Rambu-Rambu Ta’aruf yang Harus Diketahui Saat Kamu Mencari Jodoh


Sedang galau karena putus cinta? Oh, betapa menyedihkan jika itu terjadi. Namun sebagai jomblo berkualitas, kamu tentu tidak mau bukan berlarut dalam kesedihan yang panjang. Lagipula, ikhtiar mencari jodoh kan tidak lewat pacaran (seharusnya)?


Fakta yang Mengiris Hati
Eh, belum tahu ya. Yang pacaran selama 9 tahun saja tidak mesti menikah. Apalagi yang cuma beberapa bulan saja atau hitungan hari? Hehee. 

Nah, terus cari jodohnya bagaimana donk kalau nggak pacaran? Ehm, tahu nggak kalau orang-orang dulu jarang banget yang pacaran macam anak alay sekarang? Iyup, kebanyakan dijodohkan ya. Tapi, jangan langsung merasa nyesek dong kalau dengar kata perjodohan. Terkadang banyak yang langsung membayangkan penggalan novel Sitti Nurbaya besutan Marah Rusli ini. Perjodohan jadi berkesan kejam dan mirip-mirip siksaan Datuk Meringgih. Huaa.

Padahal, tidak ada paksaan lho untuk seorang gadis untuk menikah. Bahkan saat wali kita (ayah kandung, jika tidak ada maka saudara laki-laki, jika tidak ada paman) menyodorkan seorang calon suami, kalau tidak suka maka kita berhak menolaknya. Ini adalah hak perempuan lho. Seringkali banyak yang tidak memahami hal ini sehingga merasa bahwa jika kita dijodohkan maka tamatlah kebagiaan kita. Hiks.

Proses Taaruf
Lah, apa ta’aruf itu sama dengan perjodohan? Ehm, nggak juga sih. Ta'aruf dalam bahasa Arab artinya saling mengenal. Dalam tahap sebelum pernikahan, ta’aruf itu adalah proses saling mengenal antara ikhwan dan akhwat lewat proses yang sesuai syariat Islam. Artinya, tidak ada istilah pacaran dan kata cinta-cintaan selama proses tersebut. Biasanya prosesnya bisa lewat orang tua, ustad, ataupun teman. 

Setiap calon biasanya mengiriman biodata tertentu kemudian akan dihubungkan dengan calon yang sesuai dengan kriterianya. Setelah saling bertukar biodata dan merasa cocok untuk bertemu. Barulah masing-masing calon melakukan nadhor.

Nadhor artinya memandang. Jadi, kita juga harus bertemu dengan ikhwan atau akhwat yang sedang dalam proses ta’aruf bersama kita. Tidak ada istilah beli kucing dalam karung. Sebab, setelah bertemu dan difasilitasi oleh pihak ketiga kita bisa bertukar pandang secara terbatas.

Misalnya saja, mengenai visi dan misi pernikahan. Cita-cita dan harapan, serta hal-hal penting lain. Jika positif maka hal ini akan berlanjut ke tingkat serius yaitu khitbah (lamaran). Jika tidak cocok, maka berhenti sampai di sini saja. Tidak ada yang kata sakit hati bukan?


Ta’aruf Bukan Pacaran
Seringkali banyak juga proses ta’aruf yang ternyata malah menjurus pada proses pacaran. Atau istilah ekstrimnya ta’aruf berkedok pacaran. Seperti ketika seorang akhwat menerima pesan dari ikhwan di dalam inbox fesbuknya. 

“Assalamu’alaikum Ukhti, bolehkan ana berta’aruf dengan anti?”
Jelas saja pertanyaan ini mengguncang hati sang akhwat dengan rasa bahagia. Maka, sang akhwat dengan senang hati membalas.
Wa’alaikum salam Akhi, insya Allah.”

Nah, di hari-hari berikutnya inbox fesbuk dipenuhi dengan kalimat. 


“Sudah Shubuhan, Akhi?”

“Ukhti, sudah maem belum? Jaga kesehatan ya?” 
“Akhi, jangan lupa Sholat Tahajjud ya?”
“Hati-hati di jalan Ukhti. Ana nggak ingin anti kehujanan terus sakit.”
Uhuukkk. *Keselek sendok.

Mirip-mirip dengan aktivitas pacaran yah. Nah, kalau begini ta’aruf hanyalah sekedar kedok bukan? Tetap saja ada kata-kata mesra. Tetap saja ada rindu dan sebagainya.

Rambu-Rambu Ta’aruf
Jadi apa saja sebenarnya rambu-rambu ta’aruf dalam Islam? Sebab, ta’aruf bukan merupakan pernikahan yang dengannya akan halal sesuatu yang sebelumnya haram.

Ta’aruf dilakukan sebelum adanya ikatan pernikahan. 
Ta’aruf sendiri merupakan sebuah proses yang disebutkan sebagaimana hadis berikut ini.

Dari Anas bin Malik adalah Al Mughirah bin Syukbah menyatakan hendak menikahi seorang perempuan, kemudian Rasulullah Saw. bersabda kepadanya, “Cobalah engkau pergi kepadanya, lihatlah dia. Sebab hal itu akan menimbulkan kasih sayang serta kedekatan pada kalian berdua.” (HR. Ibnu Majah no. 1938, Syaikh Al Bani menyatakan bahwa hadis ini sahih).

Berikut ini merupakan rambu-rambu ta’aruf yang perlu diketahui.

  • Tidak berkhalwat (berduaan) 

Berkhalwat adalah berduaan saja antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram. Khalwat dilarang keras dalam Islam. Hal sebagaimana disebutkan berikut.
“Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ‘Tidak boleh seorang laki-laki dan perempuan berduaan saja kecuali sang perempuan ditemani oleh mahramnya.’” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • Tidak Melakukan Perbuatan yang Mendekatkan pada Zina

Selain dilarang untuk berkhalwat, Islam tidak memperkenankan pula seorang laki-laki dan perempuan melakukan tindakan yang kelak menjurus kepada zina.

Misalnya saja, bermesraan dengan kata-kata manis di dunia maya. Sebagaimana hadis berikut.

“Telah ditulis bagi tiap anak Adam bahagiannya dari zina , dia pasti akan melakukan, iaitu kedua-dua mata berzina dengan memandang , kedua telinga berzina dengan mendengar, lisan berzina dengan bercakap, tangan berzina dengan memegang , kaki berzina dengan melangkah, sementara hati berkeinginan dan berangan-angan , maka kemaluanlah yang membenarkannya atau mendustakannya.” ( Riwayat Bukhari )

  • Memberikan Informasi dengan Jujur

Ketika ta’aruf berlangsung tentu saja dituntut untuk memberikan informasi yang sesuai dengan keadaan kita. Sebab, jika kita memberikan informasi yang salah tentu saja ini adalah salah satu bentuk kebohongan yang jelas dilarang dalam Islam.
Sebaliknya, sebagai pihak yang sedang berta’aruf sebaiknya kita mencari dan ‘menyelidiki’ bagaimana calon pasangan lewat orang terpercaya misalnya teman ataupun keluarganya. Sehingga, kelak kita tidak menyesal jika mengetahui keadaan calon sesungguhnya.

  • Didampingi Orang Ketiga

Pihak yang mendampingi selama ta’aruf berlangsung haruslah ada. Sebab, tidak diperkenankan berkhalwat ataupun berikhtilat. Sebagaimana disebutkan sebelumnya, biasanya proses ta’aruf ini didampingi oleh wali (ayah), ustad, ataupun teman terpercaya.

Islam Memudahkan Jomblowan dan Jomblowati Menemukan Pasangannya
Tidak seperti saat ini, pada masa pemerintahan Islam, kaum muda difasilitasi untuk menikah dengan begitu mudah. Masyarakat juga berupaya untuk membantu para jomblowan ini menemukan pendamping hidup. Enak banget kan? Bahkan ayah dari seorang gadis selalu berjuang keras untuk menemukan calon suami terbaik bagi si anak. Hal ini sebagaimana diperintahkan Allah di dalam Al-Qur’an. 

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS.An-Nur [24]:32)

Ibnu Katsir di dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir menyatakan bahwa maksud dari menikahkan orang-orang yang sendirian, adalah Allah memotivasi mereka untuk menikah, Allah juga memerintahkan orang merdeka ataupun budak untuk menikah, dan Allah memberikan janji akan mengayakan mereka dengan menikah. 

Assadi di dalam tafsirnya kemudian menjelaskan maksud dari  ayat dengan arti “…… nikahkanlah orang-orang yang bersendirian …” adalah sebagai berikut.

“Allah memberikan perintah kepada para wali dan kepala keluarga untuk menikahkan setiap orang yang belum menikah. Yang berada di bawah perwaliannya, laki-laki ataupun perempuan, gadis ataupun janda. Maka wajib pula untuk keluarga (kerabat) anak yatim menikahkan mereka jika telah siap, yang wajib dinafkahi.”

Kalau sekarang, sepertinya urusan jodoh hanya serta merta menjadi tanggung jawab jomblowan. Maka, tak heran jika kaum lajang ini banyak menemukan kesulitan dalam menemukan pasangann hidupnya. Hiks.

Tapi, jangan khawatir, jika sudah berniat mencari jodoh untuk beribadah insya Allah dimudahkan oleh-Nya. Semangaat mblo! []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Checklist dan Tips Persiapan Pernikahan Sederhana dan Islami

Broken Home Children: Benarkah Bermasalah di Masa Depan?

Kenali 6 Agenda Perawatan Kecantikan Pra Nikah Ini, Agar Kamu Tampil Cetar di Hari Pernikahan