Ketika Pasangan Berperilaku Buruk


Merasa sebal dengan kebiasaan pasangan yang kurang baik? Semua orang pasti merasakannya. Pasangan suami istri tidaklah lagi seperti anak ABG yang baru mulai pacaran. Semua serba wangi. Serba baik. Serba manis. 

Semangat saling memperbaiki adalah cara lain menjaga cinta tetap ada

Kita bangun tidur melihat  pasangan. Sedangkan pasangan kita belum mandi, masih bau iler,  rambut awut-awutan, ataupun lainnya.

Yah, tentu saja tidak sama dengan jalan panjang pacaran yang tanpa arah. Sebab pernikahan memang ibadah. Perlu banyak ilmu untuk memantapkan kualitas pernikahan yang sedang kita jalani menjadi jauh lebih baik lagi. 


Lalu, bagaimana dengan kebiasaan buruk pasangan? Apa harus dimaklumi saja seraya memendam rasa sebal dan tertekan dalam hati? Atau diluapkan saja seperti desingan peluru?

Konon, jika tidak bisa mengatasinya dengan baik, bisa jadi salah satu dari pasangan akan mengalami kekerasan fisik ataupun psikis. Hal ini tentunya akan berimbas pada kesehatan mental.

Meluaskan Ambang Toleransi 
Dua pribadi yang berbeda karakter dan lingkungan tentu saja memiliki banyak hal agar bisa seiring sejalan. Pola pendidikan dari rumah, kebiasaan, hobi, ataupun hal lainnya terungkap justru setelah kita menikah.

Tentu saja hal yang paling bijaksana adalah kita bisa bersikap toleran terhadap kebiasaan pasangan yang kadang membuat kita sebal. Ini bisa dilakukan dengan meluaskan ambang toleransi. Semakin luas ambang toleransi yang bisa kita lakukan, maka semakin banyak hal-hal buruk yang nantinya bisa kita atasi bersama.

Misalnya saja kebiasaan mendengkur. Tentu ada yang kaget kenapa pasangan bisa mendengkur demikian keras, sehingga kita kesulitan untuk tidur.

Langkah awal yang bisa dilakukan adalah memahami bahwa kebiasaan itu mungkin sudah lama dimiliki oleh pasangan. Langkah kedua, membicarakannya dengan baik-baik. Sebab, bisa jadi ada ganggungan kesehatan yang dimiliki pasangan. Sehingga harus diperiksa oleh tenaga kesehatan.


Mengomel tak jelas seraya memaki-maki pasangan karena kebiasaannya mendengkur, tentu sangatlah tidak bijaksana. Ini akan membuat pasangan kehilangan harga diri dan merasa terhina. Ujung-ujungnya bisa berimbas pada percekcokan.


Dua tahun pernikahan adalah masa yang paling berat untuk beradaptasi satu dengan lainnya. Ada kekagetan melihat kebiasaan pasangan seperti pelupa, pelit, suka mengantuk, teledor, jorok, dan lain sebagainya.

Menyadari bahwa setiap pribadi bukanlah karakter yang sempurna akan memudahkan kita untuk memahami bahwa hal ini bisa saja dimiliki oleh pasangan. Sehingga kita tidak akan merasa kecewa dan terluka.

Keluwesan dan ambang toleransi yang tinggi akan memudahkan kita untuk memaklumi sisi minus pasangan. Seiring berjalannya waktu tentu saja hal ini akan membuat kita bisa beradaptasi dengannya lebih baik lagi.
 

Saling Memperbaiki Diri 
Pernikahan adalah proses untuk memperbaiki diri satu sama lain. Misalnya saja, pasangan yang senang mengakhirkan shalat lima waktu, sementara yang lain lebih suka untuk mengerjakannya di awal waktu.

Sinergi keduanya akan membuat kualitas shalat lima waktunya menjadi lebih baik lagi. Mengerjakannya di awal waktu. Tentu saja hal ini akan terjadi jika ada keluasan hati dan kemampuan untuk memperbaiki diri dengan baik.

Kebiasaan buruk lain yang perlu diperbaiki adalah misalnya suami gemar menonton film v*lgar. Tentu saja hal ini sangatlah menganggu dan juga tidak bisa dibenarkan oleh syariat. Sebagai istri yang baik, kita bisa membantunya untuk keluar dari kebiasaan buruknya tersebut.

Selain membicarakannya dengan suami, mengajaknya berdiskusi, alangkah baiknya jika mengajaknya untuk melakukan terapi spesifik pada psikolog.

Hal ini perlu dilakukan karena kecanduan pada film-film laknat ini bisa merusak bagian saraf otak dan membuat lebih rusak ketimbang adiksi terhadap zat terlarang.

Setelah enam bulan, bisa jadi dengan kesungguhan dan doa dari masing-masing, kebiasaan tersebut bisa menghilang. Si suami akhirnya terbebas dari kebiasaan buruknya.

Langkah untuk Mengubah Kebiasaan Buruk Pasangan
Seburuk apapun kebiasaan bisa diubah jika kita menginginkannya. Jika kebiasaan buruk itu sangatlah parah, kita bisa melibatkan tenaga professional untuk membantu pasangan keluar dari kebiasaan negatif ini.

Sedangkan jika tidak terlalu parah, tentu saja kita bisa membantunya perlahan untuk menghilangkannya.

Daripada ngomel dan berkeluh kesah, beberapa hal ini bisa kita lakukan.

Mengkomunikasikan perasaan kita pada pasangan tentang sikap buruknya tersebut. Carilah waktu dan tempat yang tepat untuk mengkomunikasikannya secara baik.

Tetap jaga harga dirinya. Jangan menegurnya di tempat umum, sebab hal ini bisa meruntuhkan harga dirinya. Lakukan secara perlahan dan santun.

Budayakan semangat saling memperbaiki setiap hari. Sehingga kita bisa belajar banyak dari pasangan.

Sampaikan dengan kalimat yang tepat dan jauhkan dari unsur menghakimi. Misalnya saja kebiasaan suami yang suka ugal-ugalan saat mengendarai motor ataupun mobil. 

Coba katakan, “Aku sering banget khawatir kalau kamu bawa motornya seperti itu.” Jangan mengatakan, “Kamu ini kalau bawa motor jangan ngebut dong, aku kan gak bisa tenang!”

Ketika pasangan sudah berhasil sedikit demi sedikit mengurangi kebiasaan buruknya. Segera beri hadiah ataupun reward. Seperti memujinya, menyajikan makanan kesukaannya, hingga memberinya perlakuan mesra. 

Hidupkan terus semangat saling memperbaiki diri. Sebab kita pun juga manusia yang tentunya memiliki kebiasaan minus. Tanya pasangan hal apa yang perlu kita perbaiki. Jangan pula melakukan kebiasaan yang tidak disukai pasangan. Belajarlah pula untuk menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. []

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Checklist dan Tips Persiapan Pernikahan Sederhana dan Islami

Broken Home Children: Benarkah Bermasalah di Masa Depan?

Kenali 6 Agenda Perawatan Kecantikan Pra Nikah Ini, Agar Kamu Tampil Cetar di Hari Pernikahan