menghantui.
Jika merasakan ini sebaiknya segera membuka diri dan berkomunikasi dengan teman ataupun keluarga. Sebab, kesepian biasanya dirasakan saat kita sering merenung dan melamun. Dengan membuka diri maka beban yang dirasakan pun akan lebih ringan.

Memaafkan Akan Lebih Baik
Tentu saja tidak mudah untuk memaafkan pasangan jika sebab perceraian karena perselingkuhan ataupun karena KDRT. Marah, sakit hati, dan dendam mungkin saja bersemayam. Namun, membiarkan hal ini berlarut-larut ternyata tidak akan mengubah keadaan. Cara untuk mengeliminasinya adalah pengendalian emosi yang lebih baik. Cobalah untuk membangun persepsi kehidupan yang positif.

Islam mempunyai banyak konsep mengenai hal ini. Misalnya saja hadis tentang keadaan orang beriman yang selalu baik. Apabila diberi kenikmatan bersyukur, sedangkan jika mendapatkan ujian akan bersabar. Kesabaran pun akan berbuah surga.

Siapkan Solusi Terbaik
Jika sudah mampu mengendalikan diri menerima kenyataan ini, maka hal yang bisa Anda lakukan selanjutnya adalah membuat solusi. Cobalah perhatikan kondisi Anda dan keluarga saat ini, cari alternatif solusi untuk setiap masalah. Misalnya saja keadaan ekonomi, jika dibutuhkan Anda bisa mencari pekerjaan ataupun mendirikan usaha.

Tak perlu malu untuk meminta bantuan rekan sejawat ataupun saudara, agar memberikan informasi pekerjaan. 

Memang tidak mudah menjadi orang tua tunggal atau single mom. Namun, dengan Allah tentu saja menyiapkan hikmah yang indah dari ujian ini. Insya Allah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Checklist dan Tips Persiapan Pernikahan Sederhana dan Islami

Broken Home Children: Benarkah Bermasalah di Masa Depan?

Kenali 6 Agenda Perawatan Kecantikan Pra Nikah Ini, Agar Kamu Tampil Cetar di Hari Pernikahan