Kupinang Engkau dengan Avanza


Pinang-meminang. 

Kata itu seperti hantu gentayangan saat saya masih menyandang status jomblo. Yup, siapapun yang sudah menikah pernah menyandang status membanggakan ini bukan?

Walaupun pertama kali mendengar kata sakti itu ingatan saya langsung melayang pada acara Panjat Pinang saat hajatan 17 Agustus digelar. Kata-kata sakti yang juga terkadang bikin sakit gigi kalau tidak mau dikatakan sakit hati. 


Apalagi jika teman-teman seangkatan kita perlahan sirna dari peredaran karena sibuk berkeluarga. Sibuk urus anak, urus istri ataupun suami. Jadilah hati yang serupa gumpalan jelly ini terkoyak-koyak perih. *eeeeh

Kupinang Engkau yang ‘Available’
Masih jelas kenangan saya dengan kata-kata ini. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas 6 Pesantren Persis Bangil. Setara dengan kelas XII kalau sekarang. Teman sekamar saya, yang super pinter tetiba menunjukkan sebuah buku bersampul abu keunguan dengan judul “Kupinang Engkau dengan Hamdalah.”

Eh, bisa ya? Begitu pikir saya secara spontan. Enak banget bisa nikah pakai hamdalah doang. Oh, ternyata itu hanya kiasan saja. Hehe. Buku ini cukup bagus membahas tentang ini itu pra pernikahan.

Saat itulah saya mengenal Muhammad Fauzil Adhim sang penulis buku-buku seri pernikahan. Kebetulan editornya adalah kakak dari teman sekamar saya. Buku legendaris itupun ternyata laku keras di pasar. Sudah cetak berulang kali walaupun pindah kamar penerbit.

Kini, ada pula penulis yang membuat judul artikel “Kupinang Engkau dengan Avanza” alasannya jelas. Perempuan tahu bedanya naik Supra dan Avanza. Walaupun sama-sama naik kendaraan tentu saja rasanya beda. Gengsinya juga beda kan mbak? Hehe. Artikel ini pun konon juga bagus membelah tentang persepsi pernikahan di kedua sisi. Antara pihak akhwat dan ikhwan.

Nah kini, bagaimana menurut Anda? Menikah haruskah dengan berbekal Avanza?

Menikah Bukan Transaksi Orang Kaya
Setahu saya, menikah harus dengan ikhwan ataupun akhwat yang available alias jomblo. Bukan dengan status berganda. Telah menikah, dan masih ingin menikah (hehe). Tentu juga tidak meniadakan sisi-sisi lain seperti menakar agama, kemampuan, nasab, dan ilmunya dengan baik. Walaupun, setahu saya tetaplah ukuran agama adalah yang terbaik. 
Mengapa?

Ok, ini bersifat subjektif. Setahu saya, harta akan musnah, nasab juga tidak mesti menjamin seseorang itu akan menjadi imam ataupun ibu terbaik bagi anak-anak kita, kalau ilmu bagaimana? Jelas ilmu lebih abadi apalagi jika diamalkan dengan ahsan. Namun, agama dan pemahaman seseorang yang baik bisa menjadi ukuran terbaik untuk bekal menikah. 
Tentu saja, ada pula yang menakarnya dengan hal lain seperti kemampuan menafkahi (sudah mapan).

Saya tentu tidak bisa menyalahkan jika ada akhwat yang menginginkan suami yang bisa menafkahi dengan layak, sebab itu adalah hak seorang istri. Suami memang dituntut untuk bisa menafkahi istrinya dengan makruf (baik).

Namun, sekali lagi, tentu kita harus mendudukkannya dengan porsi yang tepat. Alangkah idealnya jika bukan status mapan saja yang dituntut tapi pemahaman berusaha menafkahi dengan layak dan baik. Status mapan rawan terkena PHK, apalagi di zaman yang bekerja saja sudah susah nyarinya. Mungkin sekarang seseorang mendapatkan calon suami kerja di sebuah perusahaan asing dengan gaji yang berderet-deret. Namun, ketika masa PHK tiba dan saat itu anak sudah dua apa yang akan engkau lakukan jika tidak memiliki kemampuan menakar takdir terbaik?

Atau saat ini, datanglah seseorang dengan status ‘mencari rezeki halal di mana saja.’ Tidak keren, karena bukan karyawan perusahaan asing, dan lebih dekat dengan status serabutan. Namun, siapa sangka jika kelak ia menjadi pengusaha online dengan gaji dollar lebih dari tujuh digit per-bulan?

Percayalah, menikah itu adalah keajaiban untuk mendatangkan rezeki yang tak disangka-sangka. Allah Yang Maha Kaya akan menjaminmu dan keluarga. Jika belum percaya pada Allah, bagaimana mungkin Dia Yang Maha Kuasa mengabulkan doa-doamu?

Menikahlah Karena Ingin Beribadah
Meminang bukan perkara mudah. Tapi juga tidaklah sulit. Asal, tidak perlu membuat hati sempit dengan menggantungkan kebahagiaan pada seseorang.

“Ya Allah, tolong berikan jodoh yang terbaik. Kalau bisa dia yang di ujung sana. Kalau tidak bisa, coba cek kembali. Insya Allah dengan kuasa-Mu bisa ya Allah.”

Lah, kalau ini mah namanya memaksa kehendak Allah ya. Hihi.

Kalau keyakinan kita Allah adalah pemilik takdir terbaik. Gantungkan saja dengan kehendak Allah. Dia Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita. Toh, ukuran kebagiaan sekarang dan nanti bisa berbeda bukan?

Tahukah Engkau jika Allah lah pemilik skenario terindah? 
Mungkin yang sekarang kita alami dirasakan sangatlah pahit, wahai para ikhwan. Sudah berusaha mati-matian eh ditolak hanya gara-gara tidak bawa Avanza. Hehe. Tapi, kelak kita akan tahu ada hikmah terpendam di balik itu semua.
 

Menikah Bukan Hanya dengan Hitungan Materi
Saya yakin, hitung-menghitung materi juga diperlukan untuk kesiapan menikah. Tapi, tidak hanya itu saja. Masih banyak pula sisi-sisi lainnya yang perlu diupayakan. Sebab, sekali lagi wahai para akhwat, menikah itu ibadah yang sakral.

Dia lebih agung ketimbang nominal angka yang tertera di tabungan. 
Dia lebih indah ketimbang ingatan kita saat membaca novel-novel pernikahan.
Dia lebih seru dibandingkan saat kita menonton film-film action.

Menikah adalah jalan lain membangun peradaban. Meneruskan estafet generasi dengan lahirnya generasi-generasi Rabbani yang kelak kita persembahkan untuk kejayaan Islam dan negeri ini.

Sebab, itu haruskah kita ukur hanya dengan Avanza saja?

Haruskah semurah itu, jika engkau kelak bisa saja mendapatkan Mercedes Benz E-Class atapun Porsche Macan? 

Kupinang Engkau dengan Avanza