Pernikahan Dini atau Menikah Nanti: Kamu Pilih yang Mana?

Selepas Dhuhur, saya yang seperti biasa beraktivitas full time di rumah, sedang menunggu anak-anak pulang sekolah. Saya melihat bayangan siswi sekolah tempat mengajar dahulu. Aih, ternyata rindu juga berada di dalam kelas, hehe. Sembari menuntun sepedanya, siswi ini kemudian bersalaman dengan saya, lalu ia memberikan undangan bersampul hijau. 

Halaman sekolah menengah umum khusus putri, tempat saya mengajar dulu


Siswi-siswi ini kemudian ada bebeapa yang menikah dini

Saya kira itu undangan dari salah satu guru di sekolah yang hendak menikah. Eh, ternyata undangan dari murid yang lulus tahun kemarin. Tidak satu undangan, dua undangan. Sebab yang akan menikah adalah siswi kembar.

Kenapa saya kaget? Ya, usia anak-anak ini kan masih terbilang muda untuk saya. Mungkin sekitar 18 tahun. Bisa jadi malah masih berusia 17 tahun. Sangat muda. Kedua siswi kembar saya ini gemar mengikuti program tahfidz. Program tambahan di sekolah yang hanya diikuti oleh siswi yang mau saja.

Duhai, senang saya waktu mendengar mereka berhasil menghapal sekitar 8 juz. Di sebuah sekolah menengah umum tentu saja itu adalah hal yang luar biasa. Sering juga saya bercakap-cakap dengan mereka. Merancang masa depan. Keinginan mereka untuk kuliah di luar negeri mengambil Kajian Tafsir dan lain-lain mampu membuat saya bersemangat untuk berdiskusi lebih lanjut.

Wewenang Itu Ada di Pundak Suami
Namun, saat menerima undangan itu saya kaget. Lho kok cepat banget nikahnya? Hehe. Nggak tahu ya ada kakak-kakak kalian ada juga yang belum menikah juga? Hihihi. Kok malah menyalip dan menikung?

Bukan apa-apa sih. Terkadang ketika sudah menikah, kebebasan untuk melanjutkan kuliah ataupun beraktivitas untuk perempuan memang harus lewat suami. Yah, saya mengerti betapa berat beban seorang suami untuk mempertanggungjawabkan keluarganya di hadapan Allah. Sebab itu, ia memiliki kemuliaan-kemuliaan tersebut.

Tapi, saya rasa suami yang bijak tidak mungkin mengekang seorang istri yang ingin menuntut ilmu. Memang banyak juga yang saat bertaaruf memberi kebebasan istri untuk berkiprah di lingkungannya, namun seiring waktu terkadang hal itu berubah karena amanah mengasuh anak-anak dan mendidik mereka jauh lebih berat.

Pernikahan Dini yang Dinanti
Tetapi, sejatinya pernikahan yang sedang dan akan dilakukan oleh dua siswi kembar saya ini adalah pernikahan dini. Begitukah? Saya belum begitu mengerti sebatas manakah kata ‘dini’ yang dimaksud. Menurut saya, usia belasan tahun dan menikah adalah salah satu dari pernikahan dini. Apalagi kalau suaminya masih 19 tahun, alamaaakkk. Kok kayak manten-mantenan?
 

Boleh percaya boleh tidak. Di kota kecil saya yang tercinta ini, ada daerah yang memiliki usia pernikahan dini cukup tinggi. Itu kalau tidak dikatakan sudah biasa. Di daerah tersebut, usia 20 tahun sudah terlalu tua untuk seorang gadis? Halooo, padahal saya menulis artikel ini di tahun 2015. Bukan di tahun pasca kemerdekaan RI, *halah.

Bahkan beberapa mempelai menikah selepas lulus SMP. Nah, lho? Bagaimana dong? Jadi, usia belasan seperti siswi kembar saya tadi dinilai sangat cukup untuk menikah di daerah tersebut. Padahal, orang tua mereka termasuk kaum berada lho. Lebih dari cukup lah untuk mengirim dua anak ini ke LN, kalau mau ya.

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan Jika Kamu Ingin Menikah Dini

Nah, berapa umurmu sekarang? 

Huss, nggak boleh ngeles ya. Kalau sudah cukup umur (khususnya buat para ikhwan) kenapa tidak melemparkan panah untuk bertaaruf. Atau untuk mencari istri bagi anak-anak kalian kelak? Masak kalah sama mereka yang berani mengambil risiko menikah dini?

Jika usia menikah dini memang relatif, karena tidak adanya penentu yang pasti. Maka mari kita berkaca pada beberapa hal berikut ini.

1. Islam Tidak Melarang Nikah Dini

Adapun batasan untuk menikah dini sebenarnya tidak ada. Hanya saja, seharusnya kedua mempelai telah mencapai akil baligh dan merupakan syabab. Apa itu syabab? Syabab adalah pemuda. Tidak semua pemuda dianjurkan untuk menikah dini. Hanya bagi mereka yang sanggup dan bertekad untuk berjuang. 

Syabab sendiri adalah masa akil baligh hingga usia 30 tahun, tidak melewati itu. Sebab itulah nikah dini di kalangan sahabat banyak terjadi. Contoh yang paling utama adalah pernikahan Aisyah ra. 

Jadi, sebenarnya nikah dini itu tidaklah dilarang. Justru jika memang sudah siap maka hal tersebut dianjurkan.

Sebagaimana hadis berikut ini. 

“Wahai para Pemuda, jika diantara kalian ada yang telah mampu dan sanggup untuk menikah. Maka menikahlah! Sebab hal ini akan menundukkan pandanganmu dan sekaligus menjaga kemaluan. Namun, bagi siapa saja yang merasa belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa untuk menahan hawa nafsunya.” (HR. Bukhari)

Dari hadis tersebut, kita bisa memahami jika menikah dini dianjurkan untuk pemuda. Apabila telah mencapai masa kesiapannya. 

2. Kesiapan Termasuk dalam Memahami Hukum-Hukum Allah

Yap, hal ini penting banget. Bukan hanya sekedar ingin nyunnah kemudian secara terburu-buru hendak menikah, tanpa kesiapan apa-apa. Namun, harus membekali diri dengan ilmu dan juga kesiapan mental. 

Menikah memang indah untuk sehari semalam, ataupun ketika honeymoon sedang kita nikmati. Namun, setelahnya kita juga harus mampu beradaptasi dengan pasangan. Saling menjaga dan menghormati. Saling belajar satu dengan lainnya. 
Jangan sampai pernikahan bisa diakhiri hanya gegara pertengkaran sepele, atau ketidaksiapan mental dari suami dan istri. 

Nah, inilah hal yang saya khawatirkan terjadi pada siswi saya tersebut. Semoga Allah menjaga mereka berdua, dan melimpahi pernikahannya dengan keberkahan. 

3. Menikah Muda Bukan Karena Terpaksa

Berapa banyak kasus married by accident terjadi di negeri antah berantah ini? Oh, sebagai pendidik saya tahu pasti bagaimana rasanya pernah menemukan darah aborsi di kamar mandi siswi. 

Menyakitkan dan membuat saya merasa terluka sekaligus terhina. Apa artinya mengkaji kitab-kitab Allah di dalam kelas? Bermesraan dengan ayat-ayat-Nya yang mulia?

Banyak ditemukan pernikahan dini terjadi karena pergaulan bebas. Pacaran hingga bablas kemana-mana dan menghasilkan anak di luar nikah. Jika demikian, di mana letak sunnah dan kemuliaan itu? 

Pernikahan dini yang terjadi karena adanya pergaulan bebas ini, jelas tidak syah jika dilakukan ketika mempelai perempuan dalam keadaan hamil. Harusnya menunggu hingga anak dilahirkan baru kemudian menikah agar pernikahannya syah. 

Seingat saya, masyarakat kita malah mensyaratkan jika terjadi kehamilan di luar nikah, buru-buru dinikahkan begitu saja. Tanpa menunggu hingga bayi lahir. Ayah saya termasuk yang paling rajin meng-akad-kan ulang mempelai bermasalah ini. Jadi setelah si bayi lahir, kembali digelar proses akad nikah kembali. Sebab, jika pernikahan tidak syah kasihan dong status mereka. Zina terus malahan. 

4. Menikah Dini Lebih Bisa Menjaga Syahwat

Pornografi adalah salah satu momok menakutkan di abad ini. Apalagi penetrasi internet semakin menjadi-jadi. Maka tidak heran, jika banyak generasi bangsa ini kecanduan hal-hal porno sejak dini. Naudzubillahi min dzalik. 

Hal-hal ini tentunya meresahkan bukan? Menikah dini memang solusi bagi mereka yang kesulitan menjaga syahwatnya. Dengan menikah dini, diri lebih terjaga dari paparan dosa syahwat. 

Menikah dini, juga membuatnya menjauhi rasa penasaran dengan produk-produk pornografi yang terlaknat itu. 

Menikah Dini Ataupun Menikah Nanti Sama-Sama Keren

Ya. Apalagi yang tidak keren selain seorang pemuda yang berani mencintai dan berani pula menikahi? Tidak asal menggombal nggak karuan dengan lawan jenis. Tebar jala pesona di sana-sini.

Pun demikian dengan si akhwat. Tidak sibuk selfie sana-sini. Dan posting foto diri tiap lima menit di beranda fesbuk untuk menarik sang kumbang. Tapi juga berani pula mengambil langkah untuk menjejak di pelaminan dengan serius.

Jadi?

Ya. Sama-sama utama. Menikah dini dengan kesiapan yang cukup jauh lebih mulia ketimbang menikah nanti namun tak jadi-jadi. *eeeehhh

Demikian halnya menikah nanti. Ia akan lebih mulia ketimbang menikah dini yang terjadi tanpa ilmu dan terkesan dipaksakan. Dan ujung-ujungnya ancaman jurang perceraian.  []



Pernikahan Dini atau Menikah Nanti: Kamu Pilih yang Mana?