Semakin Mesra di Bulan Mulia

 


Ramadhan telah datang. Tamu agung itu mengetuk pintu reyot rumah kita yang mungkin nyaris ambruk senja itu. Menawarkan hidangan lezat di sebuah nampan bernama hikmah. Puasa, Shalat Tarawih, tilawah, i’tikaf, hingga zakat, adalah secuil menu di atasnya. Akankah hidangan lezat ini kita santap bersama keluarga? 



 

Lain Dulu, Lain Sekarang
Ada yang berbeda dengan Ramadhan di era digital ini. Jika dahulu, di masa belum penuh dengan gadget yang menawarkan seabrek aplikasi agar pengguna eksis di dunia maya, acara berbuka tampak hangat dan mesra. Hidangan dikelilingi oleh wajah-wajah bersyukur karena adzan telah berkumandang. Puasa hari itu telah tuntas. Saling sapa, saling tegur, bahkan melempar senyum sekaligus candaan. Disusul dengan kebersamaan untuk melaksanakan shalat wajib dan tarawih. Tilawah berkumandang hingga malam di sudut-sudut mushallah. Dini hari, aggota keluarga saling membangunkan. Menyantap hidangan dipenuhi kehangatan dan energy Ramadhan. Suasana terbangun begitu indah, dan syahdu. Tapi, saat ini mungkin berbeda.


Dengan gadget yang telah dibeli sekian juta, rasanya rugi jika tak mengunggah menu hari itu. mengucapkan selamat berbuka dengan mengirim pesan yang di-broadcast hingga sekian puluh jumlahnya. Atau dengan setia memasang status f*sbuk berbunyi tema yang sama, ‘selamat berbuka.’ Lalu bagaimana dengan orang-orang di sekeliling hidangan? Ah, sepertinya bunyi gadget lebih penting dibandingkan mereka. Dunia maya telah menarik sebagian jiwa manusia hingga separuh nyata, dan tampak hanya avatar hidup saja. 


Mungkin ada yang lebih mengenaskan lagi. Acara bukber (buka bersama) teman-teman sepengajian yang digagas jauh-jauh hari ternyata tidak menghalangi eksistensi seseorang dari sosial media. Obrolan antar rekan pengajian, tidak lebih penting dari saling berkirim pesan di B*M. Ataupun membalas sapaan hangat dengan kartun-kartun lucu di L*ne. nah, jika begini untuk apa jauh-jauh mendatangi acara buka bersama ataupun sahur bersama? Yang jauh dekat di hati, sedangkan yang dekat malah terasa jauh. 


Beberapa keluarga mungkin malah menganggap bahwa Ramadhan sama saja seperti bulan-bulan lainnya. Tidak ada yang istimewa selain pergantian jam makan, dan sesekali datang ke masjid untuk setor muka, dan memasang status “Alhamdulillah, sudah tarawih. Sejuk banget.”


Individualis Semakin Mengikis
Tidak bisa kita pungkiri, bahwa paham individualis telah menjadi-jadi di era ini. Sebagian besar orang tampak lebih sibuk mengurusi diri sendiri, seabrek kegiatan maya dan nyata. Orang tua sibuk. Anak-anak malah lebih sibuk lagi. jarang kita temukan sebuah keluarga rutin melakukan shalat berjamaah. Atau orang tua mengajari anak mereka sendiri untuk membaca belajar dan mengkaji Al-Qur’an. Kebanyakan diserahkan pada TPA setempat. 


Ditambah dengan tekanan hidup yang terasa semakin menyesakkan. Membuat setiap orang harus pusing tujuh keliling memikirkan hal ini dan itu. Mencari sesuap nasi terasa seperti mencari berlian. Tidak ada lagi aura Ramadhan yang dipenuhi dengan kehangatan, dan kesejukan bersama keluarga. Baik suami maupun istri malah tenggelam dalam dunia masing-masing.
Padahal sejatinya, momen paling menakjubkan adalah kala Ramadhan mengunjungi rumah kita. Selama berbulan-bulan kita sibuk dengan berbagai urusan hingga melupakan kesehatan ruhani kita. Di bulan mulia, inilah seharusnya momen kebersamaan itu dibangun. 


Makin Mesra di Bulan Mulia
Siapa bilang Ramadhan membuat pasangan semakin jauh? Justru di bulan inilah, kebersamaan dan kemesraan bisa dibangun lebih baik lagi. Beberapa hadis menceritakan bagaimana sikap Rasulullah Saw. kepada istri-istri beliau di bulan Ramadhan. 


“Aisyah berkata, ‘Rasulullah Saw. menciumku, kemudian beliau pergi ke masjid untuk shalat tanpa memperbaharui wudhu.’” (Hadits Sahih, riwayat Abdurrazaq [1/153], Ibnu Majah, Ad-Daruquthni, dan At-Thabrani). 


“Dari Aisyah ia berkata, adalah Nabi Saw. mencium padahal ia berpuasa dan memeluk padahal ia berpuasa. Namun, ia adalah orang yang paling bisa menahan nafsunya di antara kalian.” (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim). 


Rasulullah Saw. teladan yang mulia mencontohkan bagaimana sikap beliau terhadap istri-istrinya. Beliau tetap menjaga kehangatan dan kemesraan. Tidak ada alasan untuk semakin jauh dari pasangan tatkala bulan Ramadhan datang. Dengan alasan ingin total menjalankan berbagai macam ibadah. Justru di bulan inilah, kita bisa mempererat hubungan dengan pasangan menjadi jauh lebih baik lagi.
Untuk itu, kita dan pasangan memerlukan kerjasama dan planning yang telah disepakati. Usahakan untuk membicarakan hal ini jauh-jauh hari. Bangun pula suasana dari hati ke hati, sehingga pembicaraan hangat akan mengalir bukan sekedar diskusi membosankan layaknya rapat dengan atasan. Susunlah jadwal untuk mengunjungi sanak saudara, ifthar bersama keluarga besar, dan jangan lupa untuk meluangkan untuk berbuka berdua saja di tempat favorit. 


Selain itu, jalin kerjasama agar suami dan istri bisa menjalankan ibadah semaksimal mungkin. Berilah kesempatan pada pasangan kita untuk mereguk nikmatnya beribadah. Jangan hanya asyik mengejar pahala sendiri, sementara pasangan terseok-seok dengan rutinitas tak henti-henti. Misalnya suami asyik mengejar pahala dengan rentetan ibadah, sementara si istri terseret dalam harmoni dapur dan tetek bengeknya yang tak henti-henti. 


Suasana untuk mengejar pahala sebanyak mungkin memang sangat terasa di bulan mulia ini. Terkesana agak individualis, agar mendapatkan pahala sebanyak mungkin. Namun, membantu rutinitas istri dalam menyiapkan berbuka, ataupun sahur, serta membantu buah hati untuk berlatih berpuasa, merupakan amalan terpuji sekaligus menambah kehangatan dengan keluarga. Inilah bukti dari pengorbanan. Bukankah berkorban untuk orang yang kita cintai merupakan hal yang indah? 


Ajak Buah Hati Berlatih Berpuasa Sejak Dini
Mengajak si kecil yang telah memasuki usia 3 tahun untuk berpuasa adalah hal yang sah-sah saja. Di usia itu anak telah mengerti tentang pembiasaan. Tidak perlu terlalu kaku untuk menetapkan target. Ajak si kecil untuk bangun kala waktu sahur, dan hidangkan menu berbuka di hadapannya.
Ajak pula si kecil untuk memahami arti puasa, dan Ramadhan. Misalnya dengan ramai-ramai membuat kartu-kartu lucu selamat berpuasa. Ataupun bisa memasang poster di beberapa tempat. Ketika menyusun menu berbuka, libatkan anak agar turut serta. Ia akan semakin termotivasi untuk berpuasa seperti anggota keluarga yang lain.


 Teladan yang ada pada lingkungan terdekat merupakan hal yang sangat penting untuk menumbuhkan ketaatan buah hati pada syariat. Jika ia melihat orang tua, ataupun kakak-kakaknya beribadah dengan sangat baik di bulan mulia ini, tentu saja ia akan merekam semua itu dalam ingatan terdalamnya.
Berlatih menahan diri dari makan dan minum untuk beberapa jam tertentu bagi anak adalah untuk memotivasinya berpuasa. Jika sebelumnya, si kecil hanya bisa menahan diri sampai jam 9 saja, coba tingkatkan hingga jam 12. Bisa pula di atur dengan cara membagi beberapa jam untuk snack time. Misalnya di jam 9 dan 4, anak-anak boleh mengudap. 


Terkadang, anak akan sangat rewel dan merengek untuk makan ataupun minum di jam-jam terntentu. Saat itu, ajaklah anak agar bisa beraktivitas lain. Misalnya saja dengan mendongeng, menonton VCD islami, membaca buku, membuat prakarya.


 Di hari libur, saat ayah bisa seharian di rumah, anak-anak bisa ngabuburit ke toko buku ataupun ke tempat-tempat lainnya. Ayah bisa membantu ibu mengasuh mereka sementara waktu. Selanjutnya diteruskan dengan berbuka puasa, dengan aturan “Tanpa gadget selama berbuka dari pukul ini hingga ini.” Tentu saja setelah kita berdiskusi bersama anak, betapa penting membisukan gadget pada saat-saat tertentu. Tentu kita tidak mau, benda mati itu menjajah masa emas kita bersama keluarga bukan? [Puspita RM @oase_hati]
   

Semakin Mesra di Bulan Mulia